Dana Pemerintah Akan Mempercepat Perkembangan Program Biogas?

23 September 2016

Pendekatan program Biogas Rumah sedang berubah karena masuknya dana pemerintah.

Sejauh ini Program Biogas Rumah (BIRU) menjalankan pendekatan khusus terhadap energi baru terbarukan. Program ini dimulai pada tahun 2009 dengan bantuan dari SNV dan Hivos, dua lembaga swadaya masyarakat yang berpengalaman dari Belanda. Robert de Groot, Green Energy Coordinator at Hivos Regional office South East Asia, mengatakan, “biasanya perkembangannya sangat berhasil selama programnya berjalan, tetapi setelah program selesai dan dievaluasi semuanya bagus, dua tahun kemudian reaktornya tidak terpakai lagi.”

Untuk mengatasi masalah tersebut Hivos menjalankan pendekatan berbasis pasar. Artinya, program ini tidak memberikan reaktor biogas secara hibah, sebaliknya si pengguna wajib mengeluarkan uang mereka sendiri. Ini menciptakan adanya permintaan. Kemudian BIRU menjalin hubungan dengan mitra pembanguan biogas (construction partner organisation/CPO), melatih tukang, lalu membuka bengkel untuk pembuatan peralatan atau apliansi biogas. Ini kemudian menciptakan adanya persediaan/stok.

Manfaat pendekatan berbasis pasar cukup banyak. Pertama, sektor biogas bisa jadi menguntungkan, kedua adalah biogas berkualitas tinggi, sehingga meniadakan ketergantungan pada Hivos. Menurut de Groot, biogas hanya bisa “berkelanjutan dengan pendekatan berbasis pasar.”

Tahun ini salah satu mitra pembangun, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), telah menang dalam tender pemerintah untuk pembangunan 600 unit biogas. Enam ratus unit ini didanai penuh sebesar 7,2 milyar rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bentuk hibah. Sebelumnya, BIRU tidak pernah mengakui biogas yang didanai pemerintah, tetapi belakangan baru mengubah kebijakan.

Mas Dwi, Direktur Eksekutif PINBUK, bersemangat membicarakan peluang ini. Beliau mengatakan bahwa pemerintah berkewajiban untuk menyejahterakan masyarakat. Tujuan ini sama dengan tujuan PINBUK. “Pemerintah punya program, anggaran. Kenapa tidak sinergi saja? Bayangkan kita sama-sama ke Jakarta, saya pakai sepeda onthel, tetapi anda punya kereta api. Jauh lebih efisien kalau saya numpang dulu kan?,” kata beliau.

Dari hubungan seperti ini, PINBUK juga dapat mempengaruhi kebijakan. Misalnya, standar nasional (SNI 7826-2012) untuk reaktor biogas adalah hasil usulan dan pembahasan antara Hivos bersama salah satu mitra dan pemerintah dalam hal ini ESDM. Sekarang, desain reaktor yang sudah mendapat SNI menjadi salah satu persyaratan penting dalam tender pembangunan bigoas pemerintah. Hingga saat ini hanya 2% reaktor BIRU, yang hampir sama dengan SNI 7826-2012, dilaporkan mengalami kerusakan secara teknis.

PINBUK sedang berusaha supaya lisensi untuk para tukang pembangun biogas dapat dikeluarkan. Dengan lisensi tersebut, maka akan memperkuat kualitas biogas yang didanai pemerintah.

Cara yang lain lagi telah diuji coba oleh Willem Leang, Koordinator Provinsi Jawa Tengah dari Program BIRU/Rumah Energi. Beliau pernah melihat sendiri penyebaran biogas secara hibah berakhir buruk. “Hibah hanya memanjakan masyarakat, sehingga tidak kreatif, tidak ada usaha. Kalau dia mengeluarkan uang sendiri untuk bangunan itu pasti akan dirawat sebaik mungkin,” kata beliau, “di Rembang saya coba pendekatan yang lain.”

Di Rembang, Jawa Tengah, PINBUK pada tahun 2013 memenangi tender untuk 25 unit biogas. Willem mewajibkan persyaratan bahwa penggalian harus dikerjakan si pengguna terlebih dahulu. Konsumsi untuk tukang dan tenaga kerja lainnya harus disiapkan oleh si pengguna selama pembangunan berlangsung. Setiap pengguna wajib terlibat dari awal, sehingga bisa memahami secara baik bangunan tersebut, dan menimbulkan rasa memiliki.

Pendekatan tersebut diterapkan oleh PINBUK dalam projek selanjutnya. “Kalau sedang hujan, kita tidak keberatan air kita buang-buang,” kata Mas Dwi mengandaikan. “Tetapi, kalau kita mencari atau mengumpulkan air sendiri, kita pasti akan memperhatikannya. Nah, masalahnya bagaimana kita bisa memastikan mengelolanya dengan benar?”

Tender biogas di DIY dilakukan pada bulan Mei 2016, dan dimenangkan oleh PINBUK. Sejauh ini sudah ada sekitar 300 unit biogas terbangun, yang selanjutnya direncanakan akan selesai pada akhir bulan Nopember tahun ini.

Saat ditelpon, Robert de Groot sangat mendukung kemenangan ini. Menurut beliau, PINBUK membanggakan Program BIRU sebab mereka adalah mitra yang berkualitas. “Pasar biogas ini sebaiknya tidak dikontrol. Kalau ada mitra yang bisa cari kerja di luar kita, itu luar biasa. Hal itu akan memperkuat sektornya.”

Meskipun demikian, de Groot tidak menyangkal beberapa masalah bisa timbul. Beliau mengakui, “bisa saja jadi sulit akhirnya mengajak orang kalau mereka menunggu reaktor gratis yang berikutnya.” Menurut beliau, sebaiknya kebijakan bisa diubah lagi sehingga paling tidak 30% dari harga jual sebuah reaktor ditanggung oleh si pengguna.

Terdaftarnya reaktor biogas pemerintah dalam database BIRU membawa kelebihan sendiri yaitu perawatan purna-jual serta garansi selama tiga tahun. Hanya reaktor yang dibangun sesuai dengan standar SNI 7826-2012 dan dibangun oleh para tukang BIRU yang terlatih dapat didaftarkan ke BIRU. (Joshua Parfitt)

Share this: