Lembu Mandiri Energi

5 Desember 2014
Sriyatun dan Karsono bersama kompor biogas di dapur rumah mereka

Ini bukan lembu yang biasa menarik pedati, melainkan sebuah nama desa yang terletak di timur Kabupaten Semarang, tepatnya di Kecamatan Bancak yang berbatasan dengan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Sekitar 684 kepala keluarga yang tersebar di enam dusun di desa ini dapat berbangga hati karena pada Agustus 2014 silam desa ini menjadi pemenang pertama Desa Mandiri Energi di tingkat Jawa Tengah, mewakili Kabupaten Semarang. Apa yang membuat desa ini meraih predikat tersebut?

Masyakarat Desa Lembu yang mayoritas petani dan peternak ini sudah memiliki kesadaran untuk memanfaatkan limbah dari kotoran sapi milik mereka. Dimulai pada 2008 dengan difasilitasi oleh Yayasan Trukajaya, kemudian berlanjut dengan bekerja sama dengan program BIRU pada 2012, hingga saat ini telah terbangun sembilan puluh enam reaktor biogas di desa ini.

“Kita tahu manfaatnya (biogas). Sangat efisien dan bisa memaksimalkan potensi yang ada,” kata Karsono (40), Ketua Kelompok Tani Bariklana. Di belakang rumahnya yang kerap digunakan untuk pertemuan para petani, telah dibangun juga reaktor BIRU ukuran 4 m3 sejak setahun lalu. Sriyatun (35), istri Karsono, dengan senang hati menunjukkan kompor biogasnya, “Sekarang kami punya sumber api sendiri untuk memasak dan lampu,” katanya tersenyum.

Selain manfaat langsung dari biogas, Karsono juga memanfaatkan bio-slurry yang dihasilkan. Di samping kandang sapinya, ia menyediakan tempat khusus untuk ternak cacing dan kolam kecil seukuran kira-kira tiga kali meja ping-pong untuk ternak lele. Halaman belakangnya ibarat laboratorium, tempatnya bereksperimen mengolah bio-slurry untuk aneka fungsi.

“Untuk pelet lele masih digiling manual, dicampur dengan katul dan vitamin, hasilnya sudah kelihatan,” kata Karsono.  Selain itu, ia juga merasakan manfaat dari pestisida yang ia racik dari slurry cair. Hama walang sangit dan lembing pun tak lagi berani mengusik padinya. Hingga saat ini, Karsono dan kelompok taninya baru membuat pestisida dan pupuk berbahan slurry tersebut untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya saja, belum untuk dipasarkan ke luar karena alasan legalitas.

Di Desa Lembu sendiri ada setidaknya enam unit pengolahan bio-slurry, yang dibangun juga atas kerja sama masyarakat dan Yayasan Trukajaya. Lembaga yang berbasis di Salatiga dan menjadi mitra BIRU sejak 2012 ini memang fokus pada pengembangan kesejahteraan masyarakat, termasuk melalui penggunaan energi terbarukan dan teknologi pertanian yang ramah lingkungan. Kristin Damayanti, staf Trukajaya yang ditemui di kediaman Karsono mengatakan, lembaganya saat ini juga mendorong masyarakat untuk memiliki ketahanan pangan. Salah satu cara yang sedang dilakukan adalah dengan mengembangkan bahan pangan umbi-umbian, dibuat tepung sebagai pengganti tepung terigu.

“Kita ingin masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,” kata Kristin. Untuk ketahanan energi, biogas adalah program yang dilakukan untuk mewujudkannya mengingat potensinya yang cukup besar di wilayah tersebut, selain juga panel surya yang saat ini masih dalam tahap percobaan. Trukajaya menawarkan mekanisme pembayaran dengan sistem kredit agar tidak terlalu memberatkan masyrakat yang tertarik untuk membangun reaktor biogas, selain juga subsidi yang diberikan oleh BIRU. Kredit selama 18 bulan tersebut baru mulai diangsur setelah 1 bulan kompor biogasnya menyala. Ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan jaminan reaktor biogas yang mereka bangun memang berkualitas dan berfungsi dengan baik.

Share this: