Biogas Menjadi Primadona dalam Lomba Desa Mandiri Energi

Pada tanggal 15 Agustus 2015, Provinsi Jawa Tengah merayakan hari ulang tahunnya ke-66. Di tengah acara perayaannya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, membacakan hasil Lomba Desa Mandiri Energi 2016, dimana proyek-proyek biogas menang sebagai juara di peringkat pertama, kedua, dan ketiga. Menurut Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, pelaksanaan lomba ini bertujuan untuk “mendorong peran aktif masyarakat dalam pengembangan, penyediaan, pemanfaatan serta pengelolaan energi baru terbarukan (EBT) dengan prinsip konservasi dan atau diversifikasi.”1

Peningkatan energi baru terbarukan diwajibkan oleh pemerintah nasional untuk menanggulangi pemanasan global serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Di Provinsi Jawa Tengah kegiatan tersebut dipusatkan pada tingkat desa, dalam pengembangan Desa Mandiri Energi. Menurut Dinas ESDM Jateng, “Desa Mandiri Energi adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60% kebutuhan energi dari energi terbarukan yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumber daya setempat.”2

Peternak sapi perah, Pak Yusmin berasal dari Desa Jetak, dipilih untuk mewakili Kabupaten Semarang dalam lomba tahun ini. Dari 35 kabupaten di Jawa Tengah yang masing-masing diwakili oleh satu desa, bapak yang berusia 70 tahun ini berhasil membawa desanya ke peringkat kedua, karena pemanfaatan reaktor Biogas Rumah (BIRU) yang cukup banyak di desa tersebut.

Desa Jetak sendiri mempunyai 86 reaktor biogas yang digunakan untuk memasak bagi 175 rumah tangga. Selain pengurangan LPG, Desa Jetak juga dapat memenuhi kebutuhan akan bensin dan listrik. “Ada tiga orang yang  memakai mesin dan genset berbahan bakar biogas,” ujar Pak Yusmin, “dua diantaranya dipakai untuk pencacah rumput, yang satu lagi memakai genset untuk lampu dan mesin perah susu.”

Kenyataan tersebut membuat beberapa anggota juri theran saat diperlihatkan genset pada bulan Mei silam. Salah satu anggotanya, yaitu profesor dari Universitas Diponegoro yang mengatakan pernah mencoba menghidupkan genset dengan menggunakan biogas, tetapi gagal. “Juri dari PLN juga tidak percaya,” demikian kata Pak Yusmin, “orangnya bilang lho ini listrik? dari PLN? matikan genset! Kami matikan dan lampunya juga mati, kami hidupin dan lampunya nyala. Ternyata bisa.”

Meskipun telah menjawab ketiga kriteria tersebut, DesaJetak masih dikalahkan Desa Musuk, Kabupaten Boyolali. Menurut Pak Yusmin, DesaJetak dinilai masih kurang untuk jumlah reaktor biogas yang dibangun, Desa Musuk telah membangun 104 reaktor biogas. Pak Yusmin tetap bersemangat. Dengan uang hadiah sebanyak Rp.7,500,000,- beliau sudah membeli tiga buah genset yang baru. “Kalau mati lampu orang bisa pinjam,” ujarnya, “juga promosinya akan lebih gampang.”

Masih jauh perjalanan sebelum Desa Jetak layak disebut sepenuhnya sebagai Desa Mandiri Energi. Dengan adanya 1.000 Kepala Keluarga (KK) berarti baru 17.5% KK yang mandiri energi, namun dalam penggunaan biogas hanya dimanfaatkan untuk memasak saja. Meskipun demikian Pak Yusmin telah menerima begitu banyak kunjungan, baik dari Universitas Diponegoro, dari Desa Karasgede di Rembang yang mendapatkan peringkat ketiga, dari tim BIRU sendiri, serta sejumlah pengusaha dan ahli teknis yang lainnya. Semuanya tertarik dengan pembangkit listrik berbahan dasar biogas, bahkan telah memesan genset biogas.

Pak Yusmin mengharapkan kemenangan ini bisa juga menarik perhatian pemerintah daerah. Beliau telah bertemu dengan Kepala Desa, Sekretaris dan Badan Pengawas Desa di Desa Jetak untuk mengajukan sebagian Dana Desa disubsidikan ke pembangunan biogas. Subsidi tersebut dapat digabungkan dengan subsidi BIRU sebanyak Rp. 2.000.000,- untuk semua reaktor baru sesuai dengan standar BIRU.

Salah satu potret di dinding rumah Pak Yusmin memperlihatkan Pak Yusmin berdiri di samping Bupati Semarang ketika menerima penghargaan juara kedua Lomba Desa Mandiri Energi tahun 2012. Sambil menunjuk potret itu Pak Yusmin mengaku sempat merasa malu berbaur dengan orang-orang penting, sedangkan beliau hanyalah petani biasa. “Hanya lewat BIRU saya bisa bertemu dengan semua orang ini,” kata Pak Yusmin dengan berlinang air mata. Padahal semangatnya yang hidup di balik penampilan yang sederhana ini telah menjadikan Pak Yusmin seorang promotor Program BIRU. Beliau telah mengajak lebih dari 500 pengguna baru untuk mengatasi masalah lingkungan hidup setempat. “Tanpa biogas, hal ini tidak mungkin ini terjadi. Jiwa saya adalah BIRU.”

Note:
20 September 2016