Peternak Sapi Jatim Gunakan Reaktor Biogas

7 Juli 2011

MALANG, KOMPAS.com – Sebanyak 2628 peternak sapi di Jawa Timur, kini sudah mulai menggunakan energi alternatif melalui biogas yang dibangun skala rumah tangga melalui program Biogas Rumah (BIRU) yang dipelopori oleh organisasi nirlaba asal Belanda, HIVOS.

Organisasi nirlaba asal Belanda, HIVOS itu, akan terus mendorong para peternak sapi perah di Jawa Timur mandiri dalam penyediaan energi alternatif. Cara yang ditempuh adalah dengan memfasilitasi para peternak membangun biogas skala rumah tangga melalui Program Biogas Rumah (BIRU).

Menurut Wasis, koordinator Program BIRU untuk wilayah Jawa Timur, HIVOS memilih biogas sebagai energi alternatif, karena biaya pembuatannya yang murah dan bahan bakunya banyak tersedia di masyarakat.

“Ini berbeda dengan energi alternatif lain, seperti mikrohidro, panas bumi atau tenaga surya, yang membutuhkan biaya yang cukup mahal. Biogas lebih mudah dikembangkan oleh masyarakat,” katanya, Kamis (7/7/2011.

Saat ini, kata Wasis, sudah ada 2628 peternak sapi di Jawa Timur yang membangun biogas melalui Program BIRU. Program tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak November 2009 lalu. “Program BIRU mentargetkan bisa membangun sebanyak 3450 unit biogas di Jawa Timur. Kami optimis target ini terpenuhi karena minat peternak terhadap biogas sangat besar,” jelasnya.

BIRU katanya, sudah menggandeng lebih dari 15 koperasi sapi perah di 10 kabupaten di Jawa Timur. Koperasi itu antara lain Koperasi SAE Pujon Kabupaten Malang, Setia Kawan Nongkojajar Kabupaten Pasuruan, Sami Mandiri Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang, Sri Sedono Kecamatan Ngunut Kabupaten Blitar dan Sapi Jaya Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri.

“Konstruksi reaktor biogas atau digester program BIRU tersedia dalam ukuran 4 M3, 6 M3, 8 M3, 10 M3 dan 12 M3. Biaya pembuatan ukuran 4 M3 sekitar Rp 5,7 juta, 6 M3 sekitar Rp 6,3 juta, dan 12 M3 sekitar Rp 8,8 juta,” paparnya.

Program BIRU juga memberikan subsidi biaya sebesar Rp 2 juta untuk setiap digester. Sisa petani bisa membayar dengan cara mencicil melalui koperasi. “Selain itu, kami juga memfasilitasi koperasi mendapatkan kredit dari pihak lain, seperti PT Nestle Indonesia dan Bank Syariah Mandiri,” jelasnya.

Wasis menambahkan, ada tiga keuntungan para peternak memakai biogas, yakni bisa mengurangi biaya hidup, biaya produksi perternakan dan menghemat pendapatan. “Yang jelas, biogas itu bisa hemat energi dan bisa menjaga lingkungan sekitar,” katanya.

Sementara itu, menurut Manajer Koperasi SAE Pujon Kabupaten Malang, Supriono, anggota koperasi berminat membangun biogas, karena biayanya yang murah dan dapat diangsur. “Selain itu juga bisa menjadi solusi bagi para peternak untuk membuang kotoran ternaknya. Saat ini sudah ada 496 anggota yang mempunyai biogas Program BIRU itu,” katanya.

Para anggota koperasi yang sudah mempunyai biogas katanya, bisa tak lagi mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar minyak dan listrik. “Ini karena reaktor biogas ukuran 4 M3 bisa menggantikan elpiji ukuran 12 kilogram dan 100 watt listrik,” katanya.

(Glori K. Wadrianto)

Share this: