Program Biogas di Bali Diperluas

2 Mei 2013

Program yang
menyediakan digester biogas untuk rumah tangga di Bali akan diperluas ke
seluruh kabupaten di pulau ini, berkat adanya dukungan kuat dari pemerintah
kabupaten dan LSM-LSM lokal.

Gde Suarja, koordinator
program Yayasan Rumah Energi (YRE) untuk Bali – yayasan yang bertanggungjawab
untuk mengimplementasikan program, ujarnya baru-baru ini bahwa yayasan ini
telah menentukan target pemasangan 500 digester di seluruh Bali menjelang akhir
tahun.

“Pada saat ini,
405 unit telah terpasang di 39 kecamatan di sembilan kabupaten.  Kita telah menentukan target untuk memasang
500 unit dengan merangkul lebih banyak lagi desa di seluruh kabupaten, dengan
dukungan dari pemerintah daerah dan LSM-LSM,� ujarnya.

“Kami juga telah mendapatkan
dukungan yang lebih besar dari kementrian, yang telah memberikan alokasi
pendanaan khusus untuk beragam skema pengembangan energi terbarukan berbasis
desa tahun ini, termasuk program BIRU ini. 
Oleh karena sejak tahun lalu, Badan Lingkungan Hidup di
kabupaten-kabupaten Badung, Gianyar, dan Karangasem bahkan telah memberikan
subsidi penuh untuk beberapa desa,� ujar Suarja.

Setelah dimulai
pada tahun 2009, program ini telah memberikan manfaat pada ratusan keluarga,
khususnya petani dan peternak, oleh karena program ini memungkinkan mereka
untuk mengubah limbah ternak menjadi gas yang ramah lingkungan untuk penggunaan
rumah tangga.

Program, yang
dikenal sebagai Program Biogas Rumah Indonesia, atau dikenal masyarakat lokal
sebagai ‘BIRU’ (singkatan ‘Biogas Rumah’) bertujuan untuk mendistribusikan
bio-digester rumah sebagai sumber energi di tingkat lokal dan bekerlanjutan
untuk rumah tangga dan diharapkan menjadi solusi untuk manajemen limbah ternak
yang lebih baik.

Program ini
dilaksanakan di sembilan provinsi di seluruh negeri:  Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.

Program ini
didanai oleh pemerintah Belanda dan dirancang serta diimplementasikan
bekerjasama dengan Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi
pada Kementrian ESDM dan YRE.  Dengan
dukungan dari pemerintah, YRE mengembangkan kemitraan dengan pemerintah daerah
di tingkat provinsi dan kabupaten, LSM, dan pihak swasta.

Di Bali, YRE telah
membangun kemitraan dengan tujuh LSM lokal: Yayasan Asosiasi Organik Bali,
Yayasan Manikaya Kauci, Yayasan IDEP Selaras Alam, Yayasan Padma Bhakti
Pertiwi, Koperasi MUK, di samping juga kelompok tukang Tukang Abadi dan
kelompok tukang Dewata.

Suarja menjelaskan
405 rumah tangga, kesemuanya adalah petani atau peternak, dimana mereka telah
memasang digester biogas di halaman belakang. 
Untuk memproduksi biogas, mereka memerlukan sekitar 20 hingga 40
kilogram limbah ternak, yang dimasukkan ke dalam wadah dan kemudian dihubungkan
ke digester melalui pipa.

Disamping
menggunakan biogas untuk memasak dan memberikan penerangan di rumah-rumah
mereka, mereka juga dapat menggunakan ampas biogas (ampas yang dihasilkan dari
proses) sebagai pupuk organik untuk lahan pertanian.

Pada fase awal
program, beberapa rumahtangga berpartisipasi melalui skema pembiayaan
swadaya.  Biayanya mencapai Rp 7,5 juta
(USD 771) untuk memasang digester dan semua perlengkapan di rumah-rumah mereka.  Mereka juga mendapatkan bantuan teknis dari
para mitra lokal YRE di masing-masing kabupaten.

Namun demikian,
oleh karena tidak semua keluarga mampu untuk memasangnya, YRE bekerjasama
dengan pemerintah daerah di masing-masing kabupaten untuk memberikan subsidi
untuk memungkinkan rumah tangga-rumah tangga itu mendapatkan fasilitas di bawah
sistem urun biaya.  Suarja berujar.

Yayasan ini juga
akan mendorong koperasi di desa-desa untuk menyediakan sistem pinjaman untuk
mendukung lebih banyak rumah tangga untuk bergabung dalam program ini.

Di bawah program
ini, para petani mendapat bantuan melalui akses kepada kredit mikro melalui
koperasi bersama sektor perbankan, termasuk Rabobank Foundation, yang telah
berkomitmen untuk menyalurkan pinjaman pada tingkat bunga yang terjangkau.

Pinjaman tersebut
mencapai € 1,5 juta dan untuk koperasi peternak dan organisasi mitra penyalur
pinjaman untuk keperluan investasi di bidang fasilitas biogas.

Beberapa penduduk
desa berbagi pengalaman mengenai manfaat yang mereka dapatkan dari program
tersebut, baik untuk rumah tangga mereka maupun untuk peternakan mereka.

Mangku Sumantra,
seorang peternak ayam petelur di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem,
telah mendapatkan manfaat dengan memanfaatkan limbah ternaknya sejak bulan
Oktober tahun lalu.  “Keluarga kami dapat
menggunakan gas yang dihasilkan oleh digester untuk memasak dan tenaga listrik
hingga 6 jam,� ia berujar.

Ketut Suwena,
seorang peternak sapi yang juga memiliki kebun buah di Payangan, Gianyar,
berkata bahwa ia tidak lagi bergantung pada pupuk non-organik oleh karena
sekarang ia dapat menggunakan ampas biogas yang dihasilkan oleh digester biogas
sebagai pupuk organik untuk kebunnya.

“Saya dapat
menghemat banyak uang oleh karena saya tidak harus membeli pupuk lagi.  Dan satu hal lagi yang bermanfaat ialah bahwa
ampas biogas dapat membantu pemulihan kondisi tanah sehingga meningkatkan hasil
tanaman.�

Sumber:  Koran Bali

Share this: