Pemanfaatan Biogas untuk Pertanian Terpadu yang Berkelanjutan

8 Februari 2018

Bapak Heru Purnomo adalah salah satu pengguna biogas komunal yang tinggal di sebuah rumah semi permanen bersama dengan istri dan satu orang anak di Dusun Mintorogo RT 27, Desa Tangkit Lama, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kebetulan beliau adalah salah satu perangkat desa yang dipercayai oleh Kepala Desa setempat sebagai ketua RT di Dusun Mintorogo.

Dalam kesehariannya beliau adalah seorang petani sayuran dan peternak penggemukan sapi. Luas lahan yang digarapnya kurang lebih sekitar 20 tumbuk (1 tumbuk = 10 m2), dan beliau dipercaya memelihara 7 ekor sapi dari seseorang yang memberikannya ternak sapi dengan sistem bagi hasil.

Beliau juga berperan sebagai ketua kelompok pengguna biogas komunal, penerima bantuan proyek kerja sama pembangunan instalasi biogas dari Netherlands Development Organisation (SNV) dan Rumah Energi yang didanai oleh Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-I). Proyek kerja sama ini secara keseluruhan membangun 7 unit reaktor biogas ukuran 30 m3 (skala medium) di wilayah kecamatan setempat. Ketujuh biogas ini dikelola oleh masyarakat melalui kelompok-kelompok yang dibentuk sebelumnya. Setiap reaktor biogas digunakan untuk 5 KK sampai 7 KK.

Pengisian rutin inlet biogas komunal dengan kotoran ternak yang dilakukan secara bergotong-royong oleh para anggota kelompok

Bapak Heru telah merasakan berbagai manfaat dari keberadaan instalasi biogas ini, antara lain mendapatkan gas untuk bahan bakar memasak dan penerangan yang kini tersedia setiap harinya. Selain itu, bio-slurry atau ampas biogas juga beliau gunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman bayam.

Merasakan manfaat dari biogas yaitu gas untuk bahan bakar dan penerangan dari lampu biogas

Harga pupuk kimia cukup mahal sekitar Rp. 3.000,- sampai Rp. 10.000,- per kg, sehingga membuat biaya produksi budidaya sayuran bayam cukup besar. Maka, dengan adanya bio-slurry saat ini sangatlah membantu beliau untuk menekan biaya produksi.

Selain memanfaatkan bio-slurry segar yang langsung digunakan pada tanaman bayam, beliau juga sudah mulai belajar memodifikasi dan meracik bio-slurry sebagai pupuk cair dengan bahan-bahan organik lain seperti urin sapi, air kelapa, gula putih, air cucian beras, yang kemudian difermentasi.

Pembuatan pupuk organik cair dari bio-slurry

Lahan yang ditanam dengan sayuran bayam sekaligus beliau jadikan demplot untuk penggunaan bio-slurry sebagai pupuk organik. Keberadaan demplot bertujuan agar para pengguna biogas lain di wilayah tersebut maupun warga umum sekitar desa dapat melihat secara langsung hasil sayuran yang dipupuk dengan bio-slurry.

Demplot penggunaan bio-slurry sebagai pupuk untuk tanaman bayam

Beliau sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya bantuan biogas ini, istrinya pun kini sudah tidak kerepotan untuk mencari dan membeli gas LPG 3 kg yang keberadaannya juga langka di sekitar wilayah tempat tinggal. Harga LPG pun terbilang mahal, yaitu Rp. 22.000,- per tabung. Untuk penggunaan memasak dalam satu bulan, beliau menghabiskan 3 tabung gas LPG ukuran 3 kg.

Hasil panen sayuran bayam yang dipupuk oleh bio-slurry

Beliau juga bersyukur kini sudah bisa menekan biaya produksi budidaya sayuran bayam yang akhirnya dapat membantu meningkatkan penghasilan. Dengan berbagai manfaat yang diperolehnya tersebut, beliau juga senang berbagi pengalaman mengenai beragam manfaat dan keuntungan biogas kepada warga lain di desa setempat.

Share this: