“Berkat BIRU, Rejeki Saya Tak Pernah Putus”

1 Juni 2011
Subarudin, 46, tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Dusun Plengsengan, Desa Medowo Kec. Kandangan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. “Kalau semua pekerjaan di desa ini sudah selesai, saya mau membangun reaktor biogas di desa-desa lain”.

Lelaki itu duduk bersandar di dinding rumah bata sambil memegang cangkul. Bajunya terlihat basah oleh keringat. Matanya sesekali melirik, memandang puas ke bangunan reaktor setengah jadi yang baru dikerjakannya. “Ini adalah reaktor biogas rumah ke-30 yang saya bangun. Bangunannya terbuat dari beton; kuat dan tahan lama.”

Subarudin, 46, tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Dusun Plengsengan, Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang merupakan provinsi terpadat kedua setelah Jawa Barat dengan populasi penduduk 37,4 juta jiwa atau lebih dari dua kali populasi Negara Belanda. Lelaki ini telah berprofesi sebagai tukang bangunan selama sekitar dua dekade. Kebanyakan ia membuat bangunan dari batu bata, terutama rumah tinggal.

“Saya sudah pernah tahu cara bangun reaktor biogas sebelumnya, tapi struktur bangunan BIRU berbeda. Menggunakan bahan-bahan lokal, bangunan reaktor ini sederhana namun kuat,” kata lelaki yang pernah mengenyam pendidikan teknik konstruksi di Sekolah Teknologi Negeri di Blitar, Jawa Timur.

Subarudin pertama kali mengenal teknologi biogas pada tahun 2006 saat program biogas pemerintah Indonesia dilaksanakan di daerah tersebut. Pada bulan Juni 2010, ia bergabung dengan program BIRU sebagai tukang biogas di bawah manajemen KUB Sami Mandiri, Dodol, Kecamatan Kasembon, Malang. Memiliki lebih dari 800 anggota, koperasi yang berdiri tahun 1986 ini merupakan salah satu mitra pembangun BIRU di Jawa Timur. Koperasi ini memanfaatkan sumber pembiayaan dari Unit Simpan Pinjam mereka dan bantuan finansial dari perusahaan makanan yang berbasis di Swiss, Nestle, untuk mendukung implementasi program biogas di daerah mereka.

Subarudin mendapat pelatihan dari program BIRU untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai tukang dan memastikan kualitas konstruksi reaktor biogas memenuhi standar. Bahkan dengan pengalaman yang luas sebagai tukang bangunan, Subarudin mengakui banyak hal baru yang ia pelajari dari program BIRU. “Saya sekarang tahu cara membuat cetakan, menguji kebocoran pipa dan banyak lagi.”

Tak hanya membangun reaktor biogas, program BIRU juga meningkatkan kapasitas para mitra konstruksi dan individu peserta program untuk mendukung pengembangan sektor biogas berkelanjutan di Indonesia.

“Dengan cara ini, perlahan tapi pasti, sektor biogas yang mandiri di Indonesia akan terbentuk, dan akan lebih banyak reaktor biogas dibangun setiap bulan,” kata Rob de Groot, Programme Manager Hivos untuk Biogas Rumah.

Dimulai pada bulan Mei 2009, Hivos, sebuah organisasi non-pemerintah asal Belanda melaksanakan program BIRU dengan dukungan teknis dari SNV. Program ini bertujuan untuk menghasilkan biogas dan memperluas pasar di Indonesia. Pada November 2009, program ini mulai dilaksanaan di Jawa Timur dan mencakup 11 kecamatan dan empat kabupaten. Hingga akhir Mei 2011, program ini telah berhasil membangun lebih dari 2.600 unit reaktor biogas rumah di Indonesia, lebih dari 2.300 unit diantaranya berada di Jawa Timur.

Bukan sekedar mendapat pengetahuan baru, pendapatan bulanan Subarudin juga bertambah. Antrian panjang pembangunan reaktor BIRU menjadikan profesinya tak lagi paruh waktu. Artinya, penghasilan yang didapat juga terus menerus – sesuatu jarang dialami pekerja bangunan sepertnya.

Menurut lelaki itu, upah kerja membangun rumah biasa dan reaktor BIRU pada dasarnya sama. Bedanya, selalu ada permintaan untuk pembangunan biogas rumah. “Dengan BIRU, rejekinya gak pernah putus,” katanya. “Seperti sekarang, reaktor ini belum selesai, yang lain sudah antri. Kalau semua pekerjaan di desa ini sudah selesai, saya mau membangun reaktor biogas di desa-desa lain.”

Dulu, Subarudin mendapat penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan dari profesinya sebagai tukang. Sekarang, penghasilan bulanannya bertambah hingga menjadi Rp. 2 juta rupiah per bulan. Selain itu, ia juga mendapatkan penghasilan tambahan dari sapi perah dan hasil kebun taninya.

“Uangnya saya tabung untuk masa depan anak-anak.”

Share this: