Nongkojajar Terobsesi Lepas dari Ketergantungan Elpiji

24 Maret 2015

Koran Sindo, Pasuruan – Sebagai sentra peternakan sapi perah, Kecamatan Tutur (Nongkojajar) di Kabupaten Pasuruan berobsesi melepaskan ketergantungan penggunaan bahan bakar elpiji.

Obsesi ini tidak berlebihan, mengingat 40% peternak sapi perah di sini telah memanfaatkan teknologi biogas sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Sejak gencar disosialisasikan tahun 2008 lalu, saat ini telah terbangun 1.350 reaktor biogas di 12 desa Kecamatan Tutur. Dimana satu reaktor dengan kapasitas delapan meter kubik mampu menyuplai kebutuhan gas ramah lingkungan pada dua rumah tangga.

Gas metan ini berasal dari kotoran minimal tiga ekor sapi yang selama ini dibuang sembarangan. Pada saat ini, lima pedukuhan, yakni Gunungsari, Ngepring, Dukutan, Cemoro, dan Kumbo, 100% warganya sudah memanfaatkan teknologi biogas untuk kebutuhan rumah tangga. Sejak menggunakan biogas yang instalasinya tersambung ke dapur, mereka tidak lagi menggunakan elpiji dan minyak tanah sebagai bahan bakar.

Melalui donasi Hivos, LSM lingkungan dari Belanda, para peternak mendapat suntikan dana seperempat dari total biaya pembuatan reaktor biogas yang mencapai Rp7,5 juta. Sisanya, dibiayai pinjaman Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar. Peternak mengangsur dengan menyisihkan hasil setoran susu sapi.

“Para peternak cukup menyatakan kemauannya membangun reaktor biogas. Mereka tidak dipungut biaya sama sekali. Seluruh biaya akan ditanggung koperasi. Mereka melunasi tiga dari biaya dengan sistem kredit yang disisihkan dari setoran susu,� kata Hariyanto, Penasihat KPSP Setia Kawan.

Menurut Hariyanto, meski tidak dibebani biaya sama sekali, untuk membangun kesadaran peternak dibutuhkan waktu cukup lama. Berbagai kekhawatiran menghantui benak para peternak tradisional itu. Bahkan, meski sudah banyak yang merasakan manfaat penggunaan biogas, masih dibawah 50% dari sekitar 6.000 peternak yang membangun reaktor biogas.

Munawaroh, 30, warga Desa Gendro Kecamatan Tutur, mengungkapkan, selama dua tahun menggunakan biogas, mampu menghemat biaya rumah tangga sebesar Rp400.000 per bulan. Dirinya sudah tidak lagi mengeluarkan biaya bulanan untuk pembelian elpiji.

“Pemakaian elpiji rata-rata 4-5 tabung per bulan. Sekarang sudah tidak lagi. Biogas ini juga bisa digunakan sebagai lampu penerangan yang dimodifikasi dari lampu petromak. Api biogas ini tenang, tidak pernah nggebros (meledak). Jadi, sangat aman,� kata Munawaroh.(ars)

Share this: