Semangat untuk Memajukan Pertanian Organik di Sumba

11 November 2016

Keluarga Bapak Jhon Lukas Ludji bertempat tinggal di Kelurahan Mauhau, Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur, NTT dikenal sebagai penggiat pertanian organik yang tak kenal menyerah. Kondisi tanah yang gersang di wilayahnya diubah menjadi ramah untuk tanaman. Hamparan lahan seluas 1,7 hektar disulap menjadi lahan produktif untuk pertanian terintegrasi, yang akhirnya dapat membantu meningkatkan perekonomi rumah tangga.

Pada awalnya lahan yang digunakan adalah lahan sawah untuk menanam padi, namun setelah air irigasi tidak mampu untuk mengairi, lahan kemudian dialihfungsikan menjadi pertanian lahan kering dengan menggunakan air tanah (sumur) untuk tanaman hortikultura dan palawija.

Dalam kegiatan bertani, Bapak John mewadahi tempat pertemuan para petani di rumahnya, kelompok tani yang bersama-sama dibentuk dengan nama Saung Tani Lima Sejahtera. Tempat ini sekaligus tempat penjualan benih unggul yang cocok dengan iklim di Sumba. Dalam kegiatan ini, Bapak Jhon juga memberikan kesempatan pada istrinya untuk membentuk kelompok tani wanita dengan merangkul para ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah.

Bapak Jhon juga memelihara beberapa jenis ternak seperti sapi, kerbau, babi, kambing dan unggas. Pada tahun 2015, ia membangun reaktor Biogas Rumah untuk memanfaatkan kotoran ternak yang dipeliharanya. Menurut istrinya, Ibu Seni, dengan adanya kompor biogas sangat membantu kegiatan di dapur, karena mereka tidak perlu lagi mencari kayu bakar dan berurusan dengan minyak tanah yang keberadaannya kadang-kadang langka. Saat ini, waktunya bisa lebih banyak digunakan untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Sejak tahun 2016 Bapak Jhon mulai memanfaatkan pupuk organik bio-slurry (ampas biogas). Ia mulai memanfaatkannya setelah mendapatkan pelatihan dari Rumah Energi. Setelah mencoba dan melihat sendiri hasilnya, ia kemudian tidak lagi menggunakan pupuk kimia. Penggunaan seratus persen pupuk organik dari bio-slurry ini terbukti sangat membantu dalam mengatasi kelangkaan pupuk. Bapak Jhon juga tidak perlu lagi menyediakan dana khusus untuk membeli pupuk karena semua kebutuhan akan pupuk sudah tercukupi oleh bio-slurry.

Menurut pengamatan Bapak Jhon, tanaman yang menggunakan pupuk bio-slurry menjadi lebih tahan terhadap penyakit, umur lebih panjang, hasil panen meningkat, dan daun atau buah tidak cepat rusak walaupun tidak dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

Melalui Program GADING Bapak Jhon juga mulai mengembangkan budidaya ikan dan tanaman air Lemna sp. Setelah beberapa kali uji coba dan mengalami kegagalan dalam membudidayakan Lemna sp., ia akhirnya menemukan bahwa budidaya Lemna sp. di Sumba lebih cocok menggunakan pupuk dari bio-slurry padat ketimbang yang cair. Setelah metode ini dipraktekkan, budidaya Lemna sp. menjadi sangat mudah. “Lemna sp. saya pakai untuk pakan ikan, babi dan unggas setiap hari. Kecuali untuk lele, saya tidak pernah lagi beli pakan ikan,” kata Bapak Jhon.

Tanaman Lemna sp. (kiri) yang dibudidayakan untuk dijadikan pakan ternak dan kolam ikan millik keluarga Bapak Jhon Ludji (kanan)

Selain untuk digunakan sendiri, Bapak John Ludji juga menjual bio-slurry sudah yang difermentasi dengan harga Rp. 10.000,- per liter.

Bio-slurry hasil racikannya dijual di daerah sekitar Waingapu sampai Sumba Barat Daya. Khusus bagi pembeli yang membeli bibit sayur, tomat, pepaya, dan lain-lain, bio-slurry diberikan secara gratis gratis (1 liter) dan ia menjelaskan cara pemakaiannya. Cara ini beliau bertujuan untuk meningkatkan penjualan bibit dan pupuk bio-slurry sekaligus memperkenalkan biogas dan bioslurry kepada masyarakat.

Bio-slurry (ampas biogas) yang difermentasikan dan dikemas dalam botol plastik untuk dijual

Pendapatan utama keluarga ini adalah dari menjual tanaman sayuran, selain bio-slurry yang sudah difermantasi. Bapak John tidak perlu lagi memasarkan hasil pertaniannya ke pasar-pasar karena konsumen biasanya langsung datang membeli di rumah. Penghasilan bersih yang diperoleh sekitar Rp. 7.000.000,- per bulan. “Penghasilan tersebut kami gunakan untuk membeli tanah untuk memperluas areal kebun, menyekolahkan anak, dan kebutuhan lainnya. Kami yakin dengan bekerja keras dan disertai dengan doa pasti berhasil,” ujar Ibu Seni. Ibu Seni terlibat secara finansial dan mengelola keuangan keluarga, hasil keputusan dalam rumah tangga juga diputuskan secara bersama-sama.

Berbagai tanaman sayur pada lahan pertanian milik Bapak Jhon Ludji yang menggunakan pupuk organik bio-slurry

Keluarga Bapak Jhon menjadi panutan di masyarakat di sekitarnya, studi banding mengenai pertanian organik yang terintegrasi sering dilaksanakan di tempatnya tinggalnya. Banyak lembaga (sekolah pertanian, LSM, dan kelompok tani) berkunjung untuk mendapatkan pengetahuan mengenai optimalisasi lahan pertanian. Selain itu, hasil produk pertaniannya dicanangkan menjadi percontohan terbaik pada pameran yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sumba Timur tahun 2016.

Share this: