Melindungi Generasi Masa Depan Melalui Praktek-Praktek Pertanian Berkelanjutan

1 Desember 2014

The Jakarta Post – Populasi yang
semakin bertambah, meningkatnya kesejahteraan, menipisnya sumber-sumber daya
alam, urbanisasi, dan dampak perubahan iklim mendorong kebutuhan akan adanya
praktek-praktek pertanian berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan global.  Berbagai aktivitas industri, meskipun penting
bagi pertumbuhan suatu negara, membawa beragam dampak, seperti perubahan iklim
yang saat ini kita hadapi.  Pemanfaatan
energi yang tidak efisien, manajeman limbah yang tidak tepat serta penggundulan
hutan adalah di antara beberapa faktor yang menyebabkan efek rumah kaca, yang
dipercaya sebagai penyebab pemanasan iklim global.

Untuk mengangkat
isu-isu keberlanjutan yang mendesak ini, beberapa perusahaan telah mengadopsi
berbagai praktek yang berkelanjutan dari segi lingkungan, sebagai contoh
melalui minimalisasi impor bahan baku dan pendayagunaan energi yang bertanggung
jawab.

Perusahaan
makanan dan minuman raksasa yang berbasis di Switzerland, PT. Nestlé Indonesia
adalah satu dari beberapa perusahaan yang telah menunjukkan komitmennya
terhadap praktek-praktek bisnis berkelanjutan. 
Nestlé percaya agar perusahaan dapat tumbuh sejahtera, perusahaan
memerlukan masyarakat di daerah di mana mereka beroperasi agar juga tumbuh
sejahtera.  Dalam jangka panjang,
populasi yang sehat, ekonomi yang sehat, dan kinerja bisnis yang sehat akan
saling memperkuat antara satu sama lain.

Nestlé percaya
bahwa perusahaan dapat menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya dan
masyarakat dengan menjalankan bisnis melalui cara-cara yang secara spesifik
membantu mengangkat berbagai permasalahan global dan lokal.  Nestlé menyebutnya Creating Shared Value (CSV)/Menciptakan Nilai Bersama, dimana CSV
mengidentfikasi berbagai peluang untuk mengaitkan beragam bisnis inti di
sepanjang rantai nilai hingga berbagai aksi yang membantu untuk mengangkat
berbagai isu-isu sosial.  Beberapa contoh
dari aktivitas-aktivitas ini mencakup efisiensi penggunaan air dalam proses
manufaktur dan distribusi, menyediakan akses kepada air bersih untuk
komunitas-komunitas tertentu dan mendukung pengembangan petani untuk
meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

Memberdayakan peternak susu perah lokal

Pada tahun 1971,
Nestlé membangun pabrik pertamanya di Waru, Jawa Timur, dan mulai menyediakan
bantuan teknis dan finansial kepada masyarakat sekitar, khususnya peternak sapi
perah.  Meningkatnya permintaan produksi
susu mengharuskan Nestlé untuk memindahkan pabriknya ke daerah Kejayan di
Pasuruan, Jawa Timur, di tahun 1988, dimana pabrik ini memproduksi beragam merk
seperti DANCOW.

Untuk periode
lebih dari 30 tahun, Nestlé telah memberikan dukungan kepada para peternak
untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.  Bantuan teknis mencakup pelatihan dalam
bidang manajemen peternakan, penggunaan air untuk air minum hewan, di samping
juga pemeliharaan kebersihan kandang. 
Pada saat ini, ada total 35.000 peternak yang mendapatkan bantuan teknis
dan finansial yang tersebar di berbagai kabupaten berbeda, seperti Malang,
Pasuruan, Tulung Agung, Ponorogo, Lumajang, Probolinggo, Jember, Kediri,
Blitar, Gresik, dan Banyuwangi.

Meminimalisir bahan baku impor

Industri
peternakan susu perah di Indonesia menghadapi permasalah menyangkut terbatasnya
pasokan susu dari para peternal lokal. 
Harga pakan hewan dan daging sapi yang senantiasa meningkat selama dua
tahun belakangan adalah di antara faktor-faktor yang telah menyebabkan
permasalahan dalam pasokan susu segar. 
Harga daging sapi yang menggiurkan dapat meningkatkan kemungkinan
peternak menjual semua sapinya ketimbang terus memeliharanya sebagai sapi
perah.

Terbatasnya
pasokan susu segar telah memaksa perusahaan untuk mengimpor 75% dari semua
kebutuhan susunya dari Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan
negara-negara Eropa agar dapat mengamankan produksi.  Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan
dasar impor, Nestlé telah berusaha untuk mencari alternatif untuk pakan
ternak.  Dalam lingkup Kelompok Kerja
Peternakan Susu Perah untuk Kemitraan guna Keberlanjutan Pertanian Indonesia
(PISAgro), perusahaan – dalam kemitraan antara pemerintah dan swasta – adalah
bekerja untuk perbaikan makanan ternak dan memberikan informasi kepada para
peternak susu perah tentang manfaat dari silase jagung sebagai pasokan
alternatif untuk makanan ternak untuk meningkatkan produksi susu segar.  Silase jagung adalah pakan hewan yang unggul
karena mengandung banyak protein, energi, dan mudah dicerna.  Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun
2012, proyek ini telah meningkatkan kesehatan hewan, di samping juga
produktivitas, rata-rata sebesar 25 persen.

Di samping itu,
sebagai bagian dari pengamanan pasokan bahan baku lokal, Nestlé juga telah
memberdayakan para peternak untuk memiliki sapinya sendiri, dimana rata-rata
kami mengeluarkan biaya masing-masing sebesar Rp 25 juta (USD 2,058), dengan
memberikan pinjaman kepada mereka melalui koperasi.

Metode pengolahan limbah

Dalam kemitraan
bersama Yayasan Rumah Energi, (Humanist Institute for Development Cooperation –
HIVOS), dan Biogas Rumah (BIRU), Nestlé memberikan bantuan kepada para peternak
sapi perah untuk mengelola pupuk kandang yang dapat mencapai jumlah 1.300 ton per
hari, dan mengkonversikannya ke dalam biogas. 
Melalui pendekatan ini, pupuk kandang tidak lagi dibuang dan menyebabkan
polusi di sungai-sungai dan air tanah.  Sebaliknya,
pupuk kandang tersebut diproses untuk menjadi sumber energi terbarukan yang
dapat didayagunakan untuk memasak dan penerangan.

“Ketika kita
membakar kayu bakar untuk memasak dan merebus air, saya merasa sangat tidak
nyaman oleh asap dan abu yang ditimbulkan dari proses pembakaran, “ Supyah,
seorang istri petani, bercerita kepada The Jakarta Post di rumahnya.  Asap dan abu dari kayu bakar berbahaya untuk
kesehatan dan dapat menyebabkan iritasi mata, infeksi mata, batuk, dan
permasalahan pernafasan.  Ia menambahkan
dengan menggunakan biogas telah menghilangkan pekerjaan rutin suaminya yang melelahkan
untuk membawa batang kayu dari hutan terdekat menuju rumah mereka.

Program biogas
terbukti telah membantu untuk melestarikan lingkungan, oleh karena gas ini
telah menggantikan penggunaan kayu untuk energi, mengurangi polusi yang
disebabkan oleh pupuk kandang dan mengurangi biaya pengadaan energi secara
keseluruhan dan resiko kesehatan pada para peternak.  Nestlé dan HIVOS pada saat ini telah memasang
lebih dari 7.000 digester biogas dan berusaha untuk mencapai angka unit
terpasang sebesar 20.000 unit menjelang 2017.

Di bawah program
ini, tiga pihak yang bekerja bersama untuk membantu para petani dalam pengadaan
peralatan, yang harganya mencapai sekitar Rp 7,8 juta per peralatan.  Melalui koperasi peternak, Nestlé membantu
para petani peternak dengan menyediakan pinjaman bebas bunga untuk 75 persen
dari biaya konstruksi digester biogas, sementara sisa 25%  biaya konstruksi diberikan oleh HIVOS dan
pemerintah melalui skema hibah.

BIRU juga
menyatakan bahwa proses biogas bebas dari kandungan karbon dan dengan demikian
berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca global untuk kelestarian
lingkungan yang lebih baik.

Pupuk organik

Residu/Ampas
digester biogas, yang juga dikenal dengan sebutan bio-slurry, dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik karena
mengandung berbagai zat hara yang bernilai yang bermanfaat untuk mendorong
produksi pertanian.

Selama kunjungan
ke lahan pertanian milik perusahaan dekat Kejayan, Jawa Timur, The Jakarta Post
mengamati bahwa tanah yang dipupuk dengan menggunakan pupuk organik lebih subur
dibandingkan dengan tanah yang dipupuk dengan pupuk kimia.  Selain itu berdampak pula pada produksi
rumput yang lebih baik, karena rumput tumbuh lebih lebat dan panjang.

Nestlé berharap
bahwa semua usaha yang dilakukan untuk mengembangkan praktek-praktek bisnis
yang berkelanjutan dapat mendorong pihak lain untuk bekerja bersama-sama dan
mengambil tindakan nyata untuk memastikan kelestarian lingkungan.

Share this: