Sumber Energi, Mengolah Limbah Menjadi Berkah

10 Januari 2016

Kompas – Rintik hujan di kawasan Bandung Selatan tidak menyurutkan niat ratusan warga berkumpul di Lapangan Terminal, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Minggu (20/12) pagi. Warga, yang mayoritas peternak sapi, antusias mendengarkan paparan dari staf Yayasan Rumah Energi mengenai pengolahan kotoran ternak menjadi biogas. Perhatian warga tertuju pada benda berbentuk balok dengan panjang 4 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 25 sentimeter. Benda itu contoh reaktor biogas.

Seorang teknisi dari Yayasan Rumah Energi (YRE), sebagai Lembaga yang memperkenalkan program Biogas Rumah (Biru) kepada masyarakat, menjelaskan satu per satu komponen di reaktor. Secara umum, reaktor terdiri atas empat bagian. Bagian pertama disebut inlet, sebagai tempat memasukan kotoran ternak. Inlet berbentuk tabung beton dan dilengkapi dengan alat pengaduk berbahan besi.

Bagian kedua adalah tangka reaktor yang terbuat dari beton, sebagai penampung kotoran ternak yang disalurkan dari inlet menggunakan air. Di bagian ini gas secara alami akan naik dan masuk ke pipautama. Dari sini gas dihubungkan ke kompor. Bagian ketiga, katup gas utama yang berfungsi mengatur distribusi gas ke kompor. Bagian keempat, penampung limbah biogas. Ampas biogas dapat digunakan sebagai pupuk organik dan pakan ternak.

Sebelum di promosikan di Pangalengan, Biru sudah digunakan oleh 16.438 rumah tangga yang tersebar di 10 provinsi, yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Koordinator Komunikasi dan Promosi YRE Angga Ariestya mengatakan, program Biru bertujuan menggantikan konsumsi elpiji rumah tangga dengan energi terbarukan, seperti biogas dari kotoran ternak. Program yang dibentuk atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Belanda itu juga bertujuan memanfaatkan limbah kotoran ternak menjadi pupuk.

Dalam memasarkan program Biru, YRE juga bekerja sama dengan kembaga lokal di tiap daerah. Lembaga tersebut kemudian dilatih sehingga memiliki kemampuan membangun konstruksi Biru.

Menurut Angga, pada umumnya setiap rumah tangga membutuhkan dua elpiji tabung 3 kg per bulan. Jika 16.348 pengguna Biru dapat lepas dari ketergantungan menggunakan elpji, berarti ada 32.696 elpiji tabung 3 kg yang dapat dihemat. “Yang perlu ditekan adalah elpiji dihasilkan dari fosil sehingga akan habis. Dengan penggunaan biogas, kita dapat menghemat penggunaan energi yang tidak terbarukan,� ujar Angga.

Dalam penggunaannya, tangki reaktor biogas terdiri atas berbagai ukuran, yaitu 4 meter kubik, 6 meter kubik, 8 meter kubik, 10 meter kubik, dan 12 meter kubik. Semakin besar ukuran tabung reaktor, semakin banyak kotoran ternak yang dibutuhkan dan gas yang dihasilkan. Untuk reaktor ukuran 4 reaktor kubik, dibutuhkan kotoran sapi minimal 30 kilogram (kg). butuh proses fermentasi selama 1-2 hari untuk menghasilkan gas. Namun, untuk selanjutnya, gas dapat terus diproduksi selama suplai kotoran sapi mencukupi.

Menurut Angga, seekor sapi menghasilkan sekitar 15 kg kotoran per hari. Peternak yang punya dua ekor sapi pun dapat menggunakan Biru. Takaran volume biogas tak dapat diperbandingkan dengan gas elpiji karena memiliki tekanan yang berbeda. Namun, menurut Angga, suplai kotoran sapi 30 kg akan menghasilkan gas yang dapat digunakan untuk memasak selama tiga jam.

Berbagi cerita

Dengan promosi Biru di Pangalengan, turut dihadirkan beberapa Lembaga mitra YRE, di sejumlah provinsi. Mereka berbagi cerita kepada pengunjung mengenai manfaat program biogas rumah tersebut. Selain itu juga, dipamerkan sejumlah produk dari ampas biogas dalam bentuk pupuk dan pakan ternak.

Pengurus Koperasi Agro Niaga, Kecamatan Jabung, Malang, Wahyudi (51), mitra YRE di Jawa Timur, mengatakan, penerapan biogas rumah memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli gas, tambahan penghasilan dari pupuk ampas biogas, dan kendang-kandang ternak menjadi lebih bersih.

Manfaat Biru juga dirasakan pelaku usaha kecil menengah di Desa Sukerare, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain untuk memasak makanan, biogas juga digunakan untuk merebus kain tenun untuk diwarnai. Saat ini lebih dari 35.000 rumah tangga yang menggunakan biogas di desa itu. “Awalnya kotoran ternak hanyalah limbah. Kini, warga bisa memanfaatkannya untuk menunjang usaha mereka,� ujar Krisna Wijaya, anggota staf YRE NTB.

Penerapan Biru tak hanya berkaitan dengan sisi ekonomi, tetapi juga lingkungan. Selama ini, sekitar 3.000 peternak sapi di Pangalengan tak memanfaatkan kotoran ternak dan kebanyakan membuang ke sungai. Alhasil, kualitas air dan ekosistem di sungai rusak.

Jika 3.000 peternak di Pangalengan memiliki minimal dua ekor sapi, sementar satu sapi per hari menghasilkan sekitar 15 kg kotoran, 90 ton kotoran sapi yang dibuang ke sungai setiap hari dapat dihindari. Tentu sayaratnya jika semua peternak memanfaatkan kotoran sapi, salah satu caranya diolah menjadi biogas.

Tertarik

Mendengar sejumlah manfaat biogas tersebut, banyak warga Pangalengan yang tertarik. Selain untuk mengurangi belanja di rumah tangga membeli gas, mereka juga ingin menambah penghasilan dari penjualan pupuk hasil ampas bigas tersebut.

Seorang warga Pangalengan, Arif (40), mengaku tertarik menggunakan Biru. Namun, keinginannya terbentur biaya pembuatan fasilitas Biru yang dianggap cukup mahal. “Saya tertarik karena biogas ini banyak manfaatnya. Tapi, saya tidak punya uang banyak untuk membelinya,� ujarnya.

Untuk membangun fasilitas Biru, dibutuhkan biaya Rp 8 juta-Rp 15 juta. Biaya itu belum termasuk biaya material, seperti semen untuk membuat tangka reaktor.

Besarnya biaya membangun fasilitas biogas juga dikeluhkan warga lain, Gunawan (27). “Kalau dapat diskon 50 persen, saya akan pasang di rumah. Selama ini kotoran sapi saya terbuang begitu saja,� ujarnya. Gunawan berharap uluran tangan pemerintah memberikan subsidi kepada warga yang ingin memiliki fasilitas biogas.

Hal serupa mungkin menjadi harapan sejumlah peternak sapi yang lain. Keinginan itu terbentuk biaya. Diharapkan segera ada jalan keluar agar keinginan mereka mendatangkan berkah dari pengolahan limbah jadi nyata. (TATANG MULYANA SINAGA)

(Sumber: Kompas, 10 Januari 2016)

Share this: