Melirik Peluang Usaha Perikanan Air Tawar Berbasis Lemna

6 Oktober 2017

pengetahuanhijau.com – Siang itu Rabu 4 Oktober 2017 sekitar
pukul 11.00 waktu setempat, Field Officer BaKTI mengunjungi saung tani
Lima Sejahtera yang diketuai Bapak Jhon Lukas Ludji di Kelurahan Mauhau,
Sumba Timur. Sekitar 40 peserta nampak sedang bersiap-siap mengikuti
kegiatan “Pelatihan Budidaya Ikan dan Bioslurry Lemna� yang dilaksanakan
oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) dengan dukungan Millenium Challenge
Account (MCA) Indonesia.

“Kegiatan ini masih merupakan bagian dari
program GADING yang sedang kami jalankan. Jika sebelumnya para peserta
sudah kami latih tentang pengolahan ampas biogas berupa bioslurry padat
dan cair sebagai pupuk, tentang pengembangan lemna/duckweed berbasis
bioslurry untuk pakan ternak termasuk ikan maka kali ini kami ajarkan
lagi mereka tentang budidaya ikannya, khususnya ikan nila yang juga
berbasis bioslurry� demikian penjelasan Bapak Kornelis K Lidjang dari
YRE.
Nila gift (genetic inprovement of farmed tilopias) merupakan
hasil persilangan dan seleksi dari jenis-jenis nila dari Taiwan, Mesir,
Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal dan Kenya. Dibandingkan nila
lokal, nila gift bertubuh lebih pendek dengan ukuran kepala yang
relatif lebih kecil dari nila lokal. Keunggulan nila gift adalah jumlah
telur lebih banyak 20-30%, berat benih mencapai17,5 gram dan
pertumbuhannya lebih cepat, pertumbuhan saat pembesaran kuga lebih cepat
dengan konversi pakan rendah, tahan terhadap lingkungan yang kurang
baik den memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15%
sehingga bisa dipelihara di perairan payau.

Ikan nila adalah salah
satu dari berbagai jenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi
dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur pada tahun 1969 dan kini
menjadi peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia
seklaigus sebagai hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama
ilmiahnya adalah Oreochromis Niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal
sebagai Nile Tilapia.

Untuk budidaya nila sendiri selain faktor
persiapan kolam, pemilihan benih merupakan faktor penting yang
menentukan tingkat keberhasilan budidayanya. Untuk hasil maksimal
sebaiknya gunakan benih berkenis kelamin jantan karena pertumbuhan nila
jantan 40 persen lebih cepat dari pada ikan nila betina. Adapun
persyaratan dalam memilih benih yang baik sebagai berikut: ukuran sama,
warna cerah, gerakan lincah, fisik tidak cacat, sirip dan sisik lengkap,
tidak terlihat bintik putih, luka, dan lain-lain.

Pengelolaan
pakan juga sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan
merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila karena
mereka harus diberikan pakan yang mengandung kadar protein sebanyak
20-30 persen. Ikan nila membutuhkan pakan kering sebanyak 3 persen dari
bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan
sore hari. Untuk kondisi ini tentu saja lemna menjadi solusi yang
sangat membantu untuk ketersediaan pakan dengan kandungan protein yang
sangat baik, apalagi jika lemna tersebut dipupuk menggunakan bioslurry
cair.

Dalam pelatihan ini selain peserta mendapat materi tentang
teknis budidaya ikan nila, mereka juga dibekali dengan pengetahuan
terntang gambaran resiko usaha/analisa usaha ikan nila selama 1 tahun
pada lahan seluas 50m² dengan jumlah bibit sebanyak 1500 ekor, mulai
dari perhitungan biaya investasi, biaya operasional termasuk menghitung
biaya pakannya sampai keuntungan yang diperoleh.

(Sumber: http://www.pengetahuanhijau.com/berita/melirik-peluang-usaha-perikanan-air-tawar-berbasis-lemna)

Share this: