Atasi Kotoran Ayam? Biogas Solusinya!

4 Maret 2015
Hermanto dan Sunsufi di depan kandang ayam

Rumah dengan arsitektur gaya Jawa era 1960-an di Desa Kebon Agung, Wonodadi, Blitar itu tampak tenang, dikelilingi rindang pepohonan di pekarangan yang luasnya lebih dari dua kali lapangan voli. Sebagian adalah tanaman tahunan dengan daun yang lebat, membawa udara sejuk ke sekelilingnya. Terlebih saat angin berhembus pelan. Hilang segera segala lelah.

Hermanto (38 tahun) adalah sang tuan rumah. Seakan tak menyadari begitu langkanya hawa segar yang sedang kami nikmati, ia bersemangat sekali mengajak kami ke belakang rumahnya. Ada beberapa bangunan struktur kayu beratap genting dengan battery (kandang ayam  dari bilah bambu) yang luasnya melebihi luas rumah pemiliknya. Beberapa kandang masih kosong. Di kandang-kandang yang sudah terisi ayam, beberapa orang terlihat sedang membersihkan kotoran di bawah kandang, dan memberi pakan. Kesibukan rutin di sebuah kandang milik peternak ayam petelur. Ada sekitar 4.500 ekor ayam di sana

“Rencananya saya akan menambah hingga jadi 10.000 ekor ayam,” kata Hermanto.

Hermanto beternak ayam petelur sejak tahun 2007. Usahanya terbilang cukup lancar sehingga mampu menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya. Kendati demikian ada satu hal yang selalu dipusingkan oleh Hermanto: kotoran ayam. Dalam satu hari ada sekitar 225 kg kotoran ayam yang menjadi sumber polusi dan sumber gangguan kesehatan ayam peliharaannya. Kandungan amoniak yang ada di dalam kotoran ayam itu bisa berpengaruh pada penurunan nafsu makan yang selanjutnya berdampak pada penurunan produksi telur.

“Memang ada yang membeli  kotoran ayam, namun itu hanya di musim kemarau,” kata Hermanto. Hermanto sudah mencoba semua cara untuk mengatasi limbah kotoran ayam ini, seperti mengurug kotoran, memberi kapur hingga menuang karbol ke kotoran. Tak ada hasil yang memuaskan. Dia juga pernah membuat biogas sederhana dari drum plastik. Namun juga berujung pada kegagalan.

Adalah Rujuk Supriyanto, seorang supervisor biogas di wilayah Ngancar, Kediri, yang memberikan informasi tentang pembangunan biogas dan kemudian menarik minat Hermanto. Dari pertemuan pertama dengan Rujuk, Hermanto mendapatkan informasi tentang program BIRU di Jawa Timur. Seminggu setelahnya, Hermanto mengundang Rujuk dalam pertemuan kelompok untuk melakukan sosialisasi biogas di pertemuan kelompok tani.  Hanya butuh dua minggu  setelah sosialisasi bagi Hermanto dan istri untuk memutuskan pembangunan biogas di rumahnya.

“Tujuan utama adalah untuk pengolahan limbahnya bukan untuk gasnya. Saya pasrah, kalau biogas gagal, ya nasib,” kenang Hermanto. Uang senilai 9 juta rupiah dipertaruhkan oleh Hermanto untuk membangun biogas ukuran 12 meter kubik.

Dibutuhkan waktu hingga 28 hari sebelumnya akhirnya biogas Hermanto menyalakan api biru. Produksi gasnya pun lebih dari apa yang dibayangkan Hermanto. Niat awalnya yang membangun biogas hanya untuk mengatasi limbah segera saja berubah karena melimpahnya gas yang ia dapatkan. Hermanto memutar otak dan akhirnya menemukan ide untuk memodifikasi pemanas untuk khutuk (anak ayam) agar bisa digunakan dengan menggunakan biogas alih-alih elpiji yang biasa digunakan. Masa pembesaran anak ayam ini sendiri membutuhkan pemanas elpiji selama 30 hari. Jika Hermanto menggunakan pemanas modifikasi itu untuk biogas maka ada penghematan biaya pembesaran anak ayam hingga 50% atau sekitar 200-250 ribu rupiah.

Pasokan gas yang berlimpah dari reaktor BIRU juga bahkan menginspirasi Sunsufi, istri Hermanto untuk memulai industri rumah tangga dengan membuat emping jagung.

“Semoga filter belerang segera diproduksi massal, agar bisa menggunakan gas biogas tanpa khawatir belerangnya,” harap Hermanto. Ia tak sabar untuk memanfaatkan biogas untuk penggunaan mesin genset yang bisa ia gunakan untuk penerangan kandang, pompa air, chopper dan mixer pakan.

Selain biogas, Hermanto pun memanfaatkan bio-slurry sebagai pupuk untuk tanaman bunga di sekitar reaktor biogas, termasuk pepaya California.

“Semua pepaya ini saya pupuk dengan bio-slurry. Orang-orang yang melihat pepaya pun terheran-heran karena pertumbuhannya yang subur dan cepat berbunga. Bahkan sekarang ada saudara yang rutin mengambil bio-slurry untuk pupuk tanaman,” kata Hermanto senang.

Dengan populasi ayam yang ada sekarang, seharusnya ada 2 reaktor berukuran 12 meter kubik untuk mengatasi semua limbah dari kandang-kandang ayam milik Hermanto. Saat ini ia sedang mengumpulkan modal untuk membangun instalasi biogas kedua di rumahnya.

“Memiliki instalasi biogas itu sama dengan memiliki pabrik gas dan pabrik pupuk,” kata Hermanto sumringah.(CHP/MLG)

Share this: