Lima Tahun, Empat Belas Ribu Biogas BIRU Mengolah Limbah Jadi Berkah

12 Februari 2015

EBTKE – Lebih dari 70.000 orang Indonesia telah mendapatkan
manfaat dari 14.173 reaktor biogas rumah (BIRU) yang terbangun sampai
dengan 3 Februari 2015. Teknologi berbasis rumah tangga dengan cara
mengolah kotoran ternak, seperti sapi, babi dan unggas ini merupakan
program Hivos yang dikelola dalam kerangka kemitraan dengan Yayasan
Rumah Energi (YRE) dan SNV, dan menjadi salah satu program Direktorat
Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Dengan
dukungan dari Kedutaan Besar Norwegia dan program EnDev (Energizing
Development), saat ini program BIRU bekerja di 9 provinsi di Indonesia
yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali,
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sumba), dan menargetkan
perluasan wilayah kerja minimal empat provinsi pada 2015 ini.

“Keluarga-keluarga
peternak Indonesia yang telah menggunakan BIRU kini tak lagi perlu
mengkhawatirkan naiknya harga bahan bakar konvensional karena kebutuhan
gas telah terpenuhi, langsung dari kandang ternak mereka sendiri.
Seorang pengguna BIRU dari Desa Lembu, Bancak, Semarang misalnya,
mengatakan ia kini tak pernah lagi membeli elpiji untuk kebutuhan
memasak harian. “Sekarang kami punya sumber api sendiri untuk memasak
dan lampu,� kata Sriyatun.

Di desanya terdapat 96 reaktor biogas
yang mengantarkan desa tersebut meraih gelar Desa Mandiri Energi tingkat
Jawa Tengah pada 2014 lalu.

Selain manfaat tersebut, dari hasil
survey pada 2013, para pengguna BIRU mengatakan lingkungan rumah mereka
menjadi lebih sehat: asap di dapur lebih sedikit (79 persen), dapur
lebih bersih (72 persen), kandang ternak pun lebih bersih (69 persen).
“Bau sudah berkurang hingga 75-80 persen. Tidak ada tetangga yang protes
lagi. Kami puas dengan Biogas Rumah,� kata Abas (54 tahun) peternak
ayam potong dari Dusun Sodo, Sodo, Pakel, Tulungagung, Jawa Timur, yang
memulai usaha ternak ayam sejak 1999 dengan populasi 1.000-2.000 ekor.
Sebelum menggunakan biogas BIRU, usahanya sempat diprotes karena bau
dari peternakan mengganggu masyarakat di sekitarnya.

Biogas
memiliki manfaat lainnya. Laporan awal Soil and More International dalam
studi kelayakan peran bio-slurry (ampas biogas) dalam mendukung Climate
Smart Agriculture di Indonesia mengindikasikan potensi pengurangan
karbon antara 2-7 ton CO2e/ha/tahun jika petani menggunakan bio-slurry.
Bio-slurry, baik cair maupun padat, adalah pupuk organik yang sangat
baik untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan produksi tanaman budi
daya. Beberapa pengguna BIRU bahkan menjadikan bio-slurry sebagai bahan
campuran untuk pupuk vermikompos, pupuk bokashi, media budi daya jamur,
pupuk kolam serta pakan ikan dan belut, dengan hasil yang memuaskan.

Program
BIRU pun telah resmi terdaftar dalam skema karbon kredit Gold Standard
sejak 2013 dan mendapat pengakuan bahwa setiap reaktor yang terbangun
diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 3 ton CO2e per tahun.

Bersama
lebih dari 50 lembaga mitra serta lebih dari 1.200 pekerja pembangun
dan pengawas terlatih, program BIRU telah meningkatkan potensi sektor
biogas untuk dikembangkan dan mendatangkan manfaat berlimpah bagi
peternak, petani dan masyarakat Indonesia. Hivos, YRE, SNV bersama
dengan DJEBTKE berkomitmen akan terus mempromosikan energi terbarukan
untuk mewujudkan energi bersih yang berkualitas tinggi dan dapat dipakai
dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.

(Sumber: http://ebtke.esdm.go.id/post/2015/02/1/779/lima.tahun.empat.belas.ribu.biogas.biru.mengolah.limbah.jadi.berkah)

Share this: