Ade Hikmat: Emas Putih, Hijau dan Merah Jadi Termanfaatkan

10 April 2017

Koperasi Peternak Garut Selatan Cikajang (KPGS Cikajang) merupakan salah satu mitra penyedia kredit (lending partner organisation/LPO) Biogas Rumah (BIRU). Koperasi yang berada di Jalan Raya Cibodas, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini memiliki kegiatan utama yaitu menampung susu segar dari para anggota peternak kemudian menjualnya setiap hari ke PT. Indolakto, PT. Ultrajaya dan sisanya dijual secara lokal.

Drh. H. Ade Hikmat Buana, Manager Utama KPGS Cikajang menjelaskan, susu dari peternak dikumpulkan per kelompok dengan varian harga yang berbeda tiap sub kelompoknya. Perbedaan harga ini berdasarkan kualitas dari susu yang dihasilkan, baik total solid, berat jenis, persentase protein dan sebagainya. “Satu koperasi kita ada sekitar 30 lebih varian harga, paling rendah Rp. 4.000,-, paling tinggi Rp. 4.600,- tergantung dari kualitas susunya,” ujarnya.

Koperasi ini juga memiliki bidang usaha simpan pinjam dimana koperasi menyediakan modal untuk para peternak yang ingin dibangunkan reaktor biogas dengan sistem kredit. Ade menjelaskan, untuk dapat membangun reaktor biogas dengan sistem kredit, peternak harus mendaftar menjadi anggota KPGS dan sebagai anggota aktif yang berproduksi (memiliki sapi untuk diperah) serta minimal ada sisa dari penghasilan utuk membayar cicilan.

“Selama dia produksi tidak mungkin ada macet, biasanya terjadi macet karena sapinya sudah tidak ada sehingga reaktornya tidak berjalan,” ujar Ade ketika ditanya bagaimana jika terjadi kredit macet dari anggota peternaknya. Sekarang sudah ada sekitar 100 reaktor di wilayah kerja KPGS, 5 reaktor sedang dalam proses pembangunan dan 40% reaktor biogas yang sudah dibangun memiliki slurry pit (penampung ampas biogas).

Sebelum ada program dari Rumah Energi yang berupa Biogas Rumah (BIRU), masyarakat biasanya membuang kohe (kotoran hewan) sapi melalui selokan yang pada akhirnya bermuara ke sungai dan mencemari air sungai. Sekarang limbah kotoran sapi tidak langsung dibuang ke sungai, tetapi dimanfaatkan untuk digunakan gasnya. “Peternak tidak harus membeli lagi kayu bakar, gas elpiji dan yang jelas mengurangi pembuangan ke lingkungan,” jelas Ade ketika ditemui setelah rapat anggota tahunan KPGS.

Ade juga menjelaskan keuntungan yang diperoleh KPGS dengan adanya Program BIRU ini adalah peternaknya menjadi semakin semangat untuk beternak sapi. “Program BIRU ini tidak hanya sekedar pelatihan pengelolaan limbah menjadi gas saja tapi juga ada pengelolaan tambahan, yaitu bagaimana mengelola bio-slurry seperti untuk pupuk kandang, insektisida, pupuk daun, dijadikan pelet untuk peternakan, perikanan dan sebagainya,” kata Ade.

“Ada istilah dalam sapi perah, yaitu emas putih (susu), emas hijau (kotoran), emas merah (daging) dan itu jadi bisa dimanfaatkan semua,” sambungnya.

Ke depannya koperasi akan bekerja sama dengan lembaga atau mitra lain untuk menampung dan menjual bio-slurry dari peternak sehingga peternak mendapatkan keuntungan dari penjualan susu dan bio-slurry untuk membayar cicilan. (Venessa Damanik)

Share this: