Buah Manis dari Pepaya Bio-slurry

10 Maret 2016

“Arep bunuh diri opo si Rujuk kok nyiram kates e karo tlethong”, batin Giyat, salah seorang pekerja di lahan pepaya milik Rujuk Supriyanto. Giyat terkejut lantaran Rujuk melakukan tindakan bunuh diri karena memupuk tanaman pepayanya yang masih kecil dengan bio-slurry basah.

Kala itu, bibit pepaya masih baru seminggu ditanam bahkan masih belum ngelilir (red: bangun) saat disiram dengan bio-slurry basah. Sebanyak 930 bibit pepaya disiram dengan 4.000 liter bio-slurry basah, langsung pada batangnya.

Terang saja Giyat kaget dan was-was, karena  pengalamannya mengajarkan kotoran sapi menyebabkan tanaman mati karena ‘panas’. Giyat belum tahu yang disiramkan bukan kotoran sapi segar namun bio-slurry produk fermentasi dari reaktor biogas.

Ketika dilihat Giyat, tanaman pepaya bukannya mati tetapi justru tumbuh subur. Saat itulah baru ia berani menceritakan keraguan dan  rasa was-wasnya ke Rujuk. Bahkan pada pemupukan bio-slurry kedua, Giyat justru meminta agar dosis bio-slurry basah ditambah dua kali lipat menjadi 8.000 liter.

“Diwaregi ae (red: dikasih hingga kenyang saja)”.  pinta Giyat.

Cerita ini terlontar dari Rujuk ketika berbincang dengan Christina (MMO BIRU Jawa Timur) sambil mengenang betapa orang menganggap dirinya nekad saat memupuk pepaya dengan bio-slurry basah. Rujuk bukan pemain baru dalam perbiogasan dan per-pepaya-an. Bergabung dengan program BIRU Jawa Timur sebagai supervisor dari CPO LPKP pada Juni 2010 dan berubah status menjadi CPO sendiri dengan mendirikan sebuah badan usaha CV. Bumi Mitra Abadi pada Januari 2016.

Rujuk sudah membangun sekitar 300 reaktor di Kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung, Tuban, dan Bangkalan. Ia pun getol mempromosikan pemanfaatan bio-slurry di wilayah kerjanya di Ngancar, Kediri. Tak kurang ada empat pemain bio-slurry lahir atas kegigihannya berpromosi. Sang kakak, Priyo,  mengembangkan  dan menjual pestisida berbahan baku bio-slurry. Lalu Riyanto menjadi pelopor jasa pemupukan bio-slurry.  Sementara Sarianto sekarang menjadi juragan pupuk organik.

Tak berhenti disitu saja, Rujuk juga aktif otak-atik pemanfaatan bio-slurry. Budidaya lele dengan pakan bio-slurry serta budidaya sayur dengan pupuk bio-slurry sudah dilakoninya. Pengalaman memanfaatkan bio-slurry ditambah pengalaman menjadi petani pepaya di era 90-an membuatnya mantap menanam pepaya yang dipupuk dengan bio-slurry.

Harga buah stabil, jaringan pemasaran pepaya telah ada, serta melimpahnya bio-slurry menjadi sumber motivasi dan inspirasi Rujuk memilih kembali  bercocok tanam pepaya.

Bermodalkan tanah sewa seluas 4.200 m2, Rujuk mulai menanam 930 batang pepaya pada April 2015. Sejak itu, sudah dua kali lahannya dipupuk bio-slurry basah. Rujuk menyampaikan penggunaan pupuk kimia selama masa pertumbuhan pepaya berkurang sekitar 30%. Sekarang tinggal pemupukan rutin sebanyak 3 ons NPK setiap bulan dan aplikasi bio-slurry yang diulang tiap 3-4 bulan.

Opo tho rahasiamu, Juk (red: Apa sih rahasiamu, Juk) ?” selidik para petani pepaya sekitar dengan penasaran.

Penampakan tanaman pepayanya telah memikat hati dan mengundang pertanyaan petani pepaya lain. Jelas saja, dengan penambahan bio-slurry, tampak beberapa keunggulan, diantaranya pertumbuhan lebih cepat, bunga pertama langsung jadi buah, jarak antar buah lebih rapat serta waktu awal panen maju sekitar 1-3 bulan. Petani pepayapun ramai bertanya pada Rujuk akan rahasia budidayanya. Diantara mereka, adalah Rejo, seorang petani pepaya yang juga mempunyai usaha penjualan pupuk kimia . Hasilnya, Rejo dan dua petani (tetangga lahan) sudah meminta untuk mendapatkan aplikasi bio-slurry pada lahan pepaya mereka. Berikutnya, pasti banyak yang akan menyusul.

Panen perdana pada awal Desember 2015, hingga sekarang telah panen sebanyak 18 kali dengan terjual total 14 ton. Dengan bobot rata-rata per buah sekitar 3 kg dan harga Rp. 2.000,- per kg.

Rujuk sudah mengantongi uang 25 juta selama 3 bulan. Sungguh jumlah yang menggiurkan.

“Uang pepayanya saya gunakan untuk DP (down payment) Pick Up itu”, jawabnya sambil menunjuk Pick Up baru berwarna putih bersih yang terparkir di samping rumah.

“Kalau dihitung-hitung lebih untung beli Pick Up baru dibandingkan sewa Pick Up untuk operasional, makanya kami berani ambil Pick Up baru”, sambung Arik, istri Rujuk.

“Lha angsuran bulanannya?”, kejar Christina.

“Hahaha…yang  pasti ya dari penjualan pepaya berikutnya mbak”, gelak bapak satu anak ini menutup pembicaraan.

Pemanfaatan bio-slurry telah menjadi bagian dari pengurangan bea produksi pertanian yang pada akhirnya bisa memperlebar keuntungan bagi petani pengguna biogas dan bio-slurry.(CHP)

Share this: