Masak Plecing Lebih Cepat Pakai Biogas

4 April 2013
Muslimah, 43, berjualan plecing kangkung setiap hari. “Masak plecing pakai biogas, lebih cepat matang. Rasanya juga sama, tidak ada bedanya dengan pakai kayu bakar atau minyak tanah.”

Jarum jam mengarah pada angka 4. Jam empat dini hari. Kebanyakan penduduk Dusun Kemuning, Kabupaten Lombok Barat, masih terlelap tidur. Namun tidak bagi Muslimah. Perempuan berumur 43 tahun ini sudah sibuk di dapur, menyiapkan plecing lontong dagangannya. “Saya dagang setiap hari, tidak pernah libur kecuali jika sakit. Hasilnya lumayan untuk tambahan penghasilan,” katanya sambil tersenyum.

Muslimah telah tinggal di dusun itu selama lebih dari 20 tahun. Ia tinggal bersama suaminya, Fauzi (51), yang berprofesi sebagai pengurus pasar dan petani. Lelaki ini juga Ketua Kelompok Tani “Patut Patuh Pacu” yang beranggotakan 90 orang. Mereka memiliki empat orang anak: Ahmad Januardi (25), Juniati (24), Sukamdani (20), dan Nurhidayah (19).

Setiap hari, perempuan asli Lombok itu memulai dan mengakhiri harinya dengan memasak. Dini hari, ia memasak sayur-sayuran segar untuk bahan plecing, sedangkan malam hari sebelum tidur, ia memasak lontong untuk keperluan dagang esok hari. Semua dilakukan dengan senang hati, karena baginya bekerja bukan sebuah paksaan.

Muslimah memperhitungkan semua pengeluaran dan pemasukan dengan teliti, termasuk pengeluaran untuk kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak lontong. Dengan modal 30 ribu untuk beras, sayuran dan kayu bakar, ia bisa menjual sekitar 130 bungkus. Harga jualnya bervariasi tergantung isi paket lontong mulai dari Rp. 500 (hanya kangkung) hingga Rp. 2.000,- (lengkap dengan lontong) per bungkus. Dari hasil berjualan plecing di pasar tradisional dekat rumahnya, ia mendapat laba bersih sekitar Rp 40-50 ribu per hari.

Muslimah memasak di dapur kecil di samping rumahnya. Umumnya, penduduk di Lombok memasak dengan kayu bakar atau elpiji atau kombinasi keduanya. Namun di dapur Muslimah, ia juga memiliki kompor biogas.

“Awalnya dikasih tahu bapak (suami) bahwa masak lauk dan nasi bisa pakai tahi sapi. Saya tidak percaya bagaimana tahi sapi bisa jadi gas,” kata perempuan itu sambil tersenyum malu. “Lalu bapak mengajak saya melihat ke reaktor yang sudah jadi. Setelah melihat langsung, saya jadi percaya.”

Desember 2011, reaktor biogas dibangun di belakang rumah Muslimah. Sejak pakai biogas, ia menghemat pengeluaran dari bahan bakar. Kini di pagi hari, Muslimah memasak sayur-sayuran dengan kompor biogas. “Masak plecing pakai biogas, lebih cepat matang,” katanya. “Rasanya juga sama, tidak ada bedanya dengan pakai kayu bakar atau minyak tanah.”

Meski sudah memiliki biogas, Muslimah masih tetap menggunakan kayu bakar untuk memasak lontong di malam hari. Ini disebabkan biogas yang diproduksi tidak cukup untuk memasak lontong yang memerlukan waktu masak yang lama hingga sekitar 3 jam. Namun, ia masih merasa lebih untung pakai biogas. Dulu ia biasa membeli tiga tabung elpiji berukuran 3 kg setiap bulan untuk memasak ditambah dengan kayu bakar yang ia beli atau cari sendiri di kebun sekitar rumahnya. Biaya rutin yang ia keluarkan untuk semua bahan bakar itu mencapai sekitar Rp. 170.000 per bulan. Setelah ada biogas, pengeluarannya untuk bahan bakar menurun menjadi hanya Rp. 65.000 per bulan.

Selama ini, hasil penjualan plecing lontong cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Kadang-kadang, sisa uang ia tabung untuk keperluan lain. Muslimah ingin anaknya kelak menjadi orang yang sukses dan berpendidikan baik. “Dari menabung hasil jualan plecing, anak pertama saya sekarang bisa kuliah,” katanya bangga sambil tangannya gesit membungkus plecing dengan daun pisang. Ahmad Januardi, anak pertamanya kini kuliah jurusan Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Kabupaten Lombok Timur.

Di Dusun Kemuning, Desa Banyu Urip, Gerung, Kabupaten Lombok Barat, terdapat sekitar 10 keluarga yang sudah menggunakan biogas sebagai bahan bakar rumah tangga. Reaktor dibangun oleh Program Biogas Rumah (BIRU) dengan tambahan bantuan dari pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan perawatan sederhana, reaktor yang terbuat dari beton ini bisa terus berfungsi hingga 20 tahun.

Share this: