Hebat, Warga Pelosok di Sumba Masak Pakai Gas Gratis dari Kotoran Hewan

8 April 2015

detik.com, Sumba Timur – Hidup di daerah pelosok dan minim infrastruktur tidak membuat warga Desa Kamanggih, Sumba Timur, kehilangan kreativitas. Bahkan warga mampu memanfaatkan hal-hal yang dianggap tidak berguna menjadi sangat bermanfaat.

Kini, sehari-hari warga Desa Kamanggih memanfaatkan gas dari kotoran hewan untuk keperluan memasak. Bagi mereka, tidak perlu membeli Elpiji yang harganya terus naik.

Agustina, warga Desa Kamanggih, mengelola kotoran ternaknya untuk menghasilkan biogas. Hasil biogas disalurkan ke dapur rumah. Tinggal menyalakan kompor gas, api biru sudah menyala.

“Dua tahun saya masak pakai biogas, tidak keluar biaya. Apalagi di sini nggak ada namanya tabung Elpiji, jauh lokasinya. Biogas gratis dan bebas masak kapan saja tanpa takut kehabisan gas,” papar Agustina yang akrab disapa Ina saat kunjungan Menteri ESDM Sudirman Said ke rumahnya, Rabu (8/4/2015).

Ina mengungkapkan, dulu dirinya memasak harus menggunakan kayu bakar. Kemudian warga desa mendapat penyuluhan dari Hivos (lembaga non pemerintah internasional asal Belanda) untuk memanfaatkan kotoran hewan ternak.

“Tiap hari kita hanya tambah satu ember kotoran sapi ke bak penampungan. Kalau kotoran manusia juga bisa, tapi agak susah karena biogas ini tidak boleh terkena sabun. Kalau ada unsur sabun atau deterjen, kotorannya nggak bisa jadi gas. Sekarang 30 rumah di sini masak pakai biogas. Tiap rumah buat sendiri-sendiri,” ungkap Ina.

Di Sumba Timur, Kementerian ESDM melalui Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dan bekerja sama dengan Hivos, SNV, Kedutaan Norwegia, dan Yayasan Rumah Energi menggarap program Biogas Rumah (BIRU).

BIRU merupakan program pengadaan gas untuk memasak di rumah-rumah dengan bahan baku kotoran ternak, di mana sisa dari fermentasi biogas merupakan bioslurry yang berfungsi sebagai pupuk organik dengan kualitas yang sangat baik.

“Program ini dilatarbelakangi dengan kondisi masyarakat yang tidak memanfaatkan kotoran ternaknya secara maksimal. Kotoran ternak hanya menjadi limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan lingkungan, sehingga menimbulkan sanitasi yang buruk. Tapi dengan pemanfaatan biogas ini, masyarakat tidak hanya menggunakan untuk memasak tapi juga buat penerangan di rumah. Rata-rata tiap rumah bisa hemat Rp 50.000/minggu karena pakai biogas ini,” kata Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana.(rrd/hds)

Share this: