Eceng Gondok menjadi Biogas

12 September 2017

Schwäbischer tagblatt – Energi terbarukan.  Florianus Josopandojo, mahasiswa dari Rottenburg,
ingin “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui� melalui instalasi
Biogas Mikro untuk negerinya Indonesia.  Oleh Thomas Schumacher.

Florianus
Josopandojo telah berbuat banyak untuk masa depannya.  “Saya ingin
bekerja sebagai insinyur biogas terutama di arena internasional
khususnya di Jerman dan Indonesia,� ujar insinyur muda yang penuh
cita-cita itu.  Namun,  juga bisa merambah Asia, Amerika, atau Afrika
yang terhitung masih sesuai untuk orang Indonesia.  Josopandojo datang
ke Jerman pada tahun 2012 saat ia baru berusia 20 tahun untuk belajar
tentang energi terbarukan.  Setelah kursus bahasa selama tiga bulan di
Heidelberg dan program satu tahun untuk persiapan belajar di Nordhausen
(Thuringia), ia mendaftar di Universitas Kehutanan Rottenburg, yang
menawarkan mata kuliah tentang energi terbarukan.

Flora, Fauna, dan Nelayan yang merasakan dampak buruk

Sebagai
bagian dari skripsi untuk meraih gelar sarjananya, terhitung mulai
Agustus 2016 Josopandojo fokus pada permasalahan yang terjadi di
Indonesia, yaitu persoalan tanaman air eceng gondok, yang sering ditemui
di negara-negara tropis terutama di danau-danau air tawar.  Tanaman ini
dapat tumbuh dengan cepat dan menutupi seluruh permukaan danau dalam
waktu singkat.  Kemudian eceng gondok menutupi flora dan fauna yang ada
di danau dari paparan sinar matahari dan menghambat  terbentuknya
oksigen di bawah permukaan air.  Hal ini menyebabkan matinya ikan dan
kerugian finansial bagi nelayan lokal.

Melalui proyeknya, Josopandojo
ingin “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui�, yaitu untuk
membersihkan danau dari eceng gondok sekaligus menghasilkan energi
hijau.  Meskipun gagasan mengubah tanaman yang mengganggu ini menjadi
biogas bukanlah sesuatu yang baru – organisasi “Rumah Energi� dari
Indonesia telah membangun instalasi biogas yang dibangun di Danau Rawa
Pening di pulau Jawa.  Namun, sebelum kegiatan yang dilakukan
Josopandojo, mereka tidak mengetahui tentang potensi energi dari eceng
gondok.  Yang kurang adalah alat pengukurnya, ujar mahasiswa berusia 25
tahun itu.

Josopandojo bekerja sebagai manajer proyek dengan Profesor
Jen Poetsch (pengawas proyek) dan bersama rekan sesama mahasiswa,
Johannes Unger,di bawah proyek yang bernama “realisasi instalasi biogas
mikro eceng gondok di Jawa Tengah, Indonesia� untuk mendorong
penelitian.  Unger menjadi ketua kelompok regional “Teknologi Tanpa
Batas� di Rottenburg; organisasi yang mendukung proyek Josopandojo dari
segi pendanaan dan hal lainnya.  Mitra kerja sama dari Indonesia “Rumah
Energi� mengerahkan para pekerja lokal untuk membangun fasilitas biogas
mikro di Indonesia.

Memasak dengan gas yang dihasilkan dari tanaman air

Selama
fase penelitian di laboratorium  dari bulan November 2016 hingga Maret
2017,  Josopandojo menyelidiki potensi biogas dari eceng gondok serta
peluang untuk mengoptimalkan instalasi biogas mikro.  Salah satu
hasilnya adalah  11,3 liter biogas dapat dihasilkan dari satu kilogram
eceng gondok segar yang digiling.  Hasil lainnya adalah merebus satu
liter air, diperlukan 387 liter biogas, yang artinya membutuhkan 30
kilogram tanaman eceng gondok segar.

Pada bulan April dan Mei 2017,
dua fasilitas biogas mikro dengan kapasitas delapan dan sepuluh meter
kubik, masing-masing berkapasitas 8.000 dan 10.000 liter.  “Sejauh ini,�
ujar Josopandojo, “tiga keluarga telah merasakan manfaatnya.  Sekarang
mereka memasak dengan menggunakan biogas, bebas biasa dan bebas emisi. “
Jaringan pipa gas dapat dipasang, sehingga dua keluarga lagi segera
dapat terhubung dengan biogas.

Di masa yang akan datang, tanaman ini
dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik, ujarnya.  Namun,
kebutuhan saat ini adalah bagaimana cara mendapatkan kompor gas yang
ramah lingkungan dan berbiaya rendah.

Florianus Josopandojo ingin
mengembangkan proyeknya bahkan setelah ia mendapatkan gelar sarjananya
dan membangun lebih banyak lagi fasilitas biogas.  Selain itu, ia ingin
melanjutkan studi dan gelar magisternya di Jerman.  Bersama-sama dengan
organisasi “Rumah Energi,� yang telah menjalin kontak dengan Kementrian
Energi Indonesia, ia ingin menginformasikan kepada pemerintah Indonesia
tentang cara untuk menghasilkan energi baru dan pada saat yang sama
menjajaki proyek-proyek di masa depan.  Di masa depan, ia berharap bisa
menerima pembiayaan yang memadai.

Mencacah dan kemudian fermentasi – sisanya dapat digunakan sebagai pupuk

Pertama-tama,
eceng gondok dicacah  dengan ukuran dua hingga tiga sentimeter. 
Setelah itu tanaman ini difermentasikan selama 40 hingga 50 hari pada
suhu 28 deraja Celsius dengan kotoran sapi dalam reaktor biogas.  Proses
ini menghasilkan biogas.  Substrat tetap ada setelah proses ini dan
dapat digunakan sebagai pupuk.

Biaya fasilitas biogas tergantung pada
ukurannya.  Sebuah reaktor biogas berkapasitas delapan meter kubik
pembangunannya membutuhkan dana 900 euro; sedangkan reaktor biogas
berkapasitas 10 meter kubik membutuhkan biaya sekitar 1.100 euro.

Untuk
mereka yang tidak mampu untuk membangun instalasi biogas ini, investasi
ini dapat dilunasi melalui beberapa kali pembayaran cicilan.  Selain
itu, Kementrian Energi Indonesia juga menyediakan subsidi pemerintah. 
Siapapun yang menjual residu/ampas fermentasi sebagai pupuk nantinya
akan dapat menutupi biaya-biaya yang timbul selama jangka panjang.

**Artikel dipublikasikan dalam Bahasa Jerman

(Sumber: http://www.tagblatt.de/Nachrichten/Von-der-Wasserhyazinthe-zum-Biogas-345993.html)

Share this: