Pakai Biogas, Apinya Lebih Biru dan Masakan Cepat Matang

15 Agustus 2014

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Ditengah wacana kenaikan harga tabung 12 kilo, Ratih (28) tidak khawatir. Ini lantaran di dapurnya telah terpasang kompor gas, yang bahan bakarnya ternak sapi alias Biogas.

Seminggu sudah, ia menggunakan kompor beserta fasilitas digester bantuan Pemerintah Kabupaten Sleman Senilai Rp 120 juta ini. Menurutnya kompor bertenaga biogas ini memiliki api yang biru, tidak kalah dengan tungku gas konvensional.

“Apinya biru dan nyalanya besar, masakannya lebih cepat matang,” ujarnya Kamis (14/08).

Menurutnya penggunaan biogas lebih hemat, karena tidak usah membeli gas yang ada dipasaran. Namun demikian ia diharuskan mengisi kotoran sapi pada digester yang disediakan Pemkab Sleman.

“Cukup isi alat itu (Digester-red) dengan kotoran sapi, setiap tiga hari sekali. Kemudian bila tenaga gas habis, tunggu dua jam, sudah terisi kembali dan siap digunakan,” terangnya.

Adapun kotoran sapi sebagai bahan pembuat gas, diperoleh dari kandang milik warga sekitar.

Ratih merupakan seorang penerima bantuan awal, fasilitas biogas yang di inisiasi oleh Dinas Energi Sumber Daya Air dan Mineral (ESDAM) Sleman. Di Dusunnya, Karanggawang Kulon, Mororejo, Tempel ada empat warga yang menerima bantuan tersebut. Namun demikian, baru keluarganya yang menerima peralatan berupa kompor serta Manometer Biogas yang dialiri ke rumahnya.

Ngatini (50), tetangga Ratih mengaku belum mendapatkan fasilitas tersebut. Namun demikian, dirinya berminat untuk mencoba menggunakan tenaga alternatif tersebut.

“Saya belum dapat fasilitas kompornya, nanti kalau punya uang saya akan beli sendiri,”tuturnya.

Sementara itu Kepalas Seksi Pengembangan ESDAM Sleman Purwoko menyatakan, hal tersebut merupakan usaha Pemkab untuk menjaga ketahanan energi masyarakat desa. Ia berharap dengan adanya program Biogas, warga memeroleh sumber energi terbarukan.

“Saya harap warga desa tidak bergantung pada gas elpiji dan kayu bakar. Karena sufah ada alternatif bahan bakar baru,” ungkapnya.

Program awal ini diterapkan pada tujuh desa yang tersebar di Kecamatan Tempel 2 Desa, Cangkringan 2 desa, Kalasan 2 desa dan satu desa di Moyudan.

Program biogas itu sendiri sudah dimulai sejak bulan Juni lalu. Proses tersebut dilakukan untuk mempersiapkan sarana prasarana, berikut proses kimiawi untuk merubah kotoran sapi menjadi gas. Setelah dijadikan biogas, kotoran ternak tersebut masih bisa dibuat pupuk untuk tanaman.(Pdg)

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

Share this: