Editors Meeting (1) : BIRU Targetkan Bangun 100 Ribu Reaktor Biogas

JAKARTA. Para mitra program Biogas Rumah (BIRU) hingga September 2018 sudah membangun 23.079 unit reaktor biogas yang tersebar di 10 provinsi, dan di Provinsi Bali sendiri saat ini sudah terbangun 1.196 reaktor biogas. “Untuk menciptakan pasar biogas rumah, dan berkontribusi terhadap bauran energi terbarukan dengan lebih signifikan, Rumah Energi mentargetkan 100,000 digester melalui program Biogas Rumah,� kata Executive Director of Rumah Energi Lina M. Moeis saat Editor Meeting di Jakarta, Senin (19/11).

Editor Meeting membicarakan upaya mendorong peran sektor biogas rumah dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Selain Lina, hadir sebagai pembicara Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, Technical Specialist Rumah Energi Agung Lenggono, West Java, Banten, Lampung Koordinator Yudha Hartanto, dan CEO of Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro.

Lina mengatakan, sejak program biogas dimulai tahun 2009 dan hinggga September 2018 sudah terbangun 23.079 unit yang tersebar di sepuluh provinsi terdiri dari 130 kabupaten, 906 kecamatan, dan 1.756 desa. Program ini sudah dimanfaatkan 109.687 keluarga mulai dari Lampung, Jabar & Banten, Jateng & DI Yogyakarta, Jatim, Bali, NTB, NTT, dan Sulsel. “Selama ini, 95 persen penduduk Indonesia masih menggunakan energi konvensional, sedangkan 5 persen baru menggunakan energi terbarukan. Sekitar 1 juta orang berpotensi menggunakan biogas,� kata Lina.

Lina mengatakan, salah satu tantangan dalam pengembangan energi terbarukan adalah dukungan teknologi yang baru, bersih dan efisien, dimana Indonesia masih bergantung pada teknologi dan peralatan impor. Padahal bahan baku untuk bioenergi tersedia dalam volume yang cukup besar di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia perlu fokus pada penelitian dan pengembangan sumber energi terbarukan dengan teknologi yang mudah dioperasikan, dengan peralatan sederhana.

Selama 25 tahun terakhir, kata Lina, biogas rumah telah mulai secara luas di Asia. Teknologi yang digunakan sangat ramah sosial, teknis dan lingkugan. Penerapan teknologi biogas di Nepal dan Vietnam diakui sebagai sebuah kesuksesan oleh negara-negara seperti Cina, India, dan negara-negara Asia lainnya yang juga menerapkan teknologi biogas.

Keberhasilan perbanyakan biogas rumah di negara-negara ini karena ada pendekatan program yang berbasis pasar, melibatkan semua pemangku kepentingan dan penekanan pada kontrol kualitas. “Manfaat langsung dari program tersebut termasuk peningkatan status perempuan dan peningkatan kesejahteraan keluarga pengguna,� paparnya.

Sebelumnya, Program Manager Green Energy Hivos Southeast Asia Laily Syukriyah Himayati mengatakan, penggunaan biogas di Indonesia untuk rumah tangga mulai diperkenalkan melalui program Biogas Rumah/BIRU yang mulanya dilaksanakan oleh Hivos, dan sejak tahun 2013 dilakukan oleh Rumah Energi yang masih didukung oleh Hivos.

Pendekatan berbasis pasar yang menekankan faktor kualitas untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap teknologi ini, jelas Laily, dilakukan oleh Rumah Energi secara konsisten, dana carbon dimanfaatkan sebagai insentif atau subsidi agar kualitas reaktor tetap dijaga.

Ia mengatakan, tantangan untuk mendapatkan keyakinan masyarakat akan teknologi biogas dilakukan melalui kampanye peranan biogas dalam meningkatkan akses masyarakat pada energi bersih dan pemanfaatan produk turunannya berupa bioslurry yang bermanfaat untuk sektor pertanian.

Untuk mendorong perluasan pasar biogas dibutuhkan sosialisasi secara masif tentang manfaat dan pentingnya energi alternatif ini sebagai pengganti energi fossil. Ia berharap  dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah untuk mendukung  pengembangan energi terbarukan khususnya biogas yang berkelanjutan. (son)

22 November 2018