4 Desa di Pasuruan Gunakan Biogas dari Kotoran Sapi

20 Maret 2015

beritasatu.com, Pasuruan – Sebanyak empat desa di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur memanfaatkan biogas dari kotoran sapi sebagai pengganti elpiji atau kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Tercatat sebanyak 1.350 unit reaktor biogas yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Tutur. Angka tersebut sama dengan menampung kurang lebih 1.450 Kepala Keluarga (KK),” kata Penanggung Jawab Pengembangan Biogas, Kabupaten Pasuruan, Hariyanto, di Pasuruan, Jumat (20/3).

Ia menambahkan, sebanyak 1.350 unit reaktor biogas tersebut memiliki berbagai ukuran antara delapan hingga 10 meter kubik, sementara setiap KK atau dalam satu rumah terdiri maksimal dua KK memanfaatkan biogas dari kotoran minimal tiga ekor sapi.

“Harga untuk pemasangan reaktor biogas delapan meter kubik sebesar Rp 8 juta, termasuk pembangunan instalasi biogas dengan lahan minimal 3 x 5 meter untuk tempat instalasi biogas berupa pipa paralon,” ujarnya.

Masyarakat pengguna biogas, lanjutnya, mayoritas peternak sapi perah, sehingga pembayaran biogas yang dinilai mahal tersebut bisa diatasi dengan setoran susu sapi setiap bulan selama kurang lebih lima tahun di koperasi terdekat.

“Saya melihat setiap hari seekor sapi bisa menghasilkan 20 hingga 30 kilogram kotoran, apabila kotoran ini disia-siakan maka akan menjadi tidak berguna dan akan menimbulkan bau yang tidak sedap di lingkungan sekitar,” katanya.

Menurutnya, manfaat biogas selain menghemat pengeluaran setiap bulan untuk membeli elpiji maupun minyak gas, juga lebih aman hingga 30 tahun ke depan.

Sementara itu, warga pengguna biogas di Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Munawaroh, mengatakan penghematan dari penggunaan biogas setiap bulannya bisa mencapai Rp 350.000 hingga Rp 400.000.

“Setiap bulan bisa membeli empat hingga lima tabung elpiji ukuran tiga kilogram dengan harga Rp 18.500 setiap tabungnya, sekarang sudah mulai bisa menghemat dari pembelian tersebut,” katanya.

Alasan pemasangan biogas, lanjut dia, banyaknya kotoran sapi dan pada awalnya bingung untuk dibuang kemana karena tidak ada tempat pembuangan kotoran sapi dan selama ini dibuang ke sawah warga.

“Biasanya dibuang ke sawah ketika hujan, tetapi akan mencelakakan orang yang akan ke sawah karena terpeleset oleh kotoran sapi tersebut. Akhirnya dibuatkan instalasi reaktor biogas dan ampasnya menghasilkan pupuk,” ujarnya. (FIR/Antara)

Share this: