Inisiatif Biogas dan Pertanian Organik Merambah Petani Sumba

2 April 2014

Satutimor.com/WAINGAPU, SUMBA TIMUR – Akhir tahun 2011 Heinrich Dengi (43), untuk pertama kali memiliki reaktor biogas. Heinrich mengaku ia awalnya belum terlalu yakin akan manfaat reaktor biogas ini dan karena itu ia memilih paket yang paling kecil.

Atas dorongan dari HiVOS, sebuah LSM asal Belanda, Heinrich menghabiskan sekitar Rp. 2,9 juta untuk dapat membangun sebuah reaktor ukuran yang paling kecil yaitu ukuran 4 kubik. Lebih dari setengah biaya pembuatan reaktor disubsidi oleh Hivos. Rekanan Hivos, Yayasan Alam Lestari membangun semua instalasi reaktor biogas dan terus mendampingi selama dua tahun.

“Ternyata saya setelah jadi saya menyesal, karena melihat manfaatnya yang besar. Saya mengambil paket yang paling kecil karena kebetulan babi saya empat ekor waktu itu. Padahal untuk upgrade perlu perombakan lagi,�kata Heindrich kepada Satutimor.com, Selasa (1/4).

Manfaat dari reaktor biogas ini luar biasa bagi keluarga Heinrich, yang adalah wartawan radio dan pemilik salah satu stasiun radio swasta di Waingapu, Sumba Timur. Reaktor berupa sebuah bangunan dan serangkaian instalasi ini digunakan oleh keluarganya untuk memasak dan bahkan jika bahan bakunya banyak bisa digunakan untuk penerangan.

Untuk menghasilkan gas Methana yang digunakan untuk penerangan dan memasak, Heinrich menggunakan bahan baku kotoran babi piaraannya. Awalnya ia memelihara empat ekor babi tetapi sekarang jumlah babi yang dipelihara sudah mencapai delapan ekor dan menurutnya itu cukup untuk menghidupkan reaktor ini.

“Sekitar 90 persen kebutuhan minyak tanah untuk memasak kami terpenuhi dengan reaktor ini. Masalah yang paling sering muncul itu adalah minyak tanah. Tiap pagi orang ribut cari minyak tanah. Tapi sekarang kami banyak terbantu, � kata Heinrich

Ternyata manfaat reaktor itu tak cukup hanya sebagai penerang dan untuk kepentingan memasak. Limbah buangan reaktir biogas ini kaya dengan unsur hara yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang luar biasa.

“Awalnya saya cuma berpikir untuk kepentingan rumah karena masih ragu, walaupun dengan fasilitasi dari HiVOS saya sudah melihat beberapa contoh,� aku Heinrich.

Di sekitar bulan Mei 2012, dengan bantuan HiVOS, Heinrich mulai memproduksi pupuk organik dengan merk dagang Bio Slurry. Dalam sebulan reaktor milik Heinrich ini bisa memproduksi kurang lebih 500 liter pupuk organik merek Bio Slurry ini. Namun kadang bisa mencapai 1000 liter, tergantung jumlah limbah yang dihasilkan. Heinrich menjual limbah ini seharga Rp. 25 ribu per liter.

Pada saat pameran pembangunan bulan Agustus 2011 produk pelabelaan dan pengemasannya dibantu oleh HiVOS inipun telah dipamerkan.

Pada saat yang hampir bersamaan, Sumba sedang didatangi oleh seorang penyuluh pertanian dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), Rahmat Adinata. Rahmat datang ke Sumba atas dukungan sebuah LSM Amerika Serikat World Renew, P3H Salatiga dan Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) untuk membantu para petani di Sumba yang mengalami rawan pangan tahun 2010. Di tahun 2010 sejumlah 121 desa dari 156 desa di Sumba dinyatakan rawan pangan, bahkan berpotensi timbul kelaparan.

Rahmat melakukan pendampingan terhadap petani di Makamenggit dan atas kerjasama dengan radio Max FM yang dikelola Heinrich, setiap perkembangan pendampingan diceritakan oleh para petani dalam sebuah program rutin di radio tersebut sejak tahun 2012.

Karena minat yang besar dari sejumlah kelompok terhadap pertanian organik, Heinrich dan Rahmat mulai melebarkan jangkauan mereka untuk membantu kelompok-kelompok yang berminat dan mempromosikan pertanian organik di Sumba dengan limbah biogas sebagai pupuk.

“Mungkin karena orang mendengar, dan terutama setelah ada pameran, ada sejumlah kelompok mulai meminta bantuan. Namun kami juga melihat keseriusan mereka. Kalau ada yang serius belajar soal pembibitan, persemaian dan cara tanam kami serius juga membantu mereka,� kata Heinrich.

Kelompok pertama yang meminta bantuan adalah sebuah kelompok yang beranggotakan 20 orang yang terdiri dari ibu rumah tangga, dan anak-anak sekolah di belakang Rumah Sakit Kristen Lindimara, Waingapu. Kelompok yang diberi nama Lapaluri menjadi awal kiprah Heinrich dan Rahmat dalam memberi dampingan pertanian organik di Sumba.

Heinrich dan Rahmat mencoba mengubah gambaran bahwa pupuk organik akan mengakibatkan penurunan produksi dengan mencoba membina kelompok-kelompok petani Sumba Timur.

Namun tidak sedikit juga penolakan yang diterima. Ide untuk pertanian organik masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal bahkan gila. Perlahan, keduanya mulai membuktikan ketidakbenaran pandangan umum ini. Tanpa pendekatan marketing yang rumit, keduanya mulai mendekati para petani untuk bekerjasama dan mendorong para petani membut demplot. Sejumlah informasi penting juga disampaikan melalui radio yang dikelola Heinrich.

“Orang mungkin tidak percaya dengan manfaat dari pupuk yang kami hasilkan, dan mungkin berpikir kami menipu. Tapi setelah mereka melihat hasilnya baru mereka yakin,� kata Heinrich.

Menurut Heinrich, penggunaan jumlah pupukpun tidak sebanyak pengunaan pupuk non-organik. Untuk satu hektar maximal digunakan dua liter pupuk organik mulai dari awal penanaman sampai panen.

Hasil panen tanaman yang menggunakan pupuk organik inipun mengejutkan.

“Biasanya panen satu hektar 3.5 ton padi saja orang sudah menari-menari, namun sekarang di beberapa tempat seperti di Lewa dan Waingapu yang menggunakan pupuk organik kami, satu hektar bisa 10 ton,� kata Heindrich.

Manfaat dari pupuk organik buatan Heinrich sudah mulai mendapat perhatian dari beberapa kalangan. Tak kurang, kesaksian Ketua DPR Sumba Timur menguatkan bukti tentang manfaat pupuk organik ini.

Menurut ketua DPR Sumba Timur, Palulu Ndima, seperti yang diceritakan kepada Heinrich, selama ini ia menggunakan pupuk non-organik di sebidang tanah untuk menanam padi dan menghasilkan kurang lebih 10 karung. Namun sejak menggunakan pupuk organik buatan Heinrich di bidang tanah yang sama, hasil panen meningkat menjadi 130 karung.

“Saya merasa mendapat apreasiasi yang luar biasa karena pengakuan itu disampaikan di depan banyak orang termasuk di depan pak bupati,� kata Heinrich.

Tahun 2013, salah satu kelompok tani binaan Heinrich dan Rahmat mendapat perhatian pemerintah dan lahan yang mereka kelola menjadi pusat peringatan Hari Pangan Sedunia di Provinsi NTT.

Saat ini sudah terdapat 10 kelompok tani organik dengan total anggota 196 orang yang menjadi binaan Heinrich dan Rahmat. Di Kabupaten Sumba Timur telah dibentuk Kelompok di Makamenggit (30 orang anggota), Kandara (11 orang) orang, Lamenggit (27 orang), Kalu 1 (30 orang), Kalu 2 (17 orang), Wunga Timur (17 orang), Londalima (17 orang) dan Woka (24 orang). Sedangkan di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat sebuah kelompok di Karuni beranggotakan 23 orang.

Dalam waktu dekat ada dua lokasi baru yang akan digarap yaitu di Kondamara di Kabupaten Sumba Timur dan Dikira di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Salah satu tujuan Heinrich adalah ingin merubah pandangan yang salah tentang manfaat lahan.

“Banyak orang menjual tanah mereka karena berpikir tanah tidak produktif karena hanya bis digunakan menanam jagung pada musim hujan. Syukurlah sekarang dalam beberapa kelompok dampingan kami, anak SD pun sudah mulai menanam sayur dan uang sakunya didapatkan dari aktifitas ini.�

Tak Masalah Menanam Sayur di Musim Hujan

Sebagian masyarakat di beberapa kelompok binaan mereka mulai melihat hasil pertanian organik yang tidak kalah dengan pertanian non-organik. Bahkan anggapan yang erat melekat dalam budaya Sumba (dan Sabu) bahwa tidak mungkin menanam sayur pada musim hujan, mulai terkikis perlahan.

“Berkebun di musim hujan itu untung karena tidak perlu disiram. Namun masih banyak yang percaya mitos ini. Kami ingin mematahkan mitos ini, dan syukurlah mulai ada yang percaya.�

Musim hujan 2014, telah ada empat kelompok binaan yang menanam sayur. Heinrich mengaku para pedagang sayur dari pasar Waingapu sudah mulai melakukan pembelian sayur di kebun-kebun kelompok dampingannya ini.

“Harga sayur-sayur ini tidak terlalu mahal dibanding harga di pasar dan sekarang negosisasi sudah dilakukan di kebun.�

Anda mungkin tak percaya bahwa sayur-mayur yang dijual di pasar Inpres Waingapu didatangkan dari kabupaten lain seperti Sumba Barat, Sumba Barat Daya atau bahkan Bima  dan Bali. Tapi itulah kenyataannya. Dan itulah sebabnya, kalau anda ke pasar di Waingapu, anda akan mendapati harga semua sayuran serba lima ribu rupiah.

Sayur yang ditanam bukan saja sayur yang secara tradisional sudah biasa ditanam di Sumba tetapi juga sayur-sayuran yang masih jarang di tanam di Waingapu seperti kol dan bunga kol.

“Minat orang terhadap pupuk organik ini lumayan. Saya melihatnya dari sisi ketersebaran produksi. Tinggal menunggu waktu saja,� kata Heinrich. [S]

-Dengan kontribusi dari Maddi Mina Djara.

Share this: