“Saya Kini Tak Pernah Beli Elpiji Lagi untuk Masak Sehari-hari”

6 Februari 2015

KOMPAS.com, JAKARTA – “Saya kini tak pernah lagi membeli elpiji untuk memasak sehari-hari. Saya dan warga lainnya punya sumber api sendiri untuk memasak, dan menyalakan lampu di rumah,” ujar Sriyatun.

Perempuan 35 tahun ini merupakan keluarga peternak dan salah seorang pengguna biogas rumah (BIRU) dari Desa Lembu, Bancak, Semarang. Di Desa Lembu terdapat 96 reaktor biogas yang mengantarkannya meraih gelar Desa Mandiri Energi tingkat Jawa Tengah pada 2014 lalu.

Keluarga-keluarga peternak Indonesia yang telah menggunakan BIRU kini tak lagi perlu mengkhawatirkan naiknya harga bahan bakar konvensional karena kebutuhan gas telah terpenuhi, langsung dari kandang ternak mereka sendiri.

Sriyatun dan Desa Lembu adalah bagian dari 70.000 orang Indonesia yang mendapatkan manfaat dari 14.173 reaktor BIRU yang dibangun hingga 3 Februari 2015. BIRU merupakan program bersama antara Hivos, SNV, dan Yayasan Rumah Energi, di bawah koordiansi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (DJEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Kerjasama tersebut dibentuk untuk mendorong pemerintah daerah yang potensial dalam pengembangan BIRU di wilayah masing-masing. Program yang sejatinya diinisiasi pada 2009 oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda ini, menggandeng lembaga-lembaga lokal sebagai mitra untuk membangun dan mempromosikan bentuk energi terbarukan yang modern dan lestari bagi masyarakat Indonesia.

Dengan dukungan dari Kedutaan Besar Norwegia dan program EnDev (Energizing Development), saat ini program BIRU bekerja di 9 provinsi di Indonesia: Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sumba), dan menargetkan perluasan wilayah kerja minimal empat provinsi pada 2015 ini.

Bau berkurang

Selain manfaat energi murah, dari hasil survei pada 2013, para pengguna BIRU mengatakan lingkungan rumah mereka menjadi lebih sehat. Menurut mereka, asap di dapur jadi lebih sedikit (79 persen), dapur lebih bersih (72 persen), dan kandang ternak pun lebih bersih (69 perse).

“Bau sudah berkurang hingga 75 persen dan 80 persen. Tidak ada tetangga yang protes lagi. Kami puas dengan BIRU,� kata Abas (54 tahun) peternak ayam potong dari Dusun Sodo, Sodo, Pakel, Tulungagung, Jawa Timur.

Abas memulai usaha ternak ayam sejak 1999 dengan populasi 1.000-2.000 ekor. Sebelum menggunakan biogas BIRU, usahanya sempat diprotes karena bau dari peternakan mengganggu masyarakat di sekitarnya.

Manfaat biogas rumah lainnya adalah ampasnya (bio-slurry) berpotensi mengurangi karbon antara 2-7 ton CO2e per hektar per tahun. Ini didukung oleh laporan awal Soil and More International dalam studi kelayakan peran ampas biogas dalam mendukung Climate Smart Agriculture di Indonesia.

Bio-slurry, baik cair maupun padat, adalah pupuk organik yang sangat baik untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan produksi tanaman budi daya. Beberapa pengguna BIRU bahkan menjadikan ampas biogas ini sebagai bahan campuran untuk pupuk vermikompos, pupuk bokashi, media budi daya jamur, pupuk kolam serta pakan ikan dan belut, dengan hasil yang memuaskan.

Program BIRU pun telah resmi terdaftar dalam skema karbon kredit Gold Standard sejak 2013 dan mendapat pengakuan bahwa setiap reaktor yang terbangun diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 3 ton CO2e per tahun.

Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Energi, Lina Meutia Moeis, program BIRU telah meningkatkan potensi sektor biogas untuk dikembangkan dan mendatangkan manfaat berlimpah bagi peternak, petani dan masyarakat Indonesia.

“Kami bersama dengan 50 lembaga mitra serta lebih dari 1.200 pekerja pembangun dan pengawas terlatih, berkomitmen akan terus mempromosikan energi terbarukan untuk mewujudkan energi bersih yang berkualitas tinggi dan dapat dipakai dengan mudah oleh masyarakat Indonesia,” tutur Lina dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (6/2/2015).

Share this: