Bukan Pengusaha Biasa

17 Oktober 2016

Ibu Sayem

Jalan menuju Kecamatan Getasan, Semarang, berkelok-kelok menempuh lereng Gunung Merbabu. Jalannya pun berlubang, seketika kami memperlambat mobil saat melewati rombongan pengantar jenazah ke pemakaman, Beberapa saat sebelum kami sampai di rumah Bapak Harjonokosno di lereng bukit yang dipenuhi pohon-pohon bambu.

Dari belakang rumah muncullah seorang Ibu tua menyapa kami. “Bapak Harjonokosno lagi layat,” katanya, sambil mempersilakan kami masuk dengan malu-malu. Ia adalah Ibu Sayem, orang yang sebenarnya kami ingin kunjungi. Kami mendengar kabar bahwa ia memiliki usaha rumah tangga yaitu membuat donat. Ia kemudian mengantar kami ke dapur, terlihat adonan donat menggelembung sampai menutupi sisi mangkuk, seolah-olah meminta agar segera dibentuk dan diisi dengan coklat, strawberi ataupun dibentuk dengan lubang di tengah dan diselimuti gula.

Ibu Sayem adalah contoh bagaimana biogas bisa diterapkan dengan kreativitas untuk usaha sampingan, khususnya yang dijalankan oleh wanita. Di dalam dapur, tampak jelaga karena puluhan tahun terkena asap kayu, ia menyalakan api yang biru cerah dari kompor biogasnya. “Nanti sore kami akan bikin dua ratusan donat,” katanya. Kami ternyata tiba terlalu awal.

Sepertinya usaha sampingan menjadi pekerjaan pokok dalam rumah tangga ini. Di halaman belakang, kawanan enthok mematok celana saya. Melewati kandang sapi saya harus menghindari karung singkong, ketela rambat dan rumput gajah untuk empat ekor sapi perahnya. Menuju kembali ke ruang tamu, saya melewati bengkel akuarium milik menantunya, lalu sebuah meja dengan susunan potongan kayu triplek, kemudian tas-tas yang penuh dengan pakaian anak-anak, yang juga dijual Ibu Sayem pada saat “waktu luangnya.”

Saya bertanya kepadanya, kapan waktu istirahat? “Di atas jam sepuluh banyak kok,” jawabnya dengan tersenyum. “Biasa, orang desa,” katanya. Ia menengok sekeliling lalu meminta maaf karena rumahnya “tidak pernah bersih.”

Untuk mata yang tak terbiasa, betul tempatnya berantakan. Tetapi, setiap rumah punya irama sendiri-sendiri. Donat dijual pada saat anak perempuan Ibu Sayem mengantar cucu ke sekolah. Donatnya dititipkan di warung-warung pinggir jalan, kemudian uangnya diambil pada sore hari. Keuntungan dari usaha ini membiayai cucunya bersekolah serta membelikan kaca untuk usaha akuarium menantunya. Sementara Ibu sayem menyusun potongan kayu untuk dijadikan triplek, suaminya memerah susu. Demikianlah roda pekerjaan terus berputar.

“Biogas adalah berkah Tuhan,” kata Ibu Sayem. Biogas membuatnya menghemat waktu dan biaya karena pengeluaran untuk LPG dapat dikurangi sekitar dua pertiga. Selain itu Ibu Sayem tidak lagi dibebani dengan mengambil kayu di ladang. Ia bersyukur dapat memanfaatkan waktu luangnya mencari rumput gajah untuk sapi yang dipeliharanya.

Ibu Rumiyati

Tidak jelas apakah ruang tamu di rumah Ibu Rumiyati betul ruang tamu atau warung. Di dinding-dinging digantungkan dompet, tas dan penutup tudung saji yang terbuat dari kain perca. Tidak ada foto-foto keluarga di lemari di sudut ruang, tetapi tampak selimut dan kain sprei.

Tidak jelas juga pekerjaan Ibu Rumiyati apa sebenarnya. Tujuh tahun silam ia melihat kain perca hasil dari jasa jahitnya begitu menumpuk di sebelah meja. “Saya berpikir, bagaimana bisa menjadi uang?,” saat ini hasil kreasinya

dipasarkan dari rumahnya hingga Jalan Malioboro, tempat wisata yang begitu terkenal di Yogyakarta.

Beberapa tahun lalu, sumber limbah yang lain menarik perhatiannya dan menantang kreativitasnya. Saat itu bau dari kotoran burung puyuh mulai dipermasalahkan masyarakat setempat. “Saya berpikir bagaimana limbah puyuh bisa dikelola?,” katanya. “Dulu kan hujan sampah di sini, bagaimana bikin hujan emas?.”

Setelah ia mengetahui tentang biogas, ia membentuk kelompok ternak puyuh di dusunnya. Ia mengundang tim Biogas Rumah (BIRU) untuk mensosialisasikan biogas, lalu ia mengajukan pembangunan reaktor biogas kepada PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), yang masih berjalan waktu itu. Pengajuannya berhasil, dan ia menerima dana untuk lima buah reaktor biogas.

“Tapi ini belum sukes lho,” kata Ibu Rumiyati berterus-terang. Di belakang dapur terdapat kandang puyuh peliharaanya, tempat yang hanya beberapa bulan silam menjadi korban akibat flu burung. “Semua burung puyuh di dusun mati,” katanya, “reaktor saya yang satu-satunya masih jalan.” Biaya untuk 3.000 burung puyuh sekitar 30 juta rupiah, jumlah uang yang besarnya bukan main untuk keluarga petani seperti Ibu Rumiyati, apalagi dengan seorang anak yang sedang kuliah.

Akhirnya Ibu Rumiyati bersama suaminya membeli anak burung puyuh, dan meletakkan tangki besar di sebelah kamar mandi, untuk membuat pupuk cair organik. Bahan dasarnya ia ambil dari reaktor biogas, yang menghasilkan gas masak dan ampas dengan nutrisi tinggi dan tidak berbau, yaitu bio-slurry. “Barangkali kehendak Allah burung puyuh saya mati,” katanya. “Kita tidak pernah bisa tau dimana bintang akan jatuh, tetapi saya tidak akan pernah berhenti bermimpi tentang bintang saya.”

Pupuk cair organiknya sudah dua tahun terjual, tetapi permintaannya tidak banyak. Ibu Rumiyati mengeluh karena petani-petani di kampung malas memakainya, karena penyesuaian lahan dari pupuk kimia ke pupuk organik bisa memakan waktu tiga tahun sebelum terlihat manfaatnya. Petani di dusun masih ingin semuanya berjalan instan. Padahal dari pengalaman seorang teman akrab menunjukkan hasil panen padi yang meningkat dua kali lipat, tomat yang lebih cepat matang, dan tanah yang subur dan sehat.

Ibu Atun

“Kami wanita susah,” kata Ibu Atun di luar kandang sapi dekat Gunung Merapi, Yogyakarta. “Kami sering mentok maka selalu harus ada ide kecil-kecil.”

Ibu Atun adalah seorang anggota Yayasan Seraphine Bakti Utama. Yayasan Katolik tersebut memiliki misi yaitu menanamkan jiwa kewirausahawan, mengembangkan pendidikan dan menumbuhkan kesadaran ekologis. Beberapa tahun silam, ketika bekerja di salah satu sekolah TK (Taman Kanak-Kanak) milik yayasan, ia sempat berpikir.

“Dulu kan kami kerjasama dengan Nestle untuk susu,” katanya, “kok kita mengeluarkan banyak sekali uang sedangkan kita bisa menghasilkannya sendiri?.” Lokasi di dekat Gunung Merapi terpilih, karena masyarakat setempat masih sedang pulih setelah letusan beberapa tahun sebelumnya. Usaha susu dimaksudkan untuk membantu ibu-ibu dan anak-anak supaya kembali berdikari. “Ini hakekat manusia: untuk menghasilkan uang secara baik,” katanya.

Beberapa tahun setelah usaha susu mulai berkembang jalannya menjadi terhambat. Tabung LPG tidak selalu dapat diandalkan di desa-desa sekitar Yogyakarta, seringkali tidak tersedia di warung. Ibu Atun mendengar tentang adanya biogas, akhirnya ia membayar organisasi lokal untuk membangun reaktor di lahannya. Setelah selesai membangun, biogasnya tidak ada. Ternyata reaktor bocor di mana-mana, gasnya hilang seperti uap keluar ketika menanak nasi. Namun, ia tidak putus asa, “ketika ada sesuatu tidak berjalan dengan baik, pasti ada cara lainnya,” ujarnya, “saya seperti itu orangnya.”

Seperti suda ditakdirkan, Ibu Atun menemukan seorang petani di sekitar kampung yang pemakai reaktor Biogas Rumah (BIRU). Kompornya menyala. Berkali-kali ia mengunjungi rumah petani itu, memperhatikan pipa dan sambungan, meyakinkan diri bahwa idenya bisa diwujudkan. Sayangnya, rekan-rekannya tidak bersedia mendanai proyek baru. Mereka baru saja mengeluarkan uang banyak untuk reaktor yang rusak, untuk apa banting tulang lagi?

Ibu Atun mulai bergerilya.

“Ada masa satu tahun saya memimpin yayasan, maka saya pakai kebijakan sendiri,” katanya. “Waktu itu penasehat ekonomi sedang ke Polandia, suster-susternya sedang ke Jakarta, kemudian ada suster pimpinan unit sedang sakit. Menipu lho itu sebetulnya! Saya jual dua ekor sapi punya yayasan, saya dapat uang 20 juta rupiah kemudian uang tersebut saya pakai untuk membangun biogas.”

Hasilnya luar biasa. Biogas dari reaktor baru tidak hanya bisa menyala, tetapi menghematkan uang dua juta rupiah per bulan untuk pengurangan LPG. Ia mengundang semua staf untuk menengok ke lapangan, kemudian semuanya tidak mempermasalahkan dan ia mendapat dukungan dari semuanya.

“Rasanya seperti saya mempunyai piala paling besar selama hidup saya. Kemenangan pertama saya selama 20 tahun di yayasan lho,” katanya, bersinar. “Dulu kan saya tidak dipercayai, setelah biogas berhasil, semua urusan diserahkan 100 persen sepenuhnya kepada saya. Saya senang, sekarang saya mencari dan mendapatkan solusi, mencari dan dapatkan solusi lagi.”

Bakat Ibu Atun dalam berwirausaha telah mempengaruhi banyak orang. Siswa-siswa yang dulu dibiayai yayasan sekarang menjual susu di sekolah sebelum masuk kelas. Ada beberapa siswa yang menghasilkan uang sampai satu setengah juta rupiah setiap bulan, cukup untuk membiayai pendidikannya. Ibu-ibu di sekitar kampung mulai bergabung juga, mereka menitipkan susu di warung-warung sambil mengantar anak, lalu memanen keuntungan ketika pulang.

“Sambil belajar sambil jalan,” kata Ibu Atun. Dengan memakai sandal jepit, ia membawa saya ke bangunan bambu, tempat lahir proyeknya yang baru. Bukan hal yang mengjutkan, ia sudah mulai memikirkan usaha yang lainnya, yaitu bio-slurry (ampas biogas), ia menunjukkan tumpukan tanah berwarna hitam sedang menunggu dimasukkan ke dalam karung sebagai pupuk padat organik. Sudah tujuh pekerja yang dikerahkan di kandang. Ia juga sering menerima anak magang bahkan dari Vietnam dan sering menerima kunjungan dari sekolah-sekolah.

Saya minta foto Ibu Atun bersama dua orang ibu yang membantu Ibu Atun untuk memanaskan, memberikan perasa susu dan mengemasnya dalam botol. Ternyata mereka sangat malu, tidak mau keluar. “Saya kelihatan kayak kandang sapi,” kata salah satunya, sembunyi di balik pintu. “Kertas ini terbalik, ya ampun!” teriak yang ibu yang lain, memegangi selembar kertas stiker untuk botol susu.

Bukan masalah sebenarnya. Lagipula, kita tidak tahu dimana bintang kita akan jatuh, bukan?. (Joshua Parfit)

Share this: