Sulis Setiawati Seda, Mama Penerang Pulau Sumba

23 Desember 2016

TEMPO.CO, Jakarta – Perbincangan dengan Imelda Sulis Setiawati Seda, 46 tahun, pada Selasa malam, 20 Desember 2016, menggambarkan buruknya infrastruktur kelistrikan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Malam itu listrik telah padam selama tiga jam. Karena minimnya penerangan dan udara terasa gerah, Sulis terpaksa keluar rumah untuk menerima panggilan telepon dari Tempo.  “Saya sekarang bicara berdiri di bawah langit,â€� kata dia di ujung telepon.

Sepanjang hari itu, aliran listrik dari PT PLN di tempat tinggal Sulis, di Kecamatan Wewewa Selatan, telah dua kali padam. Pemadaman pertama berlangsung dari pukul 12.00 hingga 16.00. Disusul pemadaman kedua pada pukul 18.00-22.00.  Aliran listrik yang byar-pet ini membuat Sulis baru bisa menyelesaikan pekerjaannya pada dinihari.

Sulis masih sedikit beruntung karena tinggal di perkotaan. Nasib lebih buruk dialami oleh warga yang tinggal di desa-desa di seantero Pulau Sumba.  “Karena masih banyak tempat yang belum tersentuh jaringan listrik,� dia mengungkapkan. Hingga tahun lalu, rasio elektrifikasi di Sumba baru mencapai 42,67 persen.

Ketimbang mengutuk gelap, lebih baik menyalakan lilin. Tak mau mengeluh, Manajer Program Yayasan Sosial Donders itu mengembangkan aktivitas sosialnya ke sektor kelistrikan. Bekerja sama dengan Hivos–lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Belanda–Sulis menjadi mitra dalam pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan di banyak desa.

Proyek perdana Sulis dan Hivos adalah pembangunan kompor biogas bagi rumah tangga miskin. Tahap pertama proyek ini dilaksanakan pada rentang 2012-2013 di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Karena dinilai sukses membantu kegiatan keluarga, khususnya para mama, program ini dilanjutkan ke Kabupaten Sumba Tengah hingga 2014.

Hasilnya lumayan. Saat ini sudah terbangun 155 unit kompor biogas di rumah-rumah penduduk. Kompor biogas yang terpasang dapat digunakan untuk memasak selama lima jam dan menyalakan dua buah lampu. Kotoran hewan yang gasnya sudah dimanfaatkan akan dikeluarkan dan dijadikan bahan pembuatan pupuk kompos.

Selesai dengan program biogas, pada 2014 Sulis dan Hivos memperluas programnya dengan membangun pompa air bertenaga surya (solar water pumping) untuk mengairi lahan pertanian. Pertimbangannya, hujan yang hanya turun selama lima bulan di Pulau Sumba membuat banyak lahan pertanian terbengkalai pada musim kemarau.

Solar water pumping dibangun di  Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur.  Setelah proyek ini terbangun, sebanyak 15 hektare lahan yang dulunya tidak produktif di musim kemarau kini bisa ditanami sayur-sayuran, jagung, kacang, dan padi. Program ini memberi tambahan penghasilan bagi 80 keluarga di desa tersebut sebesar Rp 700 ribu-Rp 1,5 juta dalam satu periode musim kemarau.

Sulis Setyowati membangun pompa air bertenaga surya (solar water pumping) untuk mengairi lahan pertanian. (Dokumen Pribadi)

Sebagai mitra Hivos, Sulis bertutur, tugasnya adalah membangun kesadaran warga ihwal manfaat kompor biogas dan solar water pumping. Sulis mendorong warga desa supaya membentuk kelompok lengkap dengan pengurusnya. Fungsi pengurus antara lain mengkoordinasikan pemanfaatan biogas dan solar water pumping serta  mengumpulkan iuran perawatan.

Bukan hanya berkutat di bidang energi, Sulis juga memberikan pelatihan menenun bagi 80 perempuan dan remaja di Kecamatan Kodi Utara dan Kodi. Dia lantas menambahkan pelatihan kepemimpinan bagi para penenun. Targetnya, para penenun berani mempublikasikan hasil karyanya, berbicara di forum desa, serta menjadi pendamping anak dalam kegiatan pendidikan anak usia dini.

Kesibukan Sulis yang padat di Sumba Barat Daya didukung penuh oleh suami dan kedua anaknya yang tinggal di Sumba Timur serta anak tertuanya yang kuliah di Universitas Atmayaja, Yogyakarta. Sulis pulang ke Sumba Timur setiap akhir pekan dengan menumpang bus selama lima jam. Saat bertugas, dia tinggal di rumah Donders Save Our Sumba, bersama 17 anak-anak yang terpinggirkan.

Sekretaris Program Studi Kajian Gender Pascasarjana Universitas Indonesia, Shelly Adelina, menilai sosok Sulis sebagai perempuan penggerak energi terbarukan di komunitasnya. Peran ini unik lantaran bidang energi biasanya dicitrakan sebagai pekerjaan maskulin. “Tapi dia mengambil domain itu dan menjadi penggerak. Bagus sekali,� tutur dia.

Hasil kerja keras Sulis, Hivos, Kementerian Energi dan  Sumber Daya Mineral, serta lembaga swadaya masyarakat lainnya dalam menerangi Sumba mulai menampakkan hasilnya. Rasio elektrifikasi Sumba kini naik dari 24,5 persen  pada 2010 menjadi 42,67 persen pada 2015. Sedangkan rasio elektrifikasi 100 persen ditargetkan tercapai pada 2025. Kerja Mama Sulis masih ditunggu.

(Sumber: https://cantik.tempo.co/read/news/2016/12/23/335830057/sulis-setiawati-seda-mama-penerang-pulau-sumba)

Share this: