Warga SBD Beralih ke Biogas

9 Juli 2012

Pos Kupang – Minggu, 24 Juni 2012 | 19:31 WITA

POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA – Warga Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), kini mulai meninggalkan bahan bakar minyak tanah untuk urusan memasak. Mereka perlahan beralih menggunakan biogas dengan alasan untuk menghemat biaya hidup. Saat ini warga setempat tidak perlu membeli minyak tanah, tetapi cukup menyalakan kompor gas yang bersumber energi panas dari kotoran hewan seperti babi, kerbau,  sapi termasuk kotoran manusia.

Warga tidak perlu khawatir terhadap ancaman ledakan tabung gas, sebab cara kerjanya ramah lingkungan. Kotoran hewan yang terkumpul mengalir masuk ke dalam gester (reactor biogas/bak penampung). Dan  secara otomatis diolah dan menghasilkan gas untuk kebutuhan masak dan energi untuk penerangan listrik.

“Dengan digester ukuran 12 m3 x 5 m3, seorang ibu rumah tangga dapat memanfaatkan konfor gas sepuasnya untuk memasak. Hadirnya biogas ini dapat memberikan keuntungan ganda bagi masyarakat yakni menghasilkan energi gas untuk memasak, energi listrik dan limbahnya untuk pupuk tanaman pertanian rakyat,” jelas Direktur Yayasan Donders Weetabula, Pater Mikael Keraf, C.Ss.R kepada Pos Kupang di Desa Weelonda, Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Selasa (19/6/2012).

Pater Keraf mengajak Pos Kupang menyaksikan biogas hasil karya Yayasan Donders bekerja sama dengan Hivos di kediaman Agustinus Deta Rihi di depan SMA Seminari Sinar Buana Weetabula.

Agustinus Deta Rihi saat itu mengatakan, hampir sebulan terakhir ini, pihaknya tidak lagi membeli minyak tanah ataupun kayu api untuk kebutuhan memasak. Karena sudah memiliki kompor gas. “Awalnya kaami tak percaya kalau kotoran babi diolah dan menghasilkan gas dan penerangan listrik. Tapi saat ini  kami merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Yayasan Donders Weetabula yang telah memberi sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi kebutuhan gas dan penerangan listrik untuk kami,” kata Deta Rihi.

Khusus penerangan listrik, lanjut Deta Rihi,  hanya dimanfaatkan bila lampu penerangan listrik PLN padam. Kehadiran biogas ini memberikan manfaat besar, karena bisa menghemat dana untuk membeli minyak tanah ataupun kayu api untuk kebutuhan memasak.

Pater Keraf menambahkan, hampir setahun terakhir ini pihaknya mengembangkan program biogas, karena potensinya cukup besar. Rakyat SBD umumnya memiliki ternak dalam jumlah banyak. Potensi itu diolah dan bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat. Sampai sekarang, sudah 23 rumah tangga telah memiliki biogas yang tersebar di wilayah Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Loura, Tambolaka dan Kodi Utara.

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/

Share this: