Peluang Bio-slurry sebagai Penopang Ekonomi Masyarakat

11 November 2016

Bapak Samad merupakan salah satu pengguna Biogas Rumah yang tinggal di Dusun Penimbe, Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan wilayah yang sebagian besar penduduknya bekerja seperti dirinya, yaitu sebagai petani dan peternak. Bapak Samad dipercaya sebagai ketua kelompok tani di desa tersebut karena ia dianggap memiliki pemikiran yang maju mengenai upaya-upaya yang mengoptimalkan pertanian di wilayahnya.

Di dusun tersebut juga terdapat beberapa warga yang memiliki reaktor biogas, namun pemanfaatan bio-slurry belum secara maksimal digunakan, kebanyakan hanya memanfaatkan gasnya saja sebagai bahan bakar memasak. Melihat peluang ini, Bapak Samad menginisiasi pembentukan Kelompok Pengumpul Slurry Biogas Ubung, yang beranggotakan 20 orang dan ia sebagai ketua kelompoknya. Dalam kelompok ini, ia juga mengajak istrinya, Ibu Marwiati, bersama-sama ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya untuk ikut bergabung sebagai anggota. Mereka bersama-sama mengelola kegiatan kelompok dengan berbagi bermacam tugas.

Melalui Program GADING, personel Rumah Energi beberapa kali telah menggelar pertemuan kelompok untuk memfasilitasi peraturan bersama kelompok. Tujuan dari penyusunan aturan bersama ini adalah untuk menjamin keberlangsungan kegiatan dan kekompakan kelompok. Selain itu, pelatihan Program GADING juga mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan kelompok, antara lain:

  • Pelatihan pemanfaatan bio-slurry sebagai pupuk organik.
  • Pembuatan pupuk cair serta pestisida cair berbahan dasar bio-slurry (padat dan cair).
  • Pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan dasar bio-slurry dan lemna.
  • Pelatihan dasar pengembangan bisnis bio-slurry.
  • Pelatihan pelatihan yang berkaitan dengan peternakan.

Beberapa produk yang sudah dihasilkan oleh kelompok ini adalah pupuk organik padat dalam kemasan karung 20 kg dan kemasan plastik 5 kg, dan pupuk cair dalam kemasan botol ukuran 1 liter. Pupuk organik padat dijual Rp. 1.000,- per kg, sedangkan pupuk cair kemasan botol 1 liter dengan harga Rp. 15.000,-.

Bapak Samad dan bio-slurry cair dalam kemasan botol siap jual

Saat ini kelompok yang dipimpin oleh Bapak Samad juga sedang bekerja sama dengan Universitas Mataram Fakultas Pertanian dalam pembuatan demplot bio-slurry, khusus untuk tanaman hortikultura seperti tomat, cabe, kacang panjang dan terong. Bapak Samad berharap dengan adanya demplot ini, dapat menjadi bukti bahwa dengan menggunakan pupuk organik akan dihasilkan juga sayuran-sayuran yang sehat dan ramah lingkungan. Diharapkan juga petani dan peternak di wilayah dusunnya mulai dapat menggunakan pupuk yang ramah lingkungan untuk memperoleh hasil pertanian yang sehat.

Share this: