Hemat Energi dari Kotoran Sapi

1 Februari 2014

panajurnal.com – Dari setumpuk kotoran menjadi berkah. Upaya
itu dilakukan warga desa di Sulawesi Selatan untuk bebas dari
ketergantungan elpiji, sekaligus menjaga kelangsungan usaha rumahan
mereka.

Jalanan di Dusun Lekkong, Enrekang, Sulawesi Selatan, kini
sudah terbuat dari bata beton (paving block). Tak ada lagi jalan-jalan
tanah yang bisa berlumpur dan menjadi licin jika hujan datang. Rupanya,
perubahan ini menjadi penanda kegairahan baru yang meliputi hampir
segenap warga Dusun Lekkong. Kebanyakan warga Dusun Lekkong mencari
nafkah dengan memproduksi dangke, makanan khas Enrekang yang terbuat
dari proses peragian susu kerbau atau sapi. Jadi, para warga memang
sudah biasa memelihara binatang pemamah biak itu di dekat rumah mereka.

Tapi,
semangat baru itu bukan lantaran keberhasilan mereka mengolah susu sapi
menjadi dangke, melainkan karena para warga sukses memanfaatkan kotoran
sapi menjadi sumber energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan.

Tengoklah
Isran (50) yang sehari-hari mengalirkan kotoran hewan ternaknya ke
dalam sebuah tabung yang berfungsi sebagai reaktor biogas. Alat itu
mengubah kotoran hewan menjadi biogas skala rumah tangga yang dapat
digunakan sebagai bahan bakar memasak, atau bahkan lampu untuk
penerangan. Melalui kompor biogas yang terhubung langsung dengan
peralatan tersebut, Isran mengolah susu sapi menjadi dangke, dan
keperluan memasak lainnya. “Istri saya tak perlu lagi risau memikirkan
minyak tanah atau gas dari elpiji,� tutur Isran dengan bangga.

Menurut
hitungannya, sebelum menggunakan biogas, Isran dan istrinya bergantung
kepada elpiji subsidi tiga kg selama seminggu. Itu setara dengan 1.000
liter biogas per hari yang didapat dari 30 kg kotoran sapi. Kini, dengan
memanfaatkan feses dua ekor sapi dari enam piaraannya saja, kebutuhan
bahan bakar memasak Isran dan istrinya dalam sehari telah terpenuhi.

Selamat Tinggal Gas Elpiji Subsidi

Isran
dan warga Dusun Lekkong memang telah berhasil melepaskan ketergantungan
pada elpiji. Pada Januari lalu, kenaikan harga elpiji 12 kg memaksa
sebagian besar orang beralih ke elpiji subsidi tiga kg. Tak pelak lagi,
banyak yang khawatir bahwa elpiji subsidi akan lenyap dari pasaran
akibat tingginya permintaan, atau bahkan karena aksi spekulan.
Kekhawatiran ini juga sempat beredar di sejumlah daerah, termasuk
Enrekang.

Kini, kerisauan itu hampir tak ada lagi di benak warga
Dusun Lekkong. Mereka sudah memiliki bahan bakar memasak yang murah, dan
bisa tersedia setiap saat. Inilah yang membuat kehidupan warga kian
bergairah. Praktik pemanfaatan biogas ini tak hanya terjadi di Dusun
Lekkong, tapi juga tersebar di sejumlah desa lain di Enrekang.

Rahman
(55), peternak sapi sekaligus ketua kelompok peternak sapi di Desa
Tibona, Bulukampa, Sulawesi Selatan, juga memanfaatkan biogas untuk
kebutuhan rumah tangganya. Lebih lagi, ia menyuplai biogas buat beberapa
tetangganya. “Saya punya empat ekor sapi. Siang hari saya lepas, malam
saya kandangkan,� jelas Rahman yang mengaku biogas sudah menggantikan
1,25 liter minyak tanah yang dulu biasa dipakai.

Sisa biogas
ternyata masih memiliki nilai tambah. Ampas biogas yang biasa disebut
bio-slurry dapat menjadi nutrisi berguna bagi tanaman. Jadi, setelah
digunakan untuk kebutuhan sendiri, warga pengguna biogas seperti Rahman
biasanya mengemas rapi ampas biogas dan menjualnya senilai Rp 500 per
kg. Alhasil, ini menjadi sumber pendapatan baru bagi warga Desa Tibona.

Program BIRU

Pembangunan
biogas di Enrekang, Sulawesi Selatan, sebenarnya masih termasuk dalam
program biogas rumah Indonesia (BIRU) yang bermula sejak tahun 2010.
Seluruh pendanaan program ini berasal dari lembaga pembangunan
pemerintah Belanda, SNV Netherlands Development Organisation. Sementara,
Institut Kemanusiaan untuk Kerjasama Pembangunan (Hivos) menjadi
pelaksana program dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan setempat.

Program
BIRU meyakini bahwa penggunaan biogas “secara langsung berkontribusi
terhadap naiknya tingkat kesejahteraan hidup rumah tangga di pedesaan
khususnya bagi anak-anak dan perempuan�.

Sejauh ini, program BIRU
telah sukses membangun 8.300 reaktor biogas secara nasional: 5.100
reaktor terdapat di Jatim Timur, dan sisanya, 3.200 reaktor, tersebar di
Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur,
Bali, Yogyakarta, Lampung dan Sulawesi Selatan. Namun, penggunaan biogas
di Tanah Air sebenarnya masih amat potensial. Di Kabupaten Malang, Jawa
Timur, contohnya, pemanfaatan feses sapi untuk biogas di sana tak
sampai 1% dari total 3 juta kotoran ternak yang dihasilkan per hari.

Reaktor
biogas nasional bukanlah mimpi di siang bolong. Pengalaman pengembangan
biogas di Nanyang, Provinsi Henan, China, bisa menjadi contoh kisah
sukses reaktor biogas skala besar. Wilayah tersebut memiliki potensi
biogas yang besar dari limbah ladang gandum. Pemerintah setempat lalu
membangun reaktor berkapasitas 30.000 meter kubik.

Hasilnya,
reaktor tersebut dapat menyuplai gas ke sekitar 20.000 rumah tangga.
Jika itu terwujud di Indonesia, kita bisa menghemat puluhan triliun
subsidi elpiji. Dengan demikian, energi alternatif yang ramah lingkungan
tak lagi sekadar wacana. (***)

(Sumber: http://www.panajournal.com/2014/02/hemat-energi-dari-kotoran-sapi/)

Share this: