Program BIRU: Solusi Sumber Energi Murah sekaligus Memperbaiki Kualitas Lingkungan

3 Maret 2011

Program biogas rumah (BIRU) sebagai salah satu sumber energi lokal ramah lingkungan dan berkelanjutan di Lombok sudah berjalan sejak Agustus 2010. Dalam pelaksanaan program, BIRU Lombok telah menjalin kerjasama dengan tiga organisasi non-pemerintah lokal sebagai mitra pembangun (CPO: Construction partner Organization) reaktor biogas rumah; Pusat Studi Pembangunan (PSP) NTB, Yayasan Sumberdaya Lingkungan dan Pelestarian Pembangunan (YSLPP) dan Yayasan Mitra Membangun Masyarakat Sejahtera (YM3S) Lombok Timur. Hingga kini, ketiga lembaga tersebut telah membangun sekitar 81 unit biogas rumah dalam enam bulan terakhir.

Konsisten dengan pendekatan multipihak yang dilakukan sejak awal, Program BIRU kembali mengadakan pertemuan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait di tingkat provinsi dan kabupaten di Lombok, yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara. Diharapkan� dalam pertemuan ini, kemajuan dan berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pengembangan sektor komersial biogas yang berorientasi pasar dapat didiskusikan bersama..

Dari segi capaian program, hasil yang diraih selama enam bulan aktifitas BIRU di Lombok cukup membanggakan. Berbagai upaya memperkenalkan program BIRU dan manfaat biogas, yang dilakukan oleh lembaga—lembaga mitra serta tim BIRU cukup berhasil membangkitkan animo masyarakat untuk mengetahui manfaat biogas rumah sebagai sumber energi (gas rumah tangga) dan pupuk organik. Hingga Februari 2011, sebanyak 81 warga Lombok telah membangun dan merasakan manfaat biogas rumah; kebanyakan berdomisili di Lombok Tengah, sementara 27 orang sedang dalam tahap pra-konstruksi.

Selain menjadi solusi energi yang murah bagi masyarakat, pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas berdampak positif terhadap lingkungan. Limbah akibat kotoran sapi mulai berkurang dan sumber polusi udara bisa dikurangi. Selain itu, kotoran sapi yang telah mengalami fermentasi dalam kondisi an—aerobik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik pada tanaman pekarangan maupun pertanian. Ampas dari proses ini, disebut ampas bipgas (bio-slurry), mengandung berbagai unsur yang diperlukan oleh tanaman, seperti unsur N, P dan K; yang merupakan unsur hara utama dalam proses pertumbuhan. Bio-slurry juga memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan daya ikat air tanah, yang pada gilirannya memperbaiki kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Share this: