Liputan Biogas Wartawan BBC Indonesia di Lembang, Jawa Barat

16 Juli 2015

Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam menuju lokasi akhirnya kami tiba di lokasi, yakni di Kampung Areng, Desa Cibodas, Lembang – Jawa Barat. Setibanya di lokasi, wartawan media yang berbasis utama di London ini memperlihatkan ketertarikannya. Sesuai arahan, Ging langsung menuju reaktor Biogas Rumah (BIRU) yang merupakan milik bu Eti (38). Ia menanyakan perihal penggunaan biogas BIRU dan pemanfaatannya sehari-hari. Melalui uraian wawancara dengan bu Eti dan dibantu penjelasan dari quality inspector BIRU provinsi Jawa Barat, didapat beberapa informasi. Berdasarkan uraian tersebut, biogas digunakan sehari-hari untuk memasak dengan menggunakan kompor biogas sehingga tidak lagi membeli elpiji. Biasanya, ibu dengan tiga orang anak ini, menggunakan empat tabung kilogram elpiji untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setelah empat tahun menggunakan biogas BIRU, selama empat tahun pula ia tidak lagi membeli elpiji. Selain itu, hasilnya berupa bio-slurry padat digunakan untuk pupuk tanaman perkebunannya. Sedangkan bio-slurry cair digunakan untuk menyiram tanamannya. Cukup lama, Ging berada di rumah bu Eti. Selain wawancara, ia juga mengambil beberapa foto reaktor dan kompor biogas untuk sumber artikelnya.

Beranjak siang Ging menuju lokasi user kedua yang lokasinya tidaklah berjauhan. Sambil memperhatikan sekeliling, ia masuk ke dalam rumah kaca, tempat dimana peternakan cacing milik bu Nina (30). User kedua biogas BIRU adalah petani sekaligus peternak cacing. Ia pun tak sungkan lagi untuk segera mewawancarainya. Dengan semangat, bu Nina menjelaskan secara rinci bagaimana peternakan cacingnya dijalankan dari hasil penggunaan biogas miliknya. Ia menjelaskan bahwa BIRU sangat membantu mendorong produktivitas cacing ternak miliknya. Hasilnya dijual kepada perusahaan untuk industri farmasi dan kosmetik. Selain untuk peternakan cacing, bu Nina juga memanfaatkan bio-slurry untuk perkebunannya. Tanaman-tanaman sayur berupa tomat dan brokoli merupakan tanaman hasil perkebunannya.

Selesai melakukan wawancara dengan bu Nina, Ging melihat-lihat pemandangan sekitar yang terhampar luas perkebunan tomat dan brokoli, selain tanaman lainnya. Seketika ia melihat ada beberapa petani yang sedang melakukan pemupukan. Tak segan-segan dihampirinya beberapa petani itu. Ging pun bertanya apa yang mereka lakukan, dan mereka pun sontak menjawab sedang memupuk tanaman dengan pupuk bio-slurry. Hal ini menarik minatnya untuk kembali melakukan wawancara dengan petani-petani tersebut dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi.

Kelompok Karya Ibu

Ternyata banyak manfaat biogas yang diambil warga sekitar Kampung Areng ini. Ibu Eti misalnya, dengan menggunakan biogas dan memanfaatkan bio-slurry nya, ia mengurangi penggunaan pupuk kimia dan dapat menghemat sampai dengan seratus ribu rupiah. Kini, area perkebunannya yang mencapai 700 meter persegi ditanami tomat, rawit, brokoli, dan terong dengan menggunakan bio-slurry. Menurutnya, dengan bio-slurry ini ia dapat melakukan model pemupukan tumpang sari sehingga lebih produktif. Pupuk hasil bio-slurrynya pun bisa ia jual dalam bentuk pupuk kompos, bahkan dapat dikombinasikan dengan cacing menjadi pupuk kascing. Produksi pupuk yang dihasilkan mencapai 30 kilogram yang dijual dengan harga Rp. 25.000,-. Ini merupakan tambahan hasil bagi keluarga. Lain cerita dengan bu Nina, yang merupakan peternak cacing. Selain memanfaatkan bio-slurry untuk pertaniannya, ia juga memanfaatkannya untuk pertenakan cacing. Hasilnya sekali panen, ia dapat menghasilkan 100 kilogram dan dijual dengan harga Rp. 25.000,- per kilo.

Hal yang cukup menarik dalam kunjungan liputan wartawan BBC Indonesia ke Kampung Areng, Lembang, Jawa Barat adalah mengenai kelompok tani dan ternak Karya Ibu. BIRU secara tidak langsung ternyata memberikan andil terbentuknya panguyuban di lingkungan Kampung Areng. Setelah adanya BIRU, banyak petani dan peternak yang merasakan manfaat dari biogas. Akan tetapi banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana memanfaatkannya dan menjualnya. Ibu-ibu di Kampung Areng kemudian berinisiatif membentuk panguyuban dalam kelompok karya ibu. Anggotanya sampai saat ini telah mencapai tiga puluh orang dengan anggota aktif sebanyak lima belas orang. Tujuan mereka membentuk kelompok karya ibu adalah mendapatkan kemudahan dalam pengolahan limbah dan akses penjualan yang cepat. Selain itu, kelompok yang mulai berdiri sejak tahun 2012 ini juga mengembangkan usaha mereka dengan memproduksi makanan ringan untuk dijual. Bahkan, mereka juga membuka pelatihan bagi ibu-ibu di wilayah tersebut yang tidak aktif, baik karena baru melahirkan ataupun mengurus anak, untuk dapat membuat makanan ringan.

Tanpa terasa hari telah beranjak sore. Waktu menunjukkan pukul tiga. Kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan membawa hasil. Pengalaman menarik dari sebuah kelompok tani dan ternak yang mengolah limbah menjadi berkah. (AA)

Share this: