Dalam Dua Tahun Semua Pepohonan Kami Akan Musnah

30 November 2016

Sebuah desa terpencil menggunakan biogas untuk melestarikan lingkungan mereka.

Gunung Rinjani tampak menjulang di cakrawala pagi hari. Puncak gunung yang terkenal tersebut menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Lereng gunung yang luas mengitari gunung yang megah ini tersembuyi di tengah taman nasional dan hutan lindung seluas kurang lebih 404 km2, yang dihuni oleh sekumpulan satwa liar dan fauna seperti: spesies asli burung hantu, bunga anggrek langka, lutung, kakatua, dan kucing hutan.

Lereng gunung juga merupakan lokasi desa-desa tradisional yang dihuni oleh suku Sasak. Sungai dan hutan telah mencegah laju pembangunan dari desa-desa ini, hingga beberapa tahun belakangan ini. Jalan yang penuh lubang dan berdebu menuju salah satu desa yang dikenal dengan Tanahbisa. Kendaraan berguncang melewati rumpun bambu yang tinggi menjulang di sepanjang tepi sungai, sapi yang sedang merumput yang diikat ke tiang mengangkat kepalanya sejenak.

“Beberapa tahun yang lalu tempat ini benar-benar tertinggal, tidak ada jaringan jalan, tidak ada listrik,” ujar Bapak Kadus, kepala desa setempat.  “Jaringan listrik baru masuk ke desa ini pada tahun 2013.  Jalan tanah ini baru dibuka pertengahan tahun 2014. Pada saat itu rumah-rumah kami terbuat dari bambu, dengan atap rumbia, dan orang berjalan kaki kemana-mana.  Anda tahu, tempat ini baru diakui sebagai desa bulan Februari 2015.”

Tanabisa adalah desa terpencil.  Lokasinya berbatasan dengan taman nasional, namun lingkungannya berada dalam ancaman.

“Apa yang terjadi saat ini,” ujar Kadus, ”mata air yang dahulu memancarkan air sekarang telah kering.  Hutan-hutan kami dirambah.  Tempat ini menjadi gersang.  Tidak ada lagi kayu di sini, dan sungai-sungai sudah mengering.”

Sebab dari penggundulan hutan ini bukan pembalakan hutan, bukan juga pertambangan atau kebakaran hutan.  Sering kali penggundulan hutan disebabkan oleh sebab-sebab yang datang dari luar, namun masyarakat terpencil ini juga menimbulkan dampak pada sumberdaya hutan.  Di Tanahbisa, masalahnya datang dari dalam, yaitu gaya hidup tradisional mereka, dan menariknya, adalah kegemaran mereka untuk berpesta.

“Di sini kami adalah masyarakat tradisional,” jelas Kadus, “100% tradisional.  Kami menggunakan kayu bakar untuk memasak, dan apabila ada acara khusus atau perhelatan, kayu satu truk tidak cukup untuk keperluan memasak.  Dan itu hanyalah kebutuhan untuk satu orang!  Saya lihat kondisi lingkungan kami memburuk, perkiraan saya mungkin dalam kurung waktu satu, mungkin dua tahun, seluruh pohon besar yang ada akan musnah.”

Kepala Desa, Bapak Kadus (paling kiri) di depan gubuk desa (foto – Khrisna)

Populasi yang semakin meningkat di sekitar Rinjani artinya semakin sedikit sumberdaya yang tersedia.  Mungkin, saat daerah tersebut sebagian besar masih berupa hutan, dampaknya tidak terlalu parah, namun sekarang taman nasional tidak boleh dijamah dan ruang yang tersedia antara satu desa dan desa lainnya semakin sempit.  Sumber bahan bakar alternatif seperti tabung LPG, lokasi penjualannya jauh dan harganya mahal.

Ini bukan satu-satunya masalah.  Tanahbisa, seperti banyak lingkungan masyarakat pedesaan, sangat bergantung kepada sumber air bersih dari mata air letaknya tidak jauh dari desa.  Mata air ini berlokasi di daerah yang masih tertutup hutan, dan sangat penting tidak hanya untuk keperluan minum dan mandi, namun juga untuk keperluan irigasi tanaman sayur dan padi – sumber pendapatan utama penduduk desa.

“Kami harus melestarikan lingkungan tempat tinggal kami, ”kalau kami menebang semua pohon, kami sendirilah yang akan merasakan penderitaannya.”  Dengan keterbatasan akses kepada sumber energi alternatif, kemana lagi Tanahbisa harus berpaling?”

Sejak penunjukkannya sebagai kepala desa di tahun 2015, Kadus telah bertekad untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan ini.

“Tahun lalu saya mendengar kabar, kabar tentang biogas,” ujar Kadus, “kedengarannya agak aneh ya?  Masak dengan kotoran sapi? Saya memperoleh informasi ada instalasi biogas di Senaru, jadi saya pergi ke sana.  Kami menyalakan kompor biogas.  Saya segera mengadakan rapat di berugak (gubuk desa) dan mengatakan: tidak ada ruginya bagi kami untuk mencoba hal ini, khan? Saya akui saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang biogas pada saat itu, namun kebutuhan kami mengalahkan segalanya.”

Sebuah kesepakatan akhirnya dicapai, Kadus membuat proposal resmi atas nama desa Tanahbisa ke Kabupaten Lombok Utara, dan semua orang ikut membubuhkan tanda tangannya.  Setelah menunggu selama tiga bulan, jawabannya datang:  Tanahbisa akan menerima bantuan keuangan untuk pembangunan 40 buah ketel biogas.

Saat BIRU berkunjung ke desa Tanahbisa, proses konstruksi sudah berjalan.  Lima meter dari berugak, sebuah reaktor biogas dengan kubah terbuat dari beton berkapasitas 6 m3 sudah setengah selesai.  Begitu proses konstruksi selesai, kubah reaktor biogas akan dipendam di bawah tanah, dan hanya butuh kotoran yang masih segar dan air untuk menghasilkan gas methane. Komposisi gas methane serupa dengan gas alam yang digunakan di rumah-rumah di seluruh dunia – kecuali gas alam butuh waktu pembentukan jutaan tahun, sementara biogas hanya butuh waktu dalam hitungan minggu.

Begitu proses penguraian secara anaerobik selesai, bahan limbah yang dihasilkan sudah tidak berbau lagi.  Limbah, yang juga dikenal sebagai bio-slurry, kaya akan zat hara, termasuk nitrogen, yang membuatnya menjadi pupuk siap pakai.

“Saya pikir biogas adalah jalan terbaik untuk kami,” ujar Kadus, “kebanyakan dari kami memelihara ternak sapi di sini, ini adalah gaya hidup Sasak, kami membangun kandang di sebelah rumah.  Dari 54 rumah yang ada di sini, 51 di antaranya memiliki sawah dan kebun, selain itu harga pupuk kimia juga mahal.  Dengan biogas kami dapat memiliki pabrik pupuk dan gas sendiri.”

Beberapa pria penduduk lokal, berkumpul bersama-sama untuk saling membantu membangun reaktor biogas masing-masing, bersantai sejenak di berugak.  Ada yang mengunyah pinang, yang membuat bibirnya berwarna kemerahan.

“Kami sangat antusias, bergairah, dan ingin meraih kemajuan,” ujar Kadus, “anda tahu, kami terkenal dengan desa yang paling sering mengadakan rapat di daerah ini.  Kami mengadakan rapat yang dihadiri seluruh desa mungkin dua kali sebulan.  Kami sangat menginginkannya.  Pertanyaannya adalah: bagaimana kami bisa melakukannya dengan cara yang memungkinkan untuk melestarikan gaya hidup kami?”

“Ini adalah tradisi kami:  saat kami menyelenggarakan pesta, pesta itu harus dilakukan secara besar-besaran.  Seluruh warga desa diundang.  Kadang-kadang kami dapat menghabiskan 500 butir kelapa hanya untuk satu perhelatan, belum terhitung penggunaan kayu bakar.  Kami telah membeli sebuah gazebo untuk berbagi rencana tentang pesta yang kami adakan, jadi kami tidak harus menggunakan daun kelapa lagi sebagai atap.  Dengan biogas, kami tidak lagi harus menebang pohon, dan harapan saya suatu hari kami benar-benar tidak lagi perlu menggunakan kayu bakar.”

“Apa yang kami butuhkan adalah untuk menyabit rumput.  Sederhana, mudah, dan bersih.”  (Joshua Parfitt)

Share this: