Lebih Hemat Lebih Ekonomis

28 Desember 2016

Terlihat wajah sumringah Bapak Sialim, pengguna biogas ukuran 2 m3, saat menerima kunjungan kami ke rumah beliau di Desa Keputran RT 005 RW 003 Sukoharjo, Pringsewu, Lampung. Walaupun baru pulang dari kebun, dengan ramah Pak Sialim mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya. Beliaupun tidak keberatan ketika kami meminta istrinya, Ibu Martini untuk pulang sebentar karena saat kami datang sedang mengikuti pengajian rutin di masjid kampungnya.

Tak menunggu lama akhirnya saya bertemu Ibu Martini, dan keramahannya juga tampak di wajah ibu setengah baya ini. Akhirnya perbincanganpun kami mulai.

Keberhasilan yang dirasakan keluarga Sialim saat ini adalah penghematan pengeluaran untuk kebutuhan gas sekitar Rp. 40.000,- setiap bulan. Sebelum menggunakan biogas ukuran 2 m3, mereka dapat menghabiskan 3 tabung gas 3 kg per bulan, dengan harga per tabung Rp. 20.000,-. Namun, setelah menggunakan biogas beliau hanya menyediakan 1 tabung gas 3 kg sebagai cadangan.

Artinya, pengeluaran rutin untuk kebutuhan bahan bakar memasak yang biasanya dikeluarkan sebesar Rp 60.000,-, saat ini hanya menjadi Rp 20.000,- per bulan. Tabung gas pun hanya diperuntukkan sebagai cadangan kompor dua tungku yang sudah beliau miliki sejak awal.

Dengan kondisi gas dalam reaktor diisi penuh, kegiatan memasak dapat ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam per hari. Setiap hari Bapak Sialim cukup memasukkan 20 kg atau 2 bak kecil kotoran hewan (kohe) ke dalam lubang inlet. Kegiatan tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan biogasnya per hari.

Beliau juga sedang mencoba bereksperimen menggunakan buah pepaya yang sudah tidak layak jual untuk dicampur dengan kohe di dalam inlet. Hal ini menurut beliau jauh lebih menghemat kohe yang dimasukkan.

Karena usia reaktor 2 m3 ini baru sekitar dua bulan, pemakaian bio-slurry (ampas biogas) belum dapat dirasakan secara maksimal oleh Bapak Sialim. Dari penuturan beliau, saat ini baru dapat mengaplikasikan bio-slurry cair untuk disiramkan ke 1.000 tanaman pepaya yang dimilikinya.

Diperlukan sekitar 15 jeriken 35 liter bio-slurry cair untuk menyiram tanaman pepaya sebanyak itu. Keberhasilannya dari penggunaan bio-slurry ini adalah rasa buah pada beberapa pohon pepayanya menjadi lebih manis setelah disiram menggunakan bio-slurry. Bapak Sialim yang sebetulnya masih awam dengan penggunaan bio-slurry berharap ke depan bisa mendapatkan pengetahuan dari tim Rumah Energi terkait takaran pemakaian bio-slurry cair.

Dari kunjungan kami ke rumah Pak Sialim, dapat disimpulkan bahwa dengan lahan sempit dan ternak satu ekor, para pengguna sudah dapat menggunakan biogas ukuran 2 m3, kandang menjadi lebih bersih, karena tidak ada kotoran yang menumpuk, dan bio-slurry cair hasil dari reaktor dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik siap pakai. (Ririn Ridiarti)

Share this: