Kotoran Sapi Bisa Jadi Alternatif BBM

16 April 2010

Radar Solo – Tidak banyak yang tahu, jika kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak. Selain untuk pupuk, kotoran sapi ternyata bisa dibuat biogas.

Kepala Subdin Energi Pedesaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Dr Dadan Kusdiana mengatakan, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari masyarakat, jika menggunakan biogas rumah dengan kotoran sapi. “Selain untuk mengurangi polusi di lingkungan masyarakat, juga mengurangi emisi gas rumah kaca,� terangnya.

Dikatakan bahwa saat ini di Jawa Tengah baru ada di Boyolali, mengingat masyarakatnya sebagian besar sebagai peternak sapi. Sehingga dengan mudah membuat biogas untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak. “Dengan memanfaatkan kotoran sapi yang dimiliki, warga mampu mendistribusikan biogas untuk keperluan memasak sehari-hari� ujarnya.

Program ini nantinya akan terus dikembangkan di setiap daerah yang populasi sapinya tinggi. Selain di Jawa, biogas dengan kotoran sapi akan dikembangkan ke luar Jawa. “Untuk sapi yang digunakan tidak perlu banyak, bisa 3 – 4 ekor saja,� ungkapnya.

Dadang menjelaskan, gas yang tercipta dari kotoran sapi tersebut disalurkan menggunakan pipa ke dapur rumah warga. Sedangkan ampas kotoran, bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Bahkan, biogas kotoran sapi tidak mengeluarkan bau apapun, khususnya pada masakan yang diolah. “Saya optimis akan banyak masyarakat yang menggunakan biogas ini,� jelasnya.

Sementara Programe Manager Biogas Rumah (BIRU) Robert de Groof mengatakan, selain dimanfaatkan untuk gas, limbah pada hasil penguapan ini bisa digunakan untuk pupuk tanaman. Sehingga tidak ada yang terbuang dengan percuma. “Gas yang dihasilkan biogas sama dengan elpiji karena tidak berbau. Sehingga sangat digunakan untuk memasak,� terangnya.

Metode yang digunakan dengan menampung kotoran ternak tersebut dalam suatu bak penampungan. Setelah itu, kotoran dicampur dengan air dan diaduk. Perbandingannya satu ember kotoran dicampur dengan satu ember air. Dalam tabung plastik akan terjadi proses penguapan yang menimbulkan gas. “Dari tabung tersebut, gas dialirkan ke kompor dan selanjutnya siap digunakan. Sebelum masuk kompor ada semacam alat indikator yang berfungsi untuk mengetahui isinya,� jelasnya lagi. (wl/eti)

(Sumber: Radar Solo, 16 April 2010)

Share this: