Biogas bagi Negeri Padang Sabana

18 Februari 2013

National Geographic Indonesia – Sumba tampil sebagai kandidat
yang ideal energi terbarukan. Selain dari sumber daya air, angin, serta
surya, juga satu tidak kalah penting: energi dari biogas.

Memang
Sumba adalah “Negeri Padang Sabana”. Disebut demikian karena di pulau
yang iklimnya kering ini ada areal padang sabana seluas 465 ribu
hektare. Pada 2012, total populasi ternak di pulau ini mencapai 121 ribu
ekor. Oleh karena itu Hivos telah mengelola suatu program yang
dinamakan “BIRU” (Biogas Rumah). Dalam program BIRU, biogas ini pun
kemudian diterapkan untuk kalangan rumah tangga di wilayah pedesaan.

Frans
Hebi (65), ialah seorang pensiunan guru di Desa Kabur, Kecamatan
Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Selama setahun penuh sejak Februari
2012, Frans dan istrinya Elisabeth Rendi (60), mencukupi kebutuhan
energi menggunakan bahan bakar biogas dari kotoran ternak babi mereka.

Keluarga
Frans Hebi hanya satu contoh dari banyak keluarga lainnya yang
memanfaatkan biogas yang dihasilkan reaktor untuk memasak dan
penerangan. Hingga akhir tahun yang lalu, telah dibangun 100 unit biogas
digester di rumah-rumah warga, sebagian besar berasal dari peternak
babi dan sapi yang mayoritas ditemukan di Sumba.

Koordinator
Program BIRU serta Penghubung Hivos di Sumba-NTT, Adi Lagur, mengatakan
pemakaian biogas unggul karena bisa lebih ekonomis, modern, dan sehat.
“Karena dapur dan kandang ternak lebih bersih dan sehat. Sementara
ekonomis karena dengan biaya murah Anda bisa punyak pabrik gas dan pupuk
sendiri,” katanya.

Bio-slurry

Kalimat terakhir yang
dikemukakan oleh Adi Lagur, mengungkapkan, dengan kehadiran BIRU,
peternak rupanya bisa menemukan manfaat lain. Ampas biogas atau
bio-slurry,yang tersusun dari kotoran ternak terfermentasi, jika diolah
dengan benar dapat berfungsi untuk pupuk organik yang menyuburkan tanah.

“Tanah
yang diberi bio-slurry menjadi lebih gembur. Serta mudah mengikat
nutrisi dan air,” terang Adi. Bio-slurry tidak saja menyediakan bahan
organik dan nutrisi yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman, tapi juga
membawa mikroorganisme probiotik, yang antara lain mikroba pengomposan,
mikroba penambat nitrogen, mikroba pelarut fosfat, dan sebagainya.

Setelah
keluar dari outlet penyimpanan limbah di reaktor, bio-slurry cair
(basah) perlu diendapkan selama kurang lebih satu minggu di lubang
penampungan yang ternaungi, tertutup. Ini dilakukan supaya menghilangkan
gas yang tidak baik bagi tanaman maupun ternak. 

Bio-slurry
dapat digunakan langsung pada tanaman jika tidak berbau atau
tidak/sedikit mengandung gelembung gas. Pemanfaatan bio-slurry bisa pula
sebagai campuran pakan ikan, belut, cacing tanah, dan unggas.

(Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/02/biogas-bagi-negeri-padang-sabana)

Share this: