Jejak Karbon

16 Februari 2017

Setiap aktivitas manusia selalu memberikan pengaruh terhadap lingkungan, salah satu diantaranya adalah aktivitas tersebut memberikan sumbangan emisi gas rumah kaca, secara langsung (seperti membakar sampah) maupun tidak langsung (seperti menggunakan listrik dari PLTU). Gas rumah kaca yang diemisikan inilah yang kemudian menyebabkan panas yang masuk ke bumi menjadi terperangkap di atmosfer bumi sehingga menyebabkan terjadinya pemanasan global. Banyaknya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia inilah yang disebut sebagai jejak karbon (carbon footprint). Jejak karbon ini penting untuk diketahui agar kita bisa mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh setiap aktivitas kita.

Jejak karbon ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu jejak karbon primer (primary carbon footprint) dan jejak karbon sekunder (secondary carbon footprint). Jejak karbon primer merupakan jejak karbon yang ditimbulkan dari proses pembakaran langsung bahan bakar fosil, misalnya saja pemakaian kendaraan bermotor. Sedangkan jejak karbon sekunder, merupakan jejak karbon yang ditimbulkan dari proses siklus produk-produk yang digunakan, dari pembuatan hingga penguraian. Contoh dari jejak karbon sekunder ini adalah produk-produk yang dikonsumsi sehari-hari (biasanya berupa makanan), sehingga semakin banyak produk yang dikonsumsi maka jejak karbonnya akan semakin besar.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui berapa besarnya jejak karbon dari aktivitas kita? Sebetulnya ada banyak penghitung jejak karbon di internet. Secara umum, ada banyak hal yang bisa dimasukan dalam perhitungan jejak karbon. Seperti misalnya untuk penghitungan jejak karbon dari aktivitas individu atau rumah tangga, maka aktivitas yang dihitung bisa meliputi konsumsi makanan, aktivitas perjalanan, serta konsumsi listrik rumah tangga.

Konsumsi makanan ini mencakup apakah produk yang dikonsumsi memiliki kadar jejak karbon tinggi atau tidak. Jenis makanan yang mengandung jejak karbon tinggi biasanya berupa daging, sedangkan jenis makanan yang mengandung jejak karbon rendah biasanya berupa sayuran. Berikut adalah kadar karbon dari beberapa jenis makanan, seperti dikutip dari Environmental Working Group (EWG).

Jejak karbon dari aktivitas perjalanan bisa meliputi jenis kendaraan yang digunakan, apakah kendaraan pribadi (mobil atau motor) atau kendaraan umum (bus, kereta api, atau pesawat). Jika menggunakan kendaraan pribadi, maka penghitungan jejak karbon juga akan meliputi jenis bahan bakar yang digunakan. Dikutip dari Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, besar emisi gas rumah kaca untuk avtur adalah 2,20 kg CO2/liter, biosolar adalah 2,50 kg CO2/liter, solar adalah 2,68 kg CO2/liter, sedangkan bensin adalah 2,35 kg CO2/liter. Sehingga untuk mengetahui berapa besar jejak karbon kita dari aktivitas perjalanan, kita bisa menghitungnya dari berapa banyak bahan bakar yang digunakan.

Sementara untuk konsumsi rumah tangga, pada umumnya dihitung dari berapa kWh listrik yang digunakan dalam satu tahun. Jejak karbon untuk konsumsi listrik rumah tangga ini kemudian bergantung dari jenis pembangkit listrik yang digunakan, apakah menggunakan batubara (seperti PLTU-PLTU di Indonesia), bahan bakar diesel (seperti pada PLTD), nuklir, atau menggunakan energi terbarukan (misalnya surya, angin, panas bumi, atau hydropower). (Jihan A. As-sya’bani)

Foto Carbon Footprint: https://id.pinterest.com/ioverde/carbon/

Share this: