Mempertahankan Budaya Bali melalui Biogas

18 November 2016

Keselarasan biogas dengan adat budaya Bali.

Pembangunan pintu pekarangan depan baru selesai di Desa Batubulan, Kabupaten Gianyar, Bali. Batu bata merah tersusun rapat menjulang tinggi dihiasi dengan berbagai ornamen dan canang (persembahan ungkapan rasa syukur dengan wadah terbuat janur, biasanya berisi bunga-bungaan dan lain-lain). Pintu pekarangan menghadap ke timur. Di belakang aling-aling (tembok pembatas antara pintu masuk utama dan pekarangan rumah atau tempat suci), terdapat taman yang terjalin dengan serangkaian bangunan, semua bangunan menghadap ke dalam yaitu ke halaman tengah, sering disebut sebagai natah. Antara taman dan bangunan rumah tampak tidak ada batas.

Dari empat bangunan utama, yang berdiri sesuai dengan arah mata angin, terlihat  rombongan keluarga berdatangan menyambut untuk berjabat tangan. Anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak, suasananya sangat riuh ramai. Tampak para perempuannya menggendong bayi-bayi yang mungkin itu adalah anak kerabatnya, suatu pemandangan yang mungkin tidak biasa dilihat oleh orang lain jika belum mengenal budaya di Bali.

Dewa Made Oka, sang kepala keluarga, adalah seorang pensiunan guru agama. “Banyak yang rumit di dunia ini,” ujarnya, “tetapi kalau kita bisa berdamai dengan kerumitan itu, nah itu yang luar biasa.”

Peraturan tradisional sangat diresapi oleh di setiap rumah tangga di Bali.  Ia menjelaskan bahwa tatanan bangunan didasarkan pada konsep Tri Mandala. Konsep ini membagi ruang menjadi tiga, antara lain nista mandala (wilayah luar), madya mandala (wilayah tengah) dan utama mandala (wilayah yang paling suci). Pembagian tripartit seperti ini sangat umum di budaya Bali, dan dapat diterapkan pada arsitektur maupun spiritualitas.

Mata angin juga sangat penting. Menurut adat, utara dan timur dianggap paling suci, atau utama. Maka dengan Tri Mandala, yang arahnya utara ke selatan dan timur ke barat, sudut timur laut pekarangan merupakan wilayah yang paling suci, di sinilah letak tempat sembayang. Sudut barat daya merupakan wilayah paling dasar, di sinilah letak babi atau ternak lainnya dipelihara.

“Jaman dulu pekarangan sangat luas,” jelasnya, “kotoran babi biasanya dapat dibuang di belakang pekarangan, kalau sudah terurai malah jadi subur. Petani juga mengambil kotoran ini untuk pupuk di ladang. Sekarang khan pemukiman sangat padat, ini menjadi masalah. Jarang orang punya babi sekarang.”

Menurut Dewa Weda Oka, yang saat ini bekerja sebagai Quality Inspector untuk Biogas Rumah (BIRU) di Bali, hal ini dapat menjadi pintu masuk untuk biogas.

“Biogas sangat cocok dengan konsep rumah tradisional di Bali,” katanya, “biasanya sudut barat daya kosong saja, hanya ada kandang babi. Berarti lahan untuk biogas sudah ada.” Dengan pembangunan sebuah reaktor biogas, kotoran babi bisa diolah langsung, bahkan dalam lahan terbatas. Proses anerobik dalam reaktor menghasilkan bahan bakar gas dari kotorannya, yang kemudian bisa digunakan untuk memasak atau memanaskan air untuk mandi hangat.

Proses anerobik juga menghasilkan ampas yang disebut dengan bio-slurry, yang dapat dipakai langsung sebagai pupuk kandang yang berkualitas. Meskipun penduduk Bali semakin sedikit yang mencangkul di sawah untuk mencari nafkah, pekarangan sudah biasa ditanami pohon, bunga dan rumput. Bio-slurry dapat ditaburkan secara langsung.

Dewa Made Oka telah sukses memasang dan menggunakan biogas di rumahnya. Menurutnya sangat mungkin cara ini dapat memancing para calon pengguna biogas. “Menurut adat kami bagian selatan adalah wilayah unsur api, itu alasannya dapur ada di bagian selatan. Kebetulan reaktor biogas juga menghasilkan api, jadi sangat cocok sama konsep masyarakat Bali. Orang juga akan mudah paham.”

Sangat khas Bali, semuanya simbolik.

“Ini masalahnya sekarang, gimana kita bisa mempertahankan budaya unik Bali?” tanyanya, “sistem tradisi cenderung sudah dibuang. Babi tidak mendapatkan tempatnya di area rumah.” Arsitektur Bali menegaskan adanya penempatan yang tepat dalam mencapai keserasian tiga elemen, yang dikenal sebagai Tri Hita Karana, yaitu Sanghyang Jagatkarana (Tuhan), Bhuana (alam), dan manusia.

Babi, ternyata memainkan peran lebih daripada simbolisme. Hewan ini merupakan modal bagi keluarga Bali, bisa dijual untuk mendapatkan uang tunai, ataupun disembelih untuk acara agama di pekarangan. Selain itu, limbah dapur biasa diberikan kepada babi, hal ini mengurangi sampah, dan membuat lingkungan sekitar menjadi bersih. Program BIRU pun ditujukan untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna atau menguntungkan, hal ini juga sesuai dengan adat Bali.

“Orang Bali senang mengolah limbah jadi sesuatu yang indah,” ujarnya, “dari bunga-bunga, daun kelapa dan pisang kita membuat canang. Bali sudah zero-waste dari dulu, cuman beda nama.”

Sudah mulai senja. Istrinya Dewa Made Oka keluar dari dapur untuk mengumpulkan bunga kamboja yang jatuh di halaman. Lalu ia berjalan diantara pepohonan dan meletakkan canang di sebuah tugu di utara pekarangan atau penunggun karang (tempat sembahyang untuk penjaga pekarangan). Seorang ibu tampak memomong bayinya di sekitar tanaman bunga, yang dipupuk dengan bio-slurry. Patung-patung batu dan tugu sembahyang hening mengawasi dalam ketenangan.

“Nenek moyang kami mewariskan budaya yang indah ini, kami harus menemukan cara modern untuk mempertahankannya,” ungkapnya, sebelum mengucapkan selamat jalan, “Om Santi Santi Santi Om.” Damai di hati, damai di dunia, damai di akhirat. (Joshua Parfitt)

Share this: