Biogas Telah Menyelamatkan Kami

4 Maret 2014
Abas melakukan rutinitas hariannya mengisi inlet biogas dengan kotoran ayam

“Saya pinginnya punya usaha tapi tidak ada bau yang bisa mengganggu tetangga.” Kalimat itu terlontar dari Abas (54 tahun) peternak ayam potong dari Dusun Sodo, Desa Sodo, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung ketika mengawali obrolan dengan BIRU Jawa Timur.

Abas memulai usaha ternak ayam potongnya sejak 1999, pasca krisis moneter yang melanda Indonesia. Sebelumnya Abas beternak lele, namun karena harga pakan lele merambat naik pasca krisis keuangan tersebut, beternak lele menjadi tidak menguntungkan lagi. Ia pun beralih pada usaha ternak ayam dengan 200 ekor ayam sebagai permulaan. Setelah lebih dari 14 tahun Abas menekuni usaha ini, masalah pun mulai muncul, khususnya dari bau yang ditimbulkan oleh kotoran ayam.

Saat populasi ayam berkisar 200-500 ekor, memang belum ada masalah. Namun dengan 1.000-2.000 ekor ayam yang diternakkannya sekarang, jumlah kotorannya pun tentu tidaklah sedikit. Ditambah jarak kandang ayam dengan rumah tetangganya sangat berdekatan.

Sepanjang jalan menuju rumah Abas, rumah-rumah tetangga berderet hanya selisih kurang dari 5 meter. Setiap angin berhembus, bau kotoran ayam pun kerap menyapa hidung para tetangga. Padahal di desa tersebut hanya ada 2 orang yang beternak ayam.

Beberapa tetangga mulai protes, bahkan sampai mengadu ke Ketua RT setempat. Abas pun memutar otak agar kegusaran para tetangga bisa teredam, jika tidak ingin usahanya ditutup paksa akibat bau tidak sedap yang dtimbulkan. Bagi Abas, usahanya inilah yang menjaga asap dapur tetap mengepul selama ini.

“Sudah berbagai cara saya coba. Mulai dari kotoran diberi sekam halus, serbuk kapur, cairan yang disemprotkan ke kotoran hingga EM4 yang dimasukkan lewat minuman ayam. Namun ternyata tidak ada yang efektif mengurangi bau,” kisah Abas.

Abas tidak putus asa. Dia lalu semakin getol mencari informasi lewat internet sampai akhirnya membaca teknologi biogas untuk mengatasi limbah dan kemudian tertarik untuk mencobanya.

Saat itu, pertengahan Juni 2012, KUD Tani Wilis – salah satu CPO Biru Jawa Timur – mengikuti pameran yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung. Abas pun mengunjungi stand pameran Biogas Rumah dan mendapatkan informasi serta brosur mengenai kegiatan Biogas Rumah yang dilaksanakan oleh KUD Tani Wilis, Sendang, Tulungagung. Tanpa berlama-lama, Abas mengajak Umi, istrinya, datang ke Sendang untuk membuktikan langsung kehebatan teknologi biogas yang katanya mampu menghilangkan masalah bau kotoran. Di sana mereka bertemu Suwarto, Pengurus KUD Tani Wilis sekaligus Penanggung jawab program Biogas di koperasi tersebut, dan Juwardi, supervisor biogas.

Pada kesempatan itu Abas dan Umi mendapat informasi yang lebih lengkap terkait teknologi yang dikembangkan dalam program Biogas Rumah (BIRU). Tak cukup dengan berdiskusi, mereka pun diajak berkeliling melihat langsung reaktor biogas yang telah terpasang dan berdialog dengan peternak pengguna Biogas Rumah. Informasi yang Umi dan Abas dapatkan semakin lengkap.

Abas dan Umi lalu kembali ke rumah dan berdiskusi. Akhirnya pasangan ini memutuskan untuk menghubungi KUD Tani Wilis lagi dan menyatakan keinginannya untuk membangun reaktor biogas ukuran 6 kubik dengan alasan dana yang mereka punya hanya mencukupi untuk ukuran tersebut. Bersama staf BIRU, KUD Tani Wilis pun mendatangi rumah Abas dan melakukan survey. Beberapa rekomendasi teknis yang diberikan adalah, pertama, untuk mengatasi bau kotoran ayam yang ada, Abas disarankan untuk membangun reaktor dengan ukuran lebih besar sehingga jumlah kotoran dalam sehari bisa langsung dimasukkan semua ke dalam digester tanpa ada sisa.

Kedua, harus ada perlakuan tambahan agar hanya kotoran ayam yang bersih saja yang bisa dimasukkan dalam digester. Terakhir, dengan alasan tingginya perputaran ayam potong masuk keluar kandang maka disarankan agar populasi dibagi dalam 3 kandang berdasarkan usia. Hal ini dilakukan agar panen tidak dilakukan bersamaan demi menjaga ketersediaan kotoran untuk pengisian harian. Menanggapi rekomendasi tersebut, Abas dan Umi meminta waktu untuk berpikir ulang. Hingga akhirnya mereka menghubungi Juwardi dan menyatakan kesanggupannya mengubah ukuran reaktor menjadi 8 kubik. Abas juga akan membuat lantai semen permanen di bawah kandang agar kotoran tetap bersih dan akan menyaring kotoran dari bulu-bulu ayam saat melakukan pengisian harian. Rotasi panen juga akan dilakukan agar ketersediaan kotoran untuk pengisian harian tidak terkendala.

Pembangunan reaktor pun dimulai pada Oktober 2012. Awalnya bisa berfungsi dengan baik namun kemudian Abas merasa ada masalah dengan nyala api yang tidak stabil. Ia pun segera melaporkan pada KUD Tani Wilis.

Setelah didatangi dan diperiksa, biang masalahnya ternyata adalah cara pengisian yang keliru karena terlalu banyak air yang dicampurkan pada kotoran sehingga menyebabkan fermentasi tidak sempurna. Setelah diberitahu tata cara pengisian yang direkomendasikan, seminggu kemudian kompor BIRU Abas sudah normal kembali. Namun di awal Februari 2013, Abas kembali menghubungi KUD Tani Wilis karena biogasnya bermasalah lagi. Setelah diperiksa, ternyata ditemukan adanya bahan kimia antibiotik yang tercampur masuk dalam digester sehingga nyala api tidak normal.

“Saya ngerti kalau biogas itu ndak boleh kemasukan bahan kimia, makanya ayam yang disuntik antibiotik akan saya pisahkan kotorannya dan tidak saya masukkan biogas. Saya juga mengakali pemberian antibiotik dicampur dengan air minum ayam. Rupanya antibiotik itu keluar bersamaan dengan kotoran ayam dan katut (terbawa) tercampur masuk digester,” kata Abas sambil tertawa, teringat idenya yang ternyata membuat biogasnya bermasalah.

“Biogas itu pernah menyelamatkan saya,” lanjutnya. Pada Maret 2013, tim dari Puskesmas dan Pamong setempat datang untuk menginspeksi peternakannya. Ada keluhan mengenai bau yang ditimbulkan usahanya tersebut. Waktu itu Abas sedang tidak ada di rumah. Umi yang menerima rombongan tersebut, mengantar mereka melihat langsung kondisi kandang di belakang rumah, sekaligus membuktikan tidak adanya lagi bau seperti yang dikeluhkan. Umi menunjukkan pula instalasi biogas yang terletak tidak jauh dari kandang dan mendemokan cara menyalakan kompor biogas.

“Kami sudah membangun biogas untuk mengatasi bau limbah. Kami juga dapat bahan bakar gratis untuk memasak,” jelas Umi pada mereka.

“Mereka bahkan memuji upaya kami untuk menanggulangi limbah. Mereka terkagum-kagum dengan teknologi biogas,” kata Abas. Ia dan Umi sekarang sudah bisa tersenyum lega. Investasi yang awalnya cukup menguras kantong mereka, kini berbuah manis.

“Bau sudah berkurang hingga 75-80%. Tidak ada tetangga yang protes lagi. Kami puas dengan Biogas Rumah,” tutur mereka sumringah. (Christina Haryanto Putri dan Helmi Buyung Nasution)

Share this: