Jalan Panjang Menuju Dunia yang Lebih Baik

25 Oktober 2016

Kisah tentang Yayasan Kristen Trukajaya, salah satu mitra konstruksi Biogas Rumah (BIRU).

“Dahulu saya selalu bertanya kepada para senior, orang yang lebih berpengalaman di LSM-LSM, mengapa mereka mau berkecimpung di dalamnya?  Jawabannya selalu: ‘akan ada saatnya, di suatu waktu, dan akan mengetahuinya. Apakah anda di sini hanya untuk mencari uang, atau karena panggilan jiwa?”

Ini adalah kata-kata Bagus Indra Kusuma, Manajer Program di Yayasan Kristen Trukajaya di Salatiga, Jawa Tengah. Bagus mengakui selama wawancara bahwa ia sempat keluar dari organisasi tersebut tahun 2009, dengan mengatakan ia belum menemukan jawaban yang dicarinya. Menjelang akhir tahun 2010, ia bergabung kembali.

Kantor Trukajaya tidak seperti apa yang diperkirakan banyak orang sebagai yayasan Kristen. Bangunannya berbentuk rumah gebyok tradisional Jawa, dengan pilar kayu jati yang kokoh yang saling mengunci tanpa paku untuk menopang atap genting yang curam – berfungsi sebagai pendingin udara alami.  Poster-poster yang terpampang di dinding bertema anti-korupsi dan anti-privatisasi sumber air, dukungan terhadap penghutanan kembali, dan dukungan terhadap pertanian organik. Tunggu dulu, apa hubungan pertanian organik dengan sebuah Yayasan Kristen?

Yayasan Trukajaya adalah organisasi sayap informal dari sinode lokal Gereja Kristen Jawa, dikenal sebagai diakonia – atau sebuah organisasi yang peduli akan kaum miskin. “Tahun 1992 kami memulai sebuah program untuk pemberdayaan masyarakat desa,” ujar Bagus, “satu dari empat pendekatan adalah lewat pertanian organik.”

Direktur Trukajaya, Kristin Damayanti, menjelaskan penduduk desa yang berpartispasi dalam program adalah para petani. “Pertanian organik adalah cara untuk meningkatkan martabat mereka,” ujarnya, “mereka dapat memenuhi kebutuhan finansial mereka secara lebih mandiri. Tanah mereka menjadi subur, mereka bisa menekan pengeluaran, dan harga jual hasil pertanian mereka lebih tinggi.” Para petani, khususnya di Jawa, dianggap sebagai lapisan masyarakat paling bawah. Pertanian organik adalah jalan keluar dari kemiskinan dan ketersisihan sosial.

Pendekatan ini membuat Trukajaya tertarik pada biogas. Minat mereka sebenarnya bukan pada gas itu sendiri, namun pada sisa-sisa fermentasi yang dikenal sebagai ampas biogas. Ampas biogas adalah pupuk berkualitas, dan siap digunakan setelah melewati proses di dalam reaktor  biogas. Yayasan Trukajaya memandang banyak petani di pedesaan yang memiliki dua atau tiga ekor sapi, namun menyia-nyiakan kotorannya. Jadi, gas untuk memasak adalah “tambahan” untuk memiliki sendiri ‘mesin’ pupuk.

Sejak awal tahun 1990-an, Trukajaya telah memulai eksperimentasi dengan berbagai jenis reaktor biogas. Mereka mulai dengan jenis reaktor biogas berkubah dua yang dibangun dari batu bata, setelah itu mereka bereksperimen dengan reaktor berbentuk terowongan, dibangun dari silinder beton yang biasanya digunakan untuk membuat sumur. Biaya untuk membangun semua ketel pengolah ini tergolong mahal, dan membutukan ketrampilan untuk pemeliharaannya seperti misalnya ketrampilan mengelas.

“Model yang diperkenalkan oleh BIRU lebih murah, tidak harus menggunakan banyak bahan,” ujar Kristin, “reaktor yang telah kita bangun masih bekerja dengan baik, dan sejak 2011 kami telah membangun lebih dari 200 unit.”

Organisasi-organisasi mitra membangun dan mempromosiskan biogas. Para staf BIRU bertindak sebagai pelatih dan pengawas teknis, dengan kantor yang mereka kelola di masing-masing provinsi. Kontrak antara para mitra dan BIRU direvisi setiap tahun, dan masing-masing mitra diberikan target untuk membangun seratus reaktor setiap tahun.  Para mitra ini terdiri dari perusahaan-perusahaan konstruksi, LSM, hingga yayasan-yayasan keagamaan seperti Trukajaya.

“Kami hadir di sini tidak untuk menyebarkan agama,” ujar Kristin, “kami di sini hadir untuk melayani kaum miskin. Meskipun kami orang-orang Kristen, kami di sini tidak hanya membantu kaum Kristen. Agama kami mengajarkan kepada kami untuk peduli kepada semua orang, sehingga pekerjaan kami adalah ekspresi keimanan kami.”

Inilah yang mendorong Trukajaya. Nama mereka berasal dari Bahasa Jawa Kuno, dan artinya “jalan panjang menuju dunia yang lebih baik.’  Yayasan ini didirikan pada tahun 1966 untuk membantu migrasi dari banyak keluarga orang Jawa yang miskin, yang dipindahkan ke pulau-pulau di luar Jawa yang tidak terlalu padat di kepulauan ini selama rezim Soeharto.

Biogas saat ini adalah satu dari proyek di Trukajaya, yang termasuk di antaranya advokasi, mitigasi perubahan iklim, dan kewirausahaan. Ada tumpang tindih. Contohnya, mereka membantu individu-individu untuk membangun usaha penjualan pupuk, dengan menggunakan ampas biogas sebagai bahan dasarnya. Mereka juga bertindak sebagai penampung hasil produksi pertanian organik dari para anggotanya yang menggunakan biogas, dan menyalurkan sayur mayur ke supermarket-supermarket.

Saya bertanya pada Bagus, 5 tahun sejak ia kembali, apakah ia telah menemukan jawabannya. “Saya masih berusaha untuk memahaminya,” ujarnya, sambil merenung, “namun melalui Trukajayalah saya mendapat pelatihan. Saya telah melakukan perjalanan ke Korea – bahkan saya berjumpa dengan istri saya di sini.”

“Saya juga berjumpa dengan suami saya lewat Trukajaya,” ujar Kristin, yang tampak bersemangat untuk ikut dalam pembicaraan. “Untuk saya ini pastinya adalah panggilan jiwa. Saya merasa nyaman bekerja di sini: Kita tidak berada di bawah bayang-bayang dari mereka yang lebih baik dari kita, namun membantu mereka yang membutuhkan. Saya merasa telah banyak belajar tentang kehidupan dengan bekerja bersama masyarakat pedesaan, bagaimana mereka menyambung kehidupannya sehari-hari yang acapkali yang penuh kesulitan. Situasi ini memaksa anda untuk lebih rendah hati.”

Sebelum kami mengakhiri wawancara, Manajer Bisnis Yayasan Trukajaya, Ratna Puspitaningtyas, juga ikut bergabung dengan obrolan kami: “Saya juga bertemu dengan suami saya di sini,” ujarnya, semua orang kemudian tertawa bersama-sama. “Namun, saya juga menjadi lebih gemuk. Banyak orang yang ingin mengucapkan ‘terima kasih,’ jadi apabila kita datang dan berkunjung, tiba-tiba makanan sudah disajikan.” Mereka sempat saling berdebat terkait dengan kenaikan berat badan, sebelum akhirnya dicapai kesepakatan, “namun yang paling asyik itu saat musim mangga, benar-benar sebuah berkah.” (Joshua Parfitt)

Share this: