Saat orang berpikir tentang biogas, mereka menganggap kotoran sapi adalah sumber utama bahan bakar untuk menghasilkan biogas dan ampas biogas (bio-slurry).  Namun, kotoran ayam dapat juga menjadi sumber alternatif produksi gas, yang juga menghasilkan produksi biogas dan bio-slurry berkualitas.

Pak Slamet, warga Desa Kunden, Kabupaten Klaten di Jawa Tengah adalah seorang peternak 1.500 ekor ayam.  Ia mendapat keluhan dari rumah-rumah yang terletak tidak jauh dari peternakannya karena bau yang ditimbulkan kotoran ayam.  Pak Slamet mencari jalan untuk mengurangi tumpukan kotoran ayam agar baunya bisa berkurang.  Saat sedang mencari jalan keluar ini, ia melihat situs web Rumah Energi, yang menawarkan solusi alternatif untuk permasalahan yang dihadapinya.  Setelah melakukan penelitian tentang biogas, Pak Slamet bertemu dengan perwakilan Rumah Energi, dan hasil dari konsultasi tersebut adalah reaktor biogas kapasitas 6 m3 yang sesuai dengan kebutuhannya untuk mengelola limbah dan kebutuhan untuk menghasilkan biogas.

Ia membiayai secara mandiri pembangunan reaktor biogas dan sejak pembangunan pada bulan Februari 2017, ia tidak lagi membeli LPG karena reaktor biogasnya sudah memproduksi cukup gas untuk mengoperasikan tiga buah kompor gasnya yang berdaya tahan 5 jam sehari, serta memenuhi seluruh kebutuhan untuk memasak keluarganya.  Manfaat lain dari biogas ini adalah kemampuannya untuk menghasilkan pupuk organik bio-slurry berkualitas tinggi yang ia bagikan bagi masyarakat sekitarnya secara gratis.  Hal ini membawa manfaat langsung bagi lingkungan sekitar dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Awalnya, Pak Slamet ingin mengurangi bau yang ditimbulkan oleh kotoran ayam, namun ternyata ia memiliki sistem pengolahan limbah yang memproduksi cukup biogas yang berkelanjutan dan membantu masyarakat sekitar untuk mengurangi penggunaan pupuk kima.  Ia mendukung pemanfaatan biogas dan telah merekomendasikan biogas kepada kerabatnya dan anggota masyarakat sebagai cara berkelanjutan dalam menghasilkan gas untuk konsumsi sehari-hari.

Pak Tono, Warga Desa Kener, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang di Jawa Tengah adalah seorang peternak 10.000 ekor ayam.  Pak Tono mencari cara yang lebih baik untuk dapat memanfaatkan kotoran ayamnya.  Sebelum memanfaatkan biogas, pilihan satu-satunya adalah menjual kotoran ayam kepada masyarakat setempat atau membiarkannya menumpuk di bawah kandang dan menunggu hingga kotoran ayam tersebut terurai secara alami.

Pada tahun 2015, setelah bertemu dengan perwakilan Rumah Energi, ia memutuskan untuk membiayai pembangunan reaktor biogas berkapasitas 10 m3 dalam membantunya mengatasi persoalan pengelolaan limbah.  Untuk menjaga konsistensi pasokan biogas, ia menggunakan kotoran ayam yang dihasilkan dari 600 ekor ayam setiap tiga hari.  Setelah tiga tahun mengoperasikan reaktor biogas, ia tidak lagi membeli LPG karena reaktor biogas telah menyediakan semua kebutuhannya akan gas.  Sistem ini menghasilkan cukup biogas, sehingga memungkinkannya mengoperasikan empat buah kompor gas, tiga buah di rumahnya dan satu buah untuk karyawannya.  Ia memanfaatkan pupuk organik bio-slurry yang dihasilkan oleh reaktor biogas sebagai pupuk untuk lahan sawah miliknya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Pak Slamet dan Pak Tono memotivasi diri mereka sendiri untuk mencari solusi alternatif terkait pengelolaan limbah dan telah merasakan dampak pemanfaatan biogas, yang membantu kerabat, masyarakat, dan lingkungan.  Selain itu, karena inisiatif mereka, mereka secara langsung telah berkontribusi dalam mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosil dan membantu Indonesia mencapai target 23% bauran energi terbarukan sebelum tahun 2025. (Tim Hill)