Menyalakan Harapan, Menjawab Tantangan Energi Terbarukan

25 Januari 2018

sketsaonline.com – Perwakilan pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor swasta, organisasi pembangunan lembaga sosial masyarakat, akademisi, dan praktisi energi terbarukan menghadiri Acara Pembelajaran Nasional ‘Terangi Nusantara� di Upper Room, Annex Building untuk berbagi kesuksesan dan pembelajaran praktik terbaik dalam hal pemanfaatan energi terbarukan di kalangan masyarakat pedesaan, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat. dan Sulawesi Selatan. Hal ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk nusantara dan juga untuk meningkatkan kolaborasi multipihak dalam mengatasi tantangan dan mengeksplorasi kesempatan investasi energi terbarukan skala kecil di daerah terpencil.

Melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk memaksimalkan penggunaan Energi Terbarukan (ET) dalam rangka pencapaian target sebesar 23 persen di tahun 2025. Untuk mendukung komitmen Pemerintah tersebut Hivos berkolaborasi dengan berbagai mitra mengimplementasikan program TERANG (Investing in Renewable Energy for Rural, Remote Communities) dalam hal pengadaan ET.

Di akhir tahun 2017, program ini telah menyediakan akses listrik bagi 26 kabupaten di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat. dan Sulawesi Selatan. Melalui proyek TERANG, sebanyak 5.079 rumah tangga menggunakan energi terbarukan. 25 sekolah memiliki sumber energi terbarukan, 60,68 KW tenaga listrik dihasilkan dari PV solar, dan rasio elektrifikasi Pulau Ikonik Sumba di NTT meningkat dari 24,5 persen (2010) menjadi 42,67 persen (2017).

Seiring dengan upaya negara-negara untuk menamakan ekonomi yang lebih ramah terhadap iklim, banyak yang mengurangi jumlah listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Selama bertahun-tahun, ET dianggap investasi berisiko tinggi karena sumber energinya tidak dapat diprediksi. Namun, perkembangan teknologi dalam mengurangi emisi efek rumah kaca dan dampak perubahan iklim semakin menumbuhkan ketertarikan di bidang ET.

Direktur Regional Hivos Asia Tenggara, Biranchi Upadhyaya, menekankan pentingnya energi terbarukan dalam pembangunan, �Proyek kolaborasi seperti TERANG memegang peranan penting dalam memperluas cakupan energi terbarukan serta menjangkau masyarakat di desa terpencil, serta meningkatkan mata pencaharian mereka melalui pemakaiannya.�

Itulah sebabnya proses akselerasi haruslah inklusif dan dapat diakses seluruh masyarakat. Dari lingkup nasional, sampai saat ini, 1,2 miliar orang telah mendapatkan akses koneksi dan jaringan utama sejak tahun 2000, dimana 80 persen dari mereka memperoleh akses melalui koneksi ke jaringan utama, yang mayoritas berasal dari bahan bakar fosil (45 persen batubara, 19 persen gas alam dan 7 persen minyak)’.

Pada September 2017, Indonesia mencapai 93,08 persen rasio elektrifikasi, dimana hampir semua wilayah dari Aceh sampai Sulawesi memiliki rasio elektrifikasi di atas rata-rata 70 persen. Sementara di Nusa Tenggara Timur rasio elektrifikasi hanya mencapai 58,99 persen dan bahkan Papua hanya memiliki rasio ketahanan listrik sebesar 48,91 persen.

Fakta ini menunjukkan bahwa di Indonesia layanan energi belum inklusif. “Salah satu pembelajaran dari Sumba adalah pentingnya kerja sama dan kemitraan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan energi yang inklusif. Kita tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hanya dengan Solar Home System dan koneksi jaringan listrik. Pompa air tenaga surya membutuhkan strategi pendanaan yang berbeda, begitu pula dengan instalasi biogas. “Usaha untuk menggandeng berbagai badan dan instansi keuangan nasional dan internasional masih harus dilanjutkan supaya lebih banyak daerah terpencil yang bisa dijangkau,� ujar Eco Matser, Koordinator Perubahan Iklim, Energi, dan Pembangunan Hivos.

Data lndonesia Clean Stove Initiative tahun 2016 menunjukkan sebanyak 40 persen (sekitar 24,5 juta jiwa) populasi Indonesia masih bergantung pada biomasa tradisional untuk memasak. Ini berarti akses layanan energi yang memadai, andal, dan bersih belum tersedia untuk semua kalangan publik.

“Besamya tantangan dan tingginya target yang harus dicapai menuntut keseriusan dan komitmen kita semua. Pendanaan untuk pembangunan instalasi pembangkit on-grid dan off-grid diharapkan berasal dari investasi BUMN (PLN), BUMD, sektor swasta. LSM, lembaga donor pembangunan, dan anggaran Pemerintah Pusat dan Provinsi,� kata Rida Mulyana, Direktur Jendral EBTKE Kementrian ESDM dalam pidatonya saat membuka Forum Investasi Sumba untuk pelaksanaan Program Pulau Ikonik Sumba. “Teknologi smart-grid dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai target rasio elektrifikasi 95% serta penggunaan ET sebesar-besarnya untuk menerangi Nusantara.�

Acara pembelajaran ini terdiri atas sesi paripurna, sesi diskusi, dan pameran foto oleh Anton lsmael, dokumenter masyarakat yang telah mendapatkan akses energi dan mengalami perubahan dalam hidupnya.

Tentang Hivos

Hivos adalah organisasi pembangunan internasional humanis yang mencari solusi baru untuk isu-isu global yang terus berlanjut. Dengan program cerdas di tempat yang tepat, Hivos menentang segala bentuk diskriminasi, ketidaksetaraan, penyalahgunaan kekuasaan dan penggunaan sumber-sumber energi yang tidak berkelanjutan. Fokus utama Hivos adalah mencapai perubahan struktural. Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan bisnis inovatif, masyarakat, dan organisasinya. Kami berbagi cita-cita dengan mereka untuk mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan dan masyakarat yang inklusif. Hivos bekerja di 26 negara berpendapatan rendah dan menengah di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Kami bekerja pada level lokal, regional, dan global. www.hivos.org

Tentang Proyek TERANG

Pada tanggal 18 Desember 2015, Hivos menandatangani kesepakatan kerjasama dengan Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) untuk mendukung peningkatan akses energi terbarukan melalui Proyek TERANG, yang merupakan kombinasi dari dua program utama Hivos di bidang energi terbarukan yaitu Program Biogas Rumah (BIRU)* dan Program Sumba Iconic Island (SII)**.

Program BIRU bertujuan untuk mengembangkan sektor biogas yang berkelanjutan dan mandiri, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pasokan energi nasional sementara memberikan solusi untuk energi berkelanjutan berdasarkan potensi lokal. Sementara SII bertujuan menyediakan akses terhadap bentuk energi terbarukan yang andal kepada populasi pulau ini, dan dengan demikian, mengakhiri ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil dan mendukung pengembangan dan aktivitas ekonomi penduduk setempat. Proyek TERANG dilaksanakan oleh tim konsorsium antara Hivos, Village Infrastructure Angel (VIA), Yayasan Rumah Energi (YRE), dan Winrock International. www.sumbaiconicisland.org. (Joe)

(Sumber: http://www.sketsaonline.com/menyalakan-harapan-menjawab-tantangan-energi-terbarukan/)

Share this: