Belanda Investasi 500 Juta Euro di KBB

4 Desember 2009

Harian Seputar Indonesia – Pemerintah Belanda melalui program
bantuannya menginvestasikan sekitar 500 juta euro untuk mengembangkan
energi terbarukan, khususnya energi biogas di seluruh dunia, termasuk
Indonesia.

Sebagian dari investasi tersebut diimplementasikan
Hivos dalam bentuk program Biru (Biogas Rumah), sebuah program yang
ditujukan untuk mengembangkan potensi sektor biogas di Indonesia.
Program yang dimulai Mei 2009 ini merupakan kerja sama antara The
Netherland Embassy, Hivos, SNV, dan Kemneterian Energi dan Sumber Daya
Mineral Indonesia.

Kerja sama ini menargetkan pengembangan
sektor biogas dengan konstruksi 8.000 unit reaktor di enam provinsi di
Indonesia. Peluncuran proyek biogas contoh dari kotoran sapi bantuan
Belanda ini kemarin dilakukan di rumah ketua Koperasi Peternak Susu
Bandung Utara (KPSBU) Dedi Setiadi di Kampung Pamecalan, Desa Suka Jaya,
Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hadir dalam
peluncuran itu adalah Kepala Divisi Ekonomi dan Perdagangan Kedutaan
Belanda di Jakarta Renate Th Pors, Direktur Hivos untuk Asia Tenggara
Ben Witjes, dan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi
dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ratna Ariati. Kepala
Divisi Ekonomi dan Perdagangan Kedutaan Besar Belanda Renate Th Pors
Pors mengatakan, program Biru menggunakan bentuk reaktor kubah beton di
Indonesia karena ketahanannya.

Desain jenis ini sudah
digunakan di Nepal dan dapat bertahan lebih dari 20 tahun. Dengan
penanaman reaktor ini di dalam tanah, tidak akan menghabiskan tempat di
permukaan. Dengan 3- ekor sapi, peternak dapat menggunakan reaktor enam
meter kubik. Dengan volume sebesar itu, biogas dapat digunakan selama
enam jam dengan biaya konstruksi hanya berkisar Rp 6,5 juta.

Hivos
juga mendukung perusahaan konstruksi yang dilibatkan dengan mengadakan
pelatihan pekerja konstruksi untuk dapat membangun reaktor kubah beton
yang berkualitas dan tahan lama. Pelatihan telah diberikan kepada 54
tenaga konstruksi. Selain itu, untuk kerja sama awal, Hivos memberikan
subsidi sebesar Rp 2 juta untuk konstruksi. Diberikan subsidi diberikan
supaya peternak tertarik berinvestasi membangun reaktor biogas.

Dengan
berinvestasi, peternak diharapkan memiliki tanggung jawab untuk merawat
reaktor, hingga dapat terus digunakan dan bertahan lama. “Kami berharap
pelatihan dan subsidi yang diberikan bisa merangsang minat investasi
dan ketika program itu sudah tidak ada, mereka bisa merawat peralatannya
sendiri,� tuturnya.

Kerja sama yang sudah terjalin hingga
saat ini melalui program Biru di Pulau Jawa adalah Koperasi Agro Niaga
Jubung di Malang, Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan di Nongko
Jajar Pasuruan, Koperasi Unit Desa Mojosongo di Boyolali, dan Koperasi
Susu Sapi Perah Bandung Utara di Lembang. Hingga saat ini dari 112
aplikasi yang masuk, sudah ada 19 reaktor yang sedang dikonstruksi dan
ditargetkan hingga akhir 2009 ini ada 100 unit reaktor yang terpasang.

Direktur
Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi dari Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral Retno Ariati mengatakan, investasi biogas
ini awalnya memang cukup mahal. Tetapi dengan keuntungan 20 tahun ke
depan, pengguna tidak perlu mengeluarkan cost untuk gas, jika
dikalkulasikan akan sangat murah.

Apalagi dengan kondisi saat
ini, ketika minyak tanah makin mahal dan berkurangnya persediaan kayu
bakar. Hal ini telah mendorong berbagai pihak untuk menjalankan program
nasional dalam pengembangan sektor biogas di Indonesia. Biogas adalah
salah satu pilihan energi terbarukan yang memiliki potensi untuk
dikembangkan.

Saat ini di seluruh Indonesia sudah terdapat
sekitar 6.000 reaktor biogas. “Investasi ini awalnya memang terlihat
mahal karena perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp 6,5 juta, tapi kan
manfaatnya untuk 2 tahun yang akan datang.� (Adi Haryanto)

(Sumber: Harian Seputar Indonesia, Jumat 4 Desember 2009, halaman 5)

Share this: