Kurangi Emisi dan Wujudkan Ketahanan Energi Melalui Biogas Rumah (Bagian 1)

29 Juli 2013

beritabali.com – Biogas merupakan salah satu energi ramah
lingkungan. Potensi biogas di Indonsia juga sangat besar. Selain sebagai
energi ramah lingkungan dan murah, pemanfaatan biogas juga memberi
kontribusi dalam upaya pengurangan gas emisi. Pada sisi lain,
pemanfaatan biogas akan berkontribusi bagi pengurangan pembuangan limbah
ke alam. Kenyataanya pemanfaatan biogas masih sangat terbatas di
Indonesia.

Wayan Sudarmi (37 tahun), seorang Ibu Rumah Tangga yang
melakoni usaha rumahan berupa pembuatan kripik tradisional berbahan
dasar beras kini menjadi salah satu warga yang menikmati manfaat
menggunakan biogas. Ibu dua anak yang berdomisili di Desa Rendang,
Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali tidak lagi merasakan
kendala yang berarti walaupun harga BBM dan LPG mengalami kenaikan.
Berbeda dengan ibu rumah tangga lainnya yang harus menata ulang
pengelolaan keuangan rumah tangganya akibat dampak kenaikan harga BBM
dan LPG.

Sejak memiliki reaktor Biogas Rumah (BIRU) di belakang
dapur mereka, dekat kandang babi peliharaan keluarga, mereka telah
berhasil mencapai penghematan biaya bahan bakar rumah tangga hingga
setara dengan 2 tabung LGP ukuran 12 kg tiap bulannya. Sudarmi
(29/7/2013) mengakui sejak menggunakan biogas mengalami peningkatan
keuntungan hingga 50% dari keuntungan normal yang mereka dapatkan selama
ini.

�Dulunya, kami membutuhkan LPG ukuran 12 kg antara 6 hingga 7
tabung. Namun sekarang, mereka cukup hanya membeli 3 hingga 4 tabung
saja setiap bulannya, � ujar Sudarmi.

Selain tidak lagi tergantung
dengan naik turunnya harga LPG di pasaran, keluarga ini pun sudah dapat
menikmati kembali segarnya udara sekitar karena aroma kotoran babi yang
selama ini mengurangi kesegaran udara tersebut telah berangsur
menghilang seiring diolahnya kotoran tersebut ke dalam reaktor BIRU
untuk dijadikan biogas.

�Biogas BIRU tidak hanya berguna untuk
bahan bakar memasak, namun juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar
lampu penerangan yang mirip petromak. Penghematan biaya listrik pun
akhirnya di dapat pula,�  tegas Wayan Sudana(37 tahun) suami Wayan
Sudarmi.

Keuntungan dari penggunaan biogas juga dirasakan seorang
pengusaha ternak babi asal Sanur, I Nyoman Brandi (56 tahun).
Menurutnya, dengan memanfaatkan kotoran ternak babi menjadi biogas, ia
kini tidak lagi dikompalin oleh masyarakat karena pembuangan kotoran
ternak ke saluran perairan. Dengan pemanfaatan kotoran ternak babi
menjadi biogas juga sangat membantu dalam melakukan efisiensi penggunaan
energi.

“Hampir 50 persen kami bisa menghemat daripada energi
yang kami siapkan, kalau semula tanpa ada biogas dari kayu kami beli,
kayu bakar dan juga elpiji, kalau kayu bakar tidak mungkin kita dapatkan
sekarang gratisan, sekarang itu sudah tidak, kami bisa memanfaatkan
biogas,� ungkap I Nyoman Brandi.

Brandi menambahkan masyarakat
masih kurang berminat memanfaatkan biogas karena tingginya biaya
pembangunan instalasi biogas yang mencapai Rp. 7,5 juta hingga Rp. 10
juta untuk satu instalasi biogas. “ketika memulai membangun instalansi
yang sangat berat, bagi masyarakat menengah kebawah biayanya sangat
tinggi,� paparnya.

(Sumber:
https://www.beritabali.com/read/2013/07/29/201307290008/Kurangi-Emisi-dan-Wujudkan-Ketahanan-Energi-Melalui-Biogas-Rumah-1.html)

Share this: