Semangat Terbarukan dari Lereng Burangrang

20 Maret 2015
Tini saat pengerjaan reaktor BIRU di rumahnya

Tak menentunya harga LPG belakangan ini membuat resah warga kaki Gunung Burangrang, tepatnya di  Kampung Pasirhalang, Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tini Suhartini, salah satu warga Pasirhalang, mengatakan, “Akhir-akhir ini kami sulit cari LPG melon di pasaran. Sekarang harga tembus Rp25.000 dan barangnya pun sering hilang di pasaran.” Hal serupa juga banyak dikeluhkan oleh masyarakat di desa yang mayoritas bekerja sebagai peternak sapi perah dan bertani itu.

Beruntung, keresahan warga kampung ini tak perlu berlarut-larut. KUD Puspa Mekar sebagai mitra pembangun BIRU memberikan solusi berupa fasilitas kredit pembangunan reaktor biogas BIRU. Artinya warga setempat mendapat kesempatan untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi perah untuk gas, tak lagi tergantung pada LPG.

“Saya sudah lama berkeinginan untuk membangun reaktor biogas ini. Teman sesama peternak saya di Lembang hampir semua sudah pasang. Karena itu ketika kemarin ada sosialisasi pembangunan reaktor biogas dari koperasi saya langsung mendaftar untuk dibangunkan,” kata Tini yang juga salah satu anggota koperasi KUD Puspa Mekar.

Selain mengurangi beban ekonomi, biogas juga dapat memperbaiki kualitas susu perahan.

“Jarak kandang saya agak jauh jadi sulit untuk bisa mendapat air hangat untuk membasuh puting sapi sebelum diperah. Sekarang saya sudah pasang biogas untuk dipakai di rumah dan di kandang jadi mudah untuk mendapat air hangat, tinggal masak di tempat. Jadi susu perahan saya lebih baik hasilnya karena tidak terkontaminasi,” jelas Tini senang.

Sumber energi baru terbarukan ini pun berdampak positif terhadap perekonomian warga karena selain biogas sebagai bahan bakar memasak dan penerangan, bio-slurry atau ampas biogas juga dapat dimanfaatkan sebagi pupuk siap pakai yang kaya unsur hara untuk pertanian tanpa perlu melalui proses dekomposisi (pengkomposan) kembali. Hal tersebut menjadi peluang usaha baru untuk dikembangkan, mengingat di wilayah sekitar banyak petani sayuran yang membutuhkan pupuk dasar (kompos). Tak jauh dari tempat tinggal warga juga terdapat sentra penjualan tanaman hias yang menjadi pusat belanja kebutuhan tanaman untuk pertamanan lanskap maupun rumahan (Abi)

Share this: