Oase di Tengah Gersangnya Tanah Banyumeneng

22 Agustus 2013

Karya ini mejadi pemenang ketiga Green Competition 2013 kategori Feature Writing. Karya tidak berhubungan dengan program BIRU.

Oleh Eli Kumolosari

Gemerisik suara daun terdengar berfrekuensi rendah pagi itu. Kaki tua yang menginjaknya terlihat lambat sekali bergerak, bahkan sesekali berhenti untuk terengah. Mbah Parjo, panggilan akrab lelaki tua ini, menjadikan kegiatan paginya ini rutinitas sejak puluhan tahun yang lalu. Yah, terkadang alam sangat baik dengan memberinya air dari langit yang bisa dia tampung di penampungan air di depan rumah mungilnya, atau biasa disebut PAH (penampungan air hujan). Itupun hanya akan bertahan satu bulan pertama musim kemarau dengan penggunaan minimal. Lebih lagi ketika alam sedang memberinya cobaan, ratusan, bahkan ribuan meter harus ditempuhnya dengan menggendong sebuah jirigen besar berisi air dari sumber air Kaligede. Tanah tempatnya berpijak selama puluhan tahun ini merupakan tanah karst yang sulit menyimpan air. Kondisi ini juga terjadi hampir di seluruh wilayah pegunungan di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kabupaten Gunungkidul dan sebagian wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul.

Kaligede menjadi satu-satunya sumber pengharapam sebagian warga Dusun Banyumeneng I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul akan air ketika kemarau tiba. Tetapi, sumber kehidupan ini berjarak sekitar 1400 m dari pemukiman warga. Pada kenyataannya, ada juga PDAM di wilayah ini, namun tidak seluruh warga mendapatkan jatah dikarenakan letak tempat tinggalnya yang lebih tinggi dan lebih jauh dari yang lain. Beberapa yang tidak mendapatkannya, yaitu sekitar 52 kepala keluarga yang tersebar di 3 RT, harus bernasib sama seperti Mbah Parjo, menggendong atau memikul air ratusan meter sekedar untuk minum keluarga dan ternaknya. Untuk keperluan lain seperti mencuci, mereka akan datang langsung ke sumber.

Hampir seluruh warga Dusun Banyumeneng I menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, walaupun kebanyakan dari mereka memiliki mata pencaharian lebih dari satu, seperti buruh bangunan, pedagang, karyawan, dan lain-lain. Pada musim hujan, panen terbesar didominasi padi, sedangkan pada musim kemarau seperti itu, mereka menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti tembakau. Padi yang mereka panen di musim hujan harus mau bertahan hingga panen berikutnya, atau jika tidak, mereka harus membeli dari orang lain.

Melihat potensi yang ada di dusun ini, yaitu radiasi sinar matahari tahunan rata-rata sebesar 4,8 kWh/m2/hari, beberapa mahasiswa UGM berinisiatif untuk berpartisipasi pada ajang Mondialogo Engineering Award 2007 untuk memberikan jalan keluar bagi para pejuang pencari air di Dusun Banyumeneng I ini dengan cara mengajukan proposal pembangunan sistem pengangkatan air tenaga surya. Selain radiasi matahari yang memungkinkan, tenaga surya dipilih berdasarkan fakta bahwa jaringan listrik terdekat berjarak cukup jauh dari sumber, sehingga akan sulit untuk diupayakan. Selain itu, jarak stasiun pengisian bahan bakar juga jauh dan medannya tidak memadai untuk dilalui kendaraan roda empat, sehingga sistem pengangkatan air tenaga diesel pun juga menjadi sulit untuk diupayakan. Pada akhirnya, perjuangan para mahasiswa ini untuk membantu para pejuang air itu berhasil. Ajang yang dibiayai oleh UNESCO ini mereka menangkan. Dana sebesar 20.000 Euro siap mengalirkan air di dusun ini.

Tahun 2008, secercah harapan muncul ketika serombongan remaja datang ke wilayah mereka. Remaja-remaja tersebut adalah mahasiswa KKN-PPM UGM tahap I yang akan menetap di dusun mereka selama kurang lebih dua bulan. Merekalah yang akan bertanggungjawab merencanakan pembangunan sistem pengangkatan air tenaga surya atau solar water pumping system tersebut. Pembangunan ini bekerjasama dengan mahasiswa-mahasiswa dari Curtin University, Australia.

Bagi warga Dusun Banyumeneng I, pemanfaatan energi terbarukan seperti energi surya ini masih sangat asing, sehingga selain dilakukan perancangan, beberapa mahasiswa bertanggungjawab untuk mengadakan sosialisasi dan pelatihan perawatan sistem ini ke depannya. Tentu saja hal ini dimaksudkan agar sistem menjadi sistem yang sustain dan akan masih bisa dinikmati oleh anak cucu mereka kelak.

Juli 2009, yang merupakan bulan eksekusi sistem, mahasiswa KKN-PPM UGM tahap II dan warga bergotong royong membangun sistem dengan sangat antusias. Terlihat senyum sangat bahagia di balik kelelahan mereka. Akhirnya air akan semakin dekat.

Agustus 2009. Angin segar akhirnya berpihak pada warga Dusun Banyumeneng I. Sedikit demi sedikit air mulai mengalir ke tandon-tandon besar di sekitar rumah mereka. Ekspresi sangat bahagia terlihat dari raut wajah para pengambil air itu. Dengan membawa ember ataupun jirigen, jarak ratusan meter tidak lagi diperlukan. Hanya butuh beberapa langkah saja untuk menggapai sumber kehidupan itu.

Di kejauhan, terlihat sosok tua itu lagi. Masih di pagi yang cerah. Lagi-lagi dia menggendong sesuatu di punggungnya. Akan tetapi benda yang  kini digendongnya berbeda, seikat besar rumput untuk ternaknya. Kini waktunya yang berharga bisa dia manfaatkan untuk hal yang produktif. Di sisi lain terlihat seorang ibu yang sedang mulai menjemur hasil panen jagungnya. Di kemudian hari, semoga taraf ekonomi para warga itu meningkat.

Share this: