Empat Tahun Terakhir Tak Pernah Beli Elpiji

14 Januari 2015

KORAN SINDO, BANTUL – Tak ada yang berbeda antara rumah Tugiyo dengan rumah tangga lain di Dusun Gulon, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong.

Dilihat dari luar, nyaris tidak ada aktivitas atau bangunan mencolok yang menunjukkan rumah tersebut memiliki jaringan atau instalasi biogas dari kotoran sapi yang ia pelihara. Barangkali yang membedakan adalah adanya kandang yang berisi dua ekor sapi di samping rumahnya. Padahal di Dusun Gulon sudah ada kandang kelompok yang tujuannya mengakomodasi pemilikpemilik sapi untuk memelihara di tempat tersebut.

Tugiyo memang sengaja memelihara sapi di samping rumah. Alasannya sederhana, dia hanya ingin memanfaatkan kotorannya untuk membuat biogas guna keperluan memasak di rumahnya. Itulah kenapa dia menempatkan sapi yang dia beli dari korban erupsi Merapi 2010 itu di samping rumahnya. Dia juga membangun instalasi biogas di tempat ini.

Menurut Tugiyo, dia terinspirasi dari Kepala Dukuh Tangkil yang juga membuat instalasi biogas dari kotoran sapi. Tugiyo mengatakan, 2010 lalu, dia main ke tempat Dukuh Tangkil yang kala itu mendapat bantuan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bio Rumah (Biru) untuk membuat instalasi biogas dari kotoran sapi.

Sepulang dari Tangkil, dia lantas berkeinginan mendirikan instalasi reaktor sama dengan di Dusun Tangkil dengan membeli dua ekor sapi. “Saya tertarik membuatnya, karena saya pikir bisa membantu usaha saya,� tuturnya, kemarin.

Setelah memiliki sapi, dia lantas membeli berbagai bahan yang diperlukan seperti 1.000 buah batu bata, 26 sak semen, serta beberapa pipa besi. Total untuk membuat reaktor biogas berupa rumah dam berukuran diameter tiga meter dengan kedalaman 1,5 meter ia harus mengeluarkan uang Rp2,5 juta.

Tidak ada yang sulit dalam membuat reaktor biogas ini, karena yang dibutuhkan hanya penampung kotoran sapi di dalam tanah yang kedap udara dan instalasi pipa untuk menyalurkan gas metan hasil dari reaktor tersebut. Sejak saat itulah, dia tak perlu lagi merogoh kocek untuk membeli gas 12 kilogram sebanyak 3–4 tabung setiap bulannya.

Dengan penggunaan gas dari kotoran sapi tersebut, usahanya membuat minuman organik untuk penderita jantung dan diabetes semakin menjanjikan. Bahan bakar untuk menyangrai bahan baku jualannya tersebut tak lagi menyedot gas banyak, kecuali dengan kayu bakar sesuai permintaan konsumen. “Kalau konsumen ingin disangrai pakai kayu, baru saya mengeluarkan untuk membeli kayu bakar,� tuturnya.

Tidak ada perasaan jijik ketika dia mengonsumsi masakan yang dimasak dengan bahan bakar biogas kotoran sapi tersebut. Rasanya tetap sama enaknya dengan masakan yang dimasak menggunakan bahan bakar elpiji. Bahkan dia kini tidak lagi pusing memikirkan harga elpiji 12 kilogram yang melambung atau kelangkaan elpiji 3 kilogram yang membelit warga.

Setiap saat, setiap waktu, dia bebas memasak tanpa ketakutan kehabisan bahan bakar. Sejak 2010 hingga kini, dia tidak pernah lepas dari biogas kotoran sapi untuk keperluan memasak di rumah tangganya. Berbagai perabotan yang sering digunakan untuk memasak juga lebih awet dan tidak mudah kotor.

Bahkan, kompor gas yang ia pakai masih kompor gas bantuan dari pemerintah dalam program konversi minyak tanah ke gas. “Dari awal kompor gas dan selang dari kompor ke instalasi juga belum pernah diganti,� paparnya. Ia mengaku puas ketika bisa mempertahankan instalasi biogas tersebut.

Karena selain bisa menghasilkan gas untuk memasak, kotoran sisa dari reaktor ternyata sangat membantu dirinya sebagai petani. Tanaman-tanamannya jauh lebih subur dibanding dengan menggunakan pupuk kimia dan pupuk organik yang biasanya digunakan petani yang lain.

puas, karena prestasinya bisa melebihi kepala Dukuh Tangkil, karena di Dusun Tangkil ternyata instalasi biogas yang jadi percontohan justru sudah tidak digunakan lagi. Pupuk kandang sisa reaktor instalasi biogas tempatnya memang memiliki kelebihan dibanding dengan pupuk organik yang lain.

Karena pupuk kotoran sapi sisa dari reaktor telah dipisahkan dari gas metannya sehingga daya penyuburan tanahnya lebih dibanding pupuk yang lain. Tak hanya itu, pupuk ini sudah tidak terlalu panas sehingga aman digunakan. “Kalau kotoran langsung disebar ke lahan pertanian, tanamannya banyak yang mati karena panas. Kalau ini, karena gas metannya telah lepas, maka tidak panas lagi dan aman,� ujarnya.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Dokumentasi Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bantul Priya Haryanta mengungkapkan, pihaknya memang berupaya memperbanyak instalasi-instalasi biogas di kandang-kandang kelompok milik warga. Saat ini, baru ada sekitar tujuh instalasi biogas kotoran sapi di Kabupaten Bantul, masing-masing dua di Sedayu, tiga di Kasihan, dan dua di Pajangan.

“Target kami, tiap dusun nantinya ada. Akan tetapi kemampuan anggaran kami hanya 3–4 instalasi per tahun, sehingga pertumbuhannya sangat lamban,� tuturnya.

Share this: