BIRU membantu komunitas yang terkena dampak letusan Gunung Merapi

1 Desember 2010

Lebih dari 300 ribu orang telah dievakuasi dari daerah-daerah yang terkena dampak dari erupsi Gunung Merapi, salah satu gunung berapi aktif di dunia, pada akhir bulan Oktober 2010. Muntahan lava dan abu dari gunung berapi tersebut tidak hanya merenggut 300 nyawa tetapi juga merusak tempat tinggal dan mata pencaharian masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang padat penduduk di propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Melalui organisasi mitra lokal yang beralokasi di kedua propinsi tersebut, BIRU merespon terhadap keadaan darurat dengan membantu untuk menyediakan kebutuhan� pokok penting bagi masyarakat sekaligus dukungan untuk merehabilitasi mata pencaharian warga yang terkena dampak dari gunung berapi tersebut.

Bekerjasama dengan Yayasan PALUMA, organisasi non-pemerintah lokal yang berfokuskan kepada Wanita, Anak-anak, Lingkungan, Mikro-bisnis dan Agribisnis, BIRU mampu mendukung 105 petani di 5 pedesaan di kabupaten Sleman, Yogyakarta melalui pemeliharaan sumber pendapatan mereka dengan merenovasi kandang-kandang ternak, menyediakan bantuan dan makanan yang cukup bagi ternak mereka.

Sedangkan di Kabupaten Magelang, BIRU bermitra dengan SAHANI – sebuah koperasi petani yang berfokuskan kepada petani kecil, pengrajin dan para penyandang cacat ganda, untuk mendukung 665 keluarga yang merupakan anggota dari koperasi di dua kecamatan yaitu Kecamatan Srumbung dan Dukun, Kabupaten Magelang, DI Yogyakarta. Para keluarga akan menerima bantuan non-pangan yang berupa selimut, obat-obatan, tenda-tenda dan peralatan yang dibutuhkan untuk membersihkan rerumputan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan sumber makanan bagi ternak mereka.

“Bencana Gunung Merapi berdampak luas kepada masyarakat di daerah sekitarnya, tidak hanya pada saat terjadi bencana namun juga setelah bencana berlalu. Dengan membantu masyarakat dalam merehabilitasi mata pencaharian mereka berarti kita membantu masyarakat bangkit kembali, dan memperkuat sektor produksi susu di daerah tersebut,” kata Rob de Groot, Manajer Program BIRU. “Dengan cara ini, masyarakat akan lebih berdaya.”

Sebagai bagian dari perwujudan Respons Darurat Merapi HIVOS, Program Biogas Rumah Indonesia (BIRU) mengalokasikan EUR 120,000 untuk masyarakat yang dampak letusan gunung Merapi di DI Yogyakarta. Dimulai pada May 2009, Program BIRU telah berjalan di 7 propinsi seluruh Indonesia; Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Bali dan Nusa Tenggara Barat (Lombok) dan bertujuan membangun 8,000 reaktor biogas rumah pada tahun 2012.

Biogas Rumah (BIRU) dikelola dan dilaksanakan oleh Hivos (Institut Kemanusiaan untuk Kerjasama Pembangunan) dengan dukungan teknis dari SNV (Netherlands Development Organization) dan kerjasama dengan beberapa organisasi lokal dan nasional. Program ini didanai sepenuhnya oleh Kedutaan Besar Kerajaan belanda di Jakarta, dan didukung oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Share this: