Belanda Kembangkan Biogas di Sumba

13 Januari 2011

Hivos, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Belanda mengembangkan biogas dan tenaga angin di Pulau Sumba. Sumba sangat cocok untuk pengembangan dua energi itu karena merupakan daerah kering yang berbukit dengan padang sabana yang cocok untuk perkembangbiakan ternak besar dan kecil. Potensi angin di pulau tersebut bisa dijadikan energi alternatif pembangkit listrik.

Hal ini dikatakan Programme Manager Hivos, Robert de Groot dan Coordinator Klimaat Energie dan Otwikkeling Hivos, Eco
Matser saat bertatap muka dengan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, di ruang kerjanya, Rabu (12/1/2011).

Groot mengatakan, Sumba cocok untuk pengembangan dua energi itu karena Sumba beriklim kering jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Sumba juga bergunung diselingi dataran-dataran sempit. Tanah bagian atas (topsoil) relatif tipis akibat struktur tanah yang berbatu dengan tutupan vegetasi, sehingga rentan erosi.

Hasil survai Hivos, kata Groot, di Sumba rawan penggundulan hutan untuk kepentingan kayu bakar sehingga perlu dicarikan energi alternatif untuk menyelamatkan lingkungan. Sedangkan topografi bergunung sangat potensial terhadap pengembangan energi pembangkit listrik. Langkah ini dilakukan untuk melayani kebutuhan akan listrik di daerah yang terpencil dan jarang penduduk.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengingatkan Hivos agar serius merealisasikan program pengembangan energi alternatif, listrik tenaga angin dan biogas. Di NTT, kata Lebu Raya, masih punya banyak masalah, antara lain kemiskinan, kekurangan pangan dan energi. Pemenuhan kebutuhan akan energi, katanya, baru 31 persen.

Gubernur menyambut baik dan mendukung kerja sama itu, asalkan serius. Diharapkan kehadiran program ini dapat mendukung pertumbuhan bidang pertanian dan peternakan. Biogas, kata gubernur, jelas mendukung pengembangan ternak sapi, kuda, kerbau dan ternak kecil lainnya.

Groot berjanji Maret ini pihaknya mulai action dan April sudah bisa beroperasi. Dia menjelaskan, Hivos masuk ke Indonesia sejak Mei 2009 di empat propinsi, termasuk NTT. Biogas, katanya, sangat mendukung program pelestarian dan pengembangan hutan, karena meminimalisir penebangan hutan untuk kebutuhan kayu bakar. (gem)

Panca Nugraha, 03/24/2011

Share this: