Terletak di jantung wilayah Jawa Tengah kurang lebih 38 kilometer dari kota Semarang dan berada di lereng Gunung Ungaran, Kendalisodo, dan Telomoyo terdapat Danau Rawa Pening yang menakjubkan.  Danau ini terletak di Cekungan Vulkanik Ambarawa antara Ambarawa dan Salatiga, yang melingkupi area seluas 25 hingga 26,7 km2. Sebagai sumber perikanan dan irigasi untuk lahan pertanian di sekitarnya, danau ini juga memiliki fungsi penting sebagai pengendali banjir dan pembangkit listrik tenaga air untuk PLTA yang terletak tidak jauh dari situ.

Pada tahun-tahun belakangan ini, Danau Rawa Pening telah mengalami degradasi serius terkait kualitas dan kuantitas permukaan air tanahnya yang disebabkan oleh peningkatan pesat populasi penduduk, berubahnya fungsi lahan, dan erosi.  Salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi cekungan ini adalah meningkatnya sedimentasi yang mengalir ke danau itu sekitar 780 ton per tahun.  Kondisi ini disebabkan melimpahnya tanaman air yaitu eceng gondok (E. Crassipes) yang berkembang biak dalam jumlah besar di tanah gambut di bawah permukaan danau yang tampak seperti pulau-pulau yang terapung.

Keberadaan eceng gondok tidak hanya berdampak negatif pada kelestarian hewan-hewan air di dalamnya, namun juga sumber mata pencaharian bagi mereka yang bergantung dan memanfaatkan danau tersebut.  Eceng gondok menutupi sebagian besar permukaan danau ini, yang akhirnya menghalangi nelayan setempat untuk mengakses daerah-daerah perikanan dan mengganggu budidaya perairan yang ada maupun potensi budidaya perairan yang akhirnya merugikan ekonomi lokal dan mata pencaharian penduduk sekitar.  Keberadaan dari warung-warung terapung juga terancam oleh penyebaran tanaman air ini yang acapkali mendorong posisi warung-warung ini dan menghanyutkannya ke arah pulau-pulau enceng gondok yang menyebabkan warung-warung tersebut menjadi tidak seimbang dan berbahaya.  Apabila penyebaran tanaman air ini tidak dapat dikendalikan, para ilmuwan dari Universitas Diponegoro memperkirakan sebelum tahun 2021, danau ini akan mengering dan berubah menjadi ekosistem daratan.

Di sinilah pemerintah daerah, universitas, dan LSM-LSM seperti Rumah Energi bertindak dalam mengupayakan kelestarian danau dan melindungi mata pencaharian mereka yang bergantung pada danau.  Dana yang disediakan oleh Universitas Diponegoro di Semarang digunakan untuk membangun lima reaktor biogas untuk menyediakan sumber energi bagi rumah-rumah dan warung-warung yang berada di sekitar danau.  Reaktor biogas dirancang oleh Rumah Energi dan para mitranya dengan memanfaatkan eceng gondok untuk menghasilkan biogas skala rumah tangga yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kompor, menyalakan lampu, dan mengoperasikan generator serta peralatan rumah tangga lainnya.

Sudah hampir setahun reaktor biogas di sekeliling danau mulai dioperasikan dan kami cukup beruntung dapat mengunjungi salah satu lokasinya yang terletak tidak jauh dari tepian danau.  Reaktor-reaktor di daerah ini dibangun khusus untuk memanfaatkan eceng gondok dan terdiri dari dua inlet (wadah penampung campuran bahan baku biogas), tangka digester, sebuah pipa saluran keluar dan lubang penampung bio-slurry (ampas biogas) yang digunakan untuk keperluan pertanian, hortikultura, dan budidaya perairan.  Lokasi yang kami kunjungi tampak tidak seperti warung yang lain yang pernah saya lihat dan menunjukkan usaha tersebut dimiliki dan dijalankan oleh keluarga, suasana warung terdengar diwarnai suara anak-anak dan para pelanggan.  Mereka khusus menjual makanan tradisional seperti gado-gado yang terdiri dari nasi, sayur, dan bumbu kacang selain juga minuman hangat seperti teh melati dan kopi.

Namun, apa yang tidak terlihat, berbeda dari warung-warung lainnya, pemilik warung ini tidak lagi menggunakan LPG dan telah beralih seluruhnya ke biogas yang dihasilkan dari reaktor yang dimiliki oleh keluarga pemilik warung.  Untuk menghasilkan gas yang dapat bertahan antara 4 hingga 5 jam per hari, keluarga tersebut harus dapat mengumpulkan 10 kg eceng gondok dan memotong-motongnya sebagai persiapan sebelum difermentasi di tangka digester.  Hal ini mudah dapat dilakukan yaitu tumpukan eceng gondok yang diangkat setiap harinya oleh mesin yang dibiayai pemerintah dan ditumpuk dekat tepian danau.  Dengan adanya Program BIRU (Biogas Rumah), saat ini terdapat peluang bagi keluarga dan usaha warung untuk mengambil manfaat dari keberadaan tanaman ini dalam bentuk energi terbarukan sebagai sumber energi bersih.

Sungguh sangat menginspirasi menyaksikan bagaimana berbagai pihak seperti pemerintah daerah, universitas, dan LSM seperti Rumah Energi bekerja sama untuk memastikan keberlanjutan keberadaan danau dan masyarakat yang ada di sekelilingnya.  Keberhasilan program Rumah Energi di Danau Rawa Pening adalah bukti dari segi dampak positif yang dihasilkan pada warung dan masyarakat dengan mengubah tanaman yang awalnya menimbulkan masalah menjadi sumber energi terbarukan dan sumber pendapatan. Harapannya proyek dapat diterima oleh keluarga-keluarga yang lain di masa depan dan akan lebih banyak lagi lokasi reaktor biogas yang dapat dibangun yang tinggal di area itu. (Matthew Owen)