Pasangan Kompak dari Lereng Gunung Kelud

11 Maret 2014
Sarianto dan Purwati dengan latar usaha bio-slurry yang mereka kelola

Sore itu wajah Sarianto, 49 tahun, terlihat cerah. Kontras sekali dengan suasana muram yang menyelimuti Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, setelah diguyur hujan lebat sedari siang. Kumisnya yang lebat bergerak-gerak mengiringi tawa.

Terang saja, hutangnya lunas dan kontrak pengadaan 200 ton kompos sudah di tangan. Mimpinya untuk membangun satu lagi reaktor berukuran 12 m3 semakin mendekati kenyataan. Semua itu berkat bio-slurry. Dengan dua usaha yang ditunjang bio-slurry, Sarianto dan keluarganya semakin optimis menatap hari esok.

Sarianto mulai berkenalan dengan pupuk organik pada 2005. Ia terdorong menggunakan pupuk organik setelah beberapa kali merugi akibat biaya bertani yang tinggi tidak sebanding dengan harga jual.

“Terus terang, saya menggunakan pupuk organik bukan untuk memperbaiki tanah tapi agar biaya tanam menjadi ringan,” katanya.

Ketika semakin paham bahwa permasalahan pertanian diakibatkan tanah yang rusak, dirinya bertambah mantap menggunakan pupuk organik. Bersama beberapa orang yang tergabung dalam kelompok tani, mereka mengumpulkan modal sebesar 3 juta rupiah untuk membuat kompos demi memenuhi kebutuhan kelompoknya. Namun pada akhirnya, hanya dirinya seorang yang masih bertahan membuat kompos.

Usaha kompos itu kemudian diperbesar dengan modal sendiri sebesar 13 juta rupiah, hasil menggadaikan BPKP sepeda motor miliknya. Dengan modal tersebut, ia menyulap halaman samping dan belakang rumahnya menjadi rumah produksi kompos. Halaman belakang difungsikan sebagai lokasi pengayakan dan penyaring bahan baku agar bersih dan terpisah dari kotoran seperti plastik dan lain-lain. Terdapat 2 mesin pengayak dan penyaring di bagian ini. Sementara halaman samping difungsikan sebagai lokasi composting, packing serta penumpukan karung kompos sebelum dikirim ke konsumen. Ia juga membangun ruang tamu yang cukup luas dilengkapi dengan meja besar dan kursi panjang yang sering digunakan sebagai ruang diskusi. Dua papan informasi yang tertempel di ruangan itu dipenuhi berbagai piagam penghargaan maupun sertifikat kegiatan yang pernah didapat maupun diikutinya, juga brosur-brosur dan kalender BIRU.

“Motif utama saya adalah untuk ekonomi keluarga, di samping untuk membantu petani mendapatkan pupuk organik bermutu dengan harga murah,” ujar Sarianto ketika menjawab pertanyaan BIRU tentang latar belakang kenapa ia berani mengambil resiko membuat pabrik kompos. Setiap hari, lima orang tenaga kerja rutin mengolah bahan baku untuk kemudian diproses menjadi kompos dengan produksi antara 20-35 ton per bulan. Tidak hanya petani, beberapa perusahaan perkebunan di Kabupaten Kediri pun sudah menjadi konsumennya. Mereka sudah mengetahui kualitas kompos produksi Sarianto. Ini terbukti dari kontrak 200 ton kompos dari sebuah perusahaan perkebunan menjelang Lebaran 2013. Kompos ini dikemas dalam karung/zak dengan berat 40 kg yang ia jual ke petani dengan harga Rp. 500/kg dan Rp. 550/kg untuk perusahaan perkebunan.

Saat ini, bio-slurry, sebagai salah satu bahan kompos, baru diambil dari reaktor BIRU yang dimilikinya sejak Januari 2011. Bahan lain seperti pupuk kandang ia dapatkan dengan cara membeli dari tetangga di sekitarnya yang beternak sapi. Per 6 kubik pupuk kandang ia hargai 225 ribu rupiah. Ketika BIRU menanyakan kenapa tidak mengambil bio-slurry dari reaktor BIRU lainnya di sekitar Ngancar, Sarianto menjelaskan mahalnya biaya pengumpulan dan pengangkutan.

“Saya getun (menyesal) hanya bangun biogas ukuran 6 meter kubik. Bio-slurry yang dihasilkan sedikit. Beda dengan orang lain yang membangun biogas untuk mendapatkan gas, kalau niat saya malah untuk mendapatkan pupuknya.”

Demi mendapatkan pupuk organik, Sarianto berani membuat biogas plastik secara swadaya sejak tahun 2008.

“Waktu itu saya habis 800 ribu untuk membuat biogas plastik. Namun bio-slurry yang dihasilkan masih berbau, bahkan baunya melebihi bau kotoran manusia. Gasnya untuk masak pun tidak pernah matang,” cerita Sarianto tentang perjalanannya mencari cara membuat pupuk organik.

Ketika disinggung biaya reaktor yang mahal, Sarianto memiliki perhitungan sendiri. Biaya membangun biogas sama saja dengan jika seminggu sekali ia membeli elpiji 3 kg selama 3 tahun.

“Bedanya, dengan biogas setelah 3 tahun sudah gratis, sedangkan elpiji tetap membeli. Apalagi ada wacana elpiji naik menjadi 20 ribu. Demikian juga jika subsidi pupuk urea dicabut, dari 180 ribu menjadi 520 ribu per kuintal. Maka punya biogas sangat luar biasa menguntungkan.”

Pendapat ini diamini Purwati, istri Sarianto. Perempuan 35 tahun ini berpendapat dengan adanya reaktor biogas, para ibu rumah tangga sangat diuntungkan.

“Punya biogas sama dengan punya pabrik rabuk (pabrik pupuk). Meringankan tanaman dan meringankan dapur,” kata Purwati.

Purwati sendiri sudah mereguk manisnya uang dari penjualan panen tanaman polibag yang dipupuk bio-slurry. Tiga BPKB yang sebelumnya terpaksa dijadikan jaminan untuk modal usaha pabrik kompos kini sudah sanggup ia lunasi, termasuk juga pinjaman lewat UPK, PNPM. Bayangkan saja, Purwati mendapatkan uang 1 juta rupiah setiap 3 hari dari penjualan cabe kecilnya. Belum lagi uang penjualan oyong, kacang panjang, kubis, terong dan bayam.

“Sekarang saya sudah tidak bingung untuk belanja dapur dan uang saku anak-anak. Sisanya pun bisa ditabung, bahkan untuk melunasi hutang BPKB dan PNPM,” beber Purwati.  Purwatilah yang memiliki ide menanam tanaman dalam polibag yang kemudian dia pupuk dengan bio-slurry. Mulai dari membeli benih dan polibag di toko pertanian, membuat media tanam, pembibitan hingga pemupukan, semua dilakoni Purwati sendiri, tanpa diminta Sarianto.

“Sekarang saya berpikir, daripada waktu luang dibuat nonggo (berkumpul dengan tetangga dan bergosip) mending memikirkan bagaimana caranya agar tanaman saya hasilnya bagus dan menghasilkan uang,” tambahnya.

Pasangan istri suami yang mempunyai dua anak perempuan ini telah menginspirasi keluarga lainnya. Kini terhitung sudah 4 orang yang mengikuti jejak Purwati, menanam di polibag untuk kebutuhan dapur mereka. Tidak berhenti di situ, Sarianto sudah merancang pertanian dan peternakan terpadu dengan elemen biogas di dalamnya. Purwati pun ingin memperbesar usaha pembibitan tanaman sayur karena perputaran uangnya lebih cepat dibandingkan kalau menjual hasil panen.

Pengembangan Biogas Rumah di Kabupaten Kediri khususnya Kecamatan Ngancar dan sekitarnya dilakukan BIRU melalui kerja sama dengan LPKP, sebuah LSM yang berkantor di Karanglo, Malang, selaku Mitra Pembangun dan KUD Karya Bhakti Ngancar selaku Mitra Penyedia Kredit untuk peternak. Kerja sama yang dimulai sejak Juni 2010 tersebut hingga kini telah berhasil membangun 197 unit reaktor biogas rumah yang berfungsi baik. Menurut Rujuk Suprianto, supervisor biogas LPKP, awalnya peternak enggan menggunakan biogas karena pengalaman sebelumnya banyak reaktor biogas bantuan hibah yang bermasalah. Namun ketika beberapa reaktor BIRU yang terbangun berfungsi dengan baik maka pelan-pelan peternak banyak yang mendaftar membeli reaktor ini. Lebih lanjut Rujuk menuturkan banyak peternak maupun petani di daerah Ngancar yang sudah memanfaatkan bio-slurry, baik dipakai di lahan pertaniannya sendiri maupun dijadikan usaha baru seperti jasa pemupukan bio-slurry bahkan produksi pupuk kompos seperti yang dilakukan oleh Sarianto. (Christina Haryanto Putri dan Helmi Buyung Nasution)

Share this: